Iyyap!
keputusan terbesar dalam hidup mu adalah menikah dan tentunya memutuskan dengan
siapa kita akan menitipkan sisa hidup. Sulit memang. Cinta atau perasaan saja
tidak cukup, harus ada persiapan, persiapan saja tidak cukup harus ada
pemantapan, dan pemantapan itu baik dari materi maupun non materi, kalau materi
kadang absurd karena wacana “menikah jika sudah mapan” itu absurd, mending
kalau iya mapan, kalau sampe tua tapi ga mapan-mapan?? Hehe bukan menyepelekan
tapi itu true story dan terjadi pada beberapa beberapa orang disekeliling ku,
yang mereka akhirnya harus menikah di usia tua tanpa kemapanan apapun. Konsep
kemapanan sendiri di tiap orang memang berbeda, sampai mana orang dikatakan
sudah mapan? Apakah ketika sudah punya pekerjaan dengan gaji 10 juta? Ketika
sudah punya rumah? Ketika sudah punya kendaraan banyak??, jujur aku pun saat
ini memutuskan menikah jauh dari mapan, tapi aku ingat janji Allah :
“Bagi
kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian
sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak
cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (QS. An
Nahl (16):72)
“Rasulullah
SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu.
Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah
keluhuran mereka.” (Al Hadits)
Dari
Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum
wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi
kamu¡”. (HR. Hakim dan Abu Dawud)
“Carilah
rezeki dengan menikah”. (HR. Ad-Dailami)
Bagi aku itu sudah cukup menjadi landasan teoritis dan
landasan hukum untuk aku menikah. Menikah itu kadang harus memakai otak kanan
(coba baca buku 7 Keajaiban Rejekinya Ippho Santosa). Menikah itu bukan perkara
materi tapi lebih ke perkara mental. Jujur tidak ada yang siap 100% untuk
menikah, tapi jika aku tidak melakoninya kapan aku mau siap??
Jika
niat sudah ada, azzam sudah terucap, persiapan sudah dimulai, tidak ada kata
untuk mundur, percayalah ini adalah semata-mata godaan Setan untuk melemahkan
niat ibadah dan penyempurnaan agamamu. Cobaan dan godaan suka tiba-tiba datang,
dari pinggir, depan, belakang, atas, bawah. Tiba-tiba mantan yang datang lagi
entah dari mana padahal dia selama bertahun-tahun tidak berkomunikasi, ataukah
tiba-tiba banyak yang naksir, halangan dari keluarganya apakah saudara ataupun
orang tuanya (yang padahal asalnya sudah memberi lampu hijau ke kita), tiba-tiba
hubungan kita dan pasangan semakin menyebalkan ketika mendekati hari-H dan
beribu lagi tipu muslihat Setan yang membisiki kita dan orang sekitar kita agar
pernikahan kita gagal. Siapa yang tidak ingin menikah? siapa yang tidak ingin
memiliki keturunan? siapa yang tidak ingin melakukan sesuatu yang halal?.
Dulu
aku ingin menikah muda, menikah pada saat umurku 22-23 tahun. Tapi itu hanya
keinginan saja, toh buktinya aku akan melangsungkan pernikahan ku pada saat
umurku 24 tahun. Dulu sebelum aku bertemu dia kembali, aku enggan rasanya ingin
menikah. Aku merasa bebas dengan hidupku yang sekarang. Tanpa mengurus rumah
atau mengurus suami. Hidup menjadi wanita yang mandiri. Dan aku merasa hidup
jauh lebih indah jika aku sendiri dan hanya mengurus orang tuaku. Tapi setelah
aku bertemu dengannya, semua pandangan pernikahan yang menakutkan menjadi
sesuatu yang indah. Bayangkan saja, jika seorang isteri menyediakan air minum,
adalah lebih baik dari isteri itu berpuasa setahun. Makanan yang disediakan
oleh isteri kepada suaminya lebih baik dari isteri itu mengerjakan haji dan
umroh. Dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat kita tertegun dan menyadari
bahwa apapun yang kita lakukan untuk suami adalah sebuah ibadah, ibadah kepada
Allah. Selagi kita ikhlas mengerjakan itu semua karena memang sudah kewajiban
isteri, semua akan terasa mudah, Insya
Allah..
Menikah
adalah sebuah keyakinan. Entah memang sudah rencana Allah, aku dan dia
sama-sama cinta pertama, lambat laun kami meyakini bahwa kita adalah jodoh.
Seperti halnya aku, entah kenapa aku yakin dengannya dari dulu. Sifatnya yang
dewasa, bisa mengerti aku, dan yang terpenting menerima kekuranganku.
Perjuangan kami sampai akhirnya mendapatkan restu untuk menikah bisa dibilang
susah, Bersama selama 15 tahun bukan berarti tidak sedikit halangan yang
datang. Tapi lagi-lagi hanya keyakinan dan kemauan untuk memperjuangan itu
semua. Percayalah.. sesuatu yang terbaik itu akan datang, jika bukan sekarang,
pasti nanti. Yakin saja, yang terbaik itu yang terakhir. Dan sampai detik ini
pun, aku masih tidak menyangka bahwa keyakinanku selama ini akhirnya terwujud.
Bahwa lelaki menyebalkan yang selalu membuatku marah pada waktu 15 tahun yang
lalu adalah calon suami ku.
"Tak
ada yang lebih baik selain dua orang yang bertemu karena saling menemukan,
sama-sama berhenti karena telah selesai mencari. Tak akan ada yang pergi, sebab
tahu bagaimana sulitnya mencari."
"Maka
orang yang beruntung adalah orang yang berpegang teguh pada tali agama, ia yang
berani mengambil keputusan untuk menyempurnakan agamanya."



