Selasa, 25 Juni 2013

Citcat dengan Sahabat

Diposting oleh Unknown di 23.18 0 komentar

Dini hari kamu menelpon ku dengan nada terisak, “lo dimana? Gw butuh lo sekarang”. Yaa seperti itulah kamu, tidak pernah mengenal waktu untuk menelpon ku. aku yang terperanjat dari kasurku ketika aku mendengar suara mu aneh, pasti sesuatu yang buruk terjadi lagi dan lagi. Aku yang sedari tadi hanya diam menunggu perintah dari mu, mencoba mendengarkan suaramu yang tidak jelas. “gue tunggu lo ditempat biasa jam 1 lo harus udah sampe ya” tidak lama suaramu terputus dan aku bergegas pergi menuju tempat biasa kita bertemu.

Dan, yaa.. dia sudah sampai dan memilih duduk dibar sambil ditemani segelas anggur yang berembun. Pandanganmu menerawang entah kemana. Baju yang kamu pakai malam ini hanya kaos dan celana jeans andalanmu. Aku duduk menghampirimu. “Lama banget sih.. sini duduk” kata penyambutan darimu cukup membuatku heran. Sepertinya kamu tidak kelihatan seperti orang yang sedang ada masalah. Tidak lama kemudian kamu memanggil pelayan untuk menuangi ku segelas anggur yang sama dengan kamu. Kamu membenarkan duduk mu, lalu kamu tersenyum dan.. menahan air mata
“Kok bengong? Ayo kita bersulang untuk hidup gue yang baru!” dan kita mendetingkan segelas anggur. Akhirnya kamu menempuh hidup baru dengan lelaki pilihanmu, aku turut berbahagia denganmu sahabat. Malam itu Kamu tertawa, diam sebentar, berfikir, lalu kamu terus menerus meneguk anggur. Entah sudah berapa cangkir anggur yang kamu habiskan, apakah itu luapan emosi mu?. 

“Semuanya berbeda mulai sekarang, gue mulai menapaki semuanya sendirian. Ngga ada siapa-siapa. Yaa kecuali keluarga gue”. Kamu mulai bercerita, aku akan menjadi pendengar baikmu malam ini. Tapi kenapa kamu berbicara tentang kesendirian? Bukankah kamu sudah memilih dan akan menikah tahun depan?. Aku tidak ingin memotong sedikitpun cerita kamu, melihatmu saja aku sudah bingung. Kamu menaruh segelas anggur itu, dan tatapanmu tajam mengarah pada layar telepon genggammu. “gue itu memilih, bukan dipilih. Gue pengen bebas, kaya dulu. Gue terlalu pengecut untuk jatuh cinta lagi. Gue ngga mau terus-terusan disakitin. Nanti kalo waktunya udah tepat, gue yakin, gue bakal ketemu jodoh gue. Gue ngga mau yang muluk-muluk. Yang jelas sekarang, gue pengen ngejar karir gue”. Ada kejujuran yang aku lihat di matamu saat kamu bercerita, aku tahu kamu berbicara sambil menahan rasa sesak didada. Kamu menarik nafas panjang dan mulai bercerita lagi.
“ini hidup baru gue, tanpa lelaki-lelaki itu”
“kamu jomblo?”
“yaa kelihatannya? Cheers!” kita mendentingkan lagi gelas berisikan anggur.

Aku tahu benar sahabatku ini, dia pandai dalam bersandiwara. Dia bisa menutupi semua yang dia rasa. Aku tidak tahu benar tetang perasaannya malam ini. Yang terakhir aku tahu, dia menyayangi lelaki sebelum lelaki dari masa lalunya masuk. Dia sadar, bahwa ternyata masih ada hati yang tertinggal pada lelaki itu. “gue sadar kok, gue ngga mau maksain keadaan sesuai yang gue mau. Kadang memang semuanya berjalan seperti yang ngga kita inginkan, kan?” kata mu pada saat menceritakan lelaki tersebut.  Biasanya dia selalu bersemangat setiap kali menceritakan lelaki itu, lelaki yang dia kenal tahun lalu.
Kamu tersenyum, dan meneguk segelas anggur. “gue Cuma ngga mau bergantung sama harapan kosong, gue tau yang sebenernya. Most people around me just come, bother, and hurt me. And then they go. it is fuck,huh?. Beberapa orang terlahir hanya untuk membahagiakan orang lain. Beberapa lainnya hanya untuk menyakiti”. Kamu menyeka sebagian kecil air matamu. Lalu kamu terdiam sesaat dan tersenyum. “entah gue harus seneng apa sedih. Yang jelas gue cuma ngga mau terlarut dalam kesakitan yang gue rasain. Ini sakit banget loh, sumpah! Hahaha..”. kamu melihat jam di telepon genggammu, lalu kamu menaruhnya lagi diatas meja bar. Sudah pukul tiga dini hari. Tidak ada henti-hentinya kamu bercerita tentang lelaki-lelaki itu.

“lelah banget yaa terus-terusan ngorbanin perasaan gue karena cinta, Cuma karena lelaki yang gue sayang. Damn banget kan! Dan gue ngga mau hal itu terjadi lagi dihari-hari gue nantinya. Semua udah ada yang ngatur, gue ga mau lagi ada diatas panggung, cape”. Perlahan kamu mulai bisa mengatur nafasmu secara teratur, sesekali kamu merapihkan rambutmu yang tidak rapih. Sepertinya hatimu mulai lelah pada kenyataan tentang cinta. Aku mengerti. Lelaki-lelaki itu hanya datang membawa bahagia yang sementara untukmu, tidak selamanya. Kamu hanya menginginkan kepastian, tapi sampai sekarang lelaki-lelaki itu tidak memberikan apa yang kamu inginkan. Kamu berjalan dengan harapan kosong yang entah akan dibawa kemana hubungan itu. Kamu lelah. Ya.. aku mengerti.
“Harus ngga sih gue nyesel bertemu mereka?” kamu bertanya dengan mata yang serius.
“ngga kok” aku menjawab dengan muka datar
“seenggaknya mereka itu ngasih gue luka yang dalem banget ya. Jadi pastinya gw bakal inget siapa aja yang kasih bekas luka dihati gue. Hahahaha.. sial.”

Kamu menenggak satu botol anggur dan mulai terdiam. Aku memberanikan diri untuk bertanya.
“rencana kamu apa kedepannya?”
“pengen ke bandung”
“ngapain? Nonton sarasvati?”
“ngga. Mau ngambil sesuatu yang pernah gue titipkan ke seseorang.”

dengan  tatapan kosong dan pandangan yang menerawang entah kemana, kamu melanjutkan cerita mu. "melupakan seseorang itu sulit lho, tapi bukan berarti dengan cara mencari seseorang yang baru demi menutupi rasa sakit itu. itu pengecut namanya. gue ngga butuh pelarian, gue ngga butuh orang baru. gue butuh kalian, sahabat gue..". lalu kamu mengambil botol anggur dan mendentingkan di gelasku 
“buat hidup gue yang baru, cheers!”

Jumat, 21 Juni 2013

Hari Baru

Diposting oleh Unknown di 09.24 0 komentar
       Ketika matahari menyinari mata ku yang masih terkurung didalam mimpi mulai membangunkan ku, aku mulai membuka mata perlahan dan tersenyum. Ini adalah hari baruku. Aku mulai bangun dari tempat tidurku dan bersiap. Yaa.. mempersiapkan semuanya. Rasanya aku malas sekali membereskan semua kotak-kotak yang berserakan dikamar ku. Tapi bagaimanapun juga aku harus merapihkan didalamya. Sedih memang, harus membereskan kotak-kotak ini satu per satu. Tapi ini lah hari baruku. Ku susun semua kotak sesuai dengan urutannya. Apapun yang ada didalamnya, sepertinya aku tidak akan mau untuk melihatnya lagi.

Sekarang waktunya aku untuk mengemasi barang-barang ku dan memasukkannya ke dalam koper. Menyusun beberapa barang didalam koper memang agak sulit ternyata. Aku harus memilih mana yang memang aku butuhkan dan menempatkannya diurutan paling atas, dan sebaliknya, barang yang tidak aku perlukan, aku menaruhnya diurutan paling bawah. Dan.. aku siap untuk melangkahkan kaki ku pergi dari kehidupan masa lalu ku.
       
        Setibanya distasiun, aku menunggu kereta datang menjemputku. Aku duduk sambil mnyesapi secangkir kopi hangat yang setia menemani ku. Hampir 15 menit berlalu dan kereta yang menjemputku datang. Aku berdiri disisi kiri kereta, dengan black coat, boots, black scarf, jeans, dan tentu saja 1 buah koper.  Kaki ku melangkah memasuki kereta dan jauh didalam hati aku berdoa kepada Tuhan.. Tuhan, selamatkan diriku dari mereka yang pernah datang dan biarkan aku melupakan apa yang terjadi di masa lalu ku. Aku ingin pergi..lindungi aku, Tuhan..

       Entahlah.. ini benar atau bodoh. Tugasku sudah selesai, merapihkan kotak-kotak yang berisikan kenangan-kenangan masa lalu, ku simpan, ku kunci rapat ruangan itu dan lambat laun aku lupa bahwa pernah ada kotak-kotak itu didalam hidupku. Hari ini, aku hanya membawa satu buah koper, sudah ku susun kembali semuanya. Aku hanya membawa apa yang aku butuhkan, bukan yang aku inginkan. Seperti hidupku. Mungkin ini jalan Tuhan, sekarang aku akan mencari jalanku sendiri. Aku hanya tidak ingin hidup didalam masa lalu yang terus menghantuiku. Aku ingin mencari masa depan ku sendiri. Dari masa lalu aku belajar, bahwasannya mengikhlaskan itu memang sulit. Aku ingin terus menerus bisa menguatkan hatiku agar aku tidak selalu menjadi orang bodoh yang jatuh ditempat yang sama.


Ku hirup udara melalui kaca-kaca jendela kereta api yang akan membawaku pergi dari masa lalu. Aku lelah selalu berada di atas panggung, kali ini aku akan selalu berada dibalik layar. Keputusan ini jelas bukan karena tidak ada alasan, aku punya segudang alasan untuk berkata demikian. Lega rasanya hati ini, dan jika memang hari itu datang, hari dimana dada ku akan sesak kembali jika mengingat semuanya, sepertinya aku sudah siap. Aku sudah membawa berbagai macam obat didalam koperku, akan ku racik sendiri. Sampai akhirnya luka itu mongering dan sembuh, aku tetap tidak akan kembali dan membuka kotak-kotak itu. Pengkhianatan, kebohongan, kepura-puraan, dan kemunafikan selalu menjadi pelajaran paling berharga didalam hidupku. Tanpa luka, aku tidak akan pernah belajar untuk tetap berjalan. Tanpa sakit, aku tidak akan belajar cara untuk mengobati. Dan tanpa kalian, aku tidak akan belajar bagaimana melindungi hati ku dari luka dan rasa sakit.

       Aku berterima kasih kepada mataku, dia benar-benar bisa memilih mana yang memang pantas aku tangisi. Bersyukurnya aku, mata ku sudah lelah menangis.


When everything goes well, that’s my. Not yours. Just enjoy the show..

Senin, 17 Juni 2013

Angan

Diposting oleh Unknown di 09.38 0 komentar
Ini hari-hari ku tanpa mu, seperti ada yang hilang memang. Tapi ini kenyataan paling pahit yang harus aku jalani. Kau pergi dan tak akan pernah kembali.

Tiga minggu sebelumnya...
Hari ini aku dan kamu menghabiskan waktu bersama, katamu untuk terakhir kalinya. Dan kamu ingin memenuhi janjimu. Akhirnya kita pergi dan menghabiskan waktu hingga malam hari. Selama dalam perjalanan, hanya hujan yang menemani kita. Kita tertawa bersama dibawah hujan. Bahkan pelukan mu masih menjadi tempat ternyaman ku. Aku melihat kebahagiaan dimatamu, ya.. hari ini.

Dua minggu sebelumnya...
Ternyata Tuhan masih mengijinkan kita untuk bersama. Akhir pekan kita habiskan bersama, kita pergi berlibur, pergi ketempat yang sejuk dan jauh dari hingar-bingar kota. Yang aku tahu, kamu hanya ingin melihatku bahagia. Aku bahagia, sangat. berada didekatmu membuatku nyaman. Kamu mendekap ku hingga matahari membangunkan ku. Sepertinya kamu takut kehilanganku. Aku juga. Aku ingin kita terus seperti ini, tapi sepertinya tidak mungkin. Entahlah.. aku hanya ragu.

Satu minggu sebelumnya...
“aku minta maaf yaa.. makasi buat semuanya. Kamu tetap yang terbaik untuk aku. Ini menjadi pertemuan kita yang terakhir, aku tidak akan bisa melihatmu lagi”.
Tangan hangat mu menyentuh pipi ku, sambil berkata “siapa bilang?kita masih bisa bertemu lagi kok, semua keputusan ada ditanganmu..”. aku mengusap air mata ku pagi itu, aku yakin betul ini menjadi hari terakhir aku melihat senyummu. Aku pasti akan merindukan panggilan itu, dan tentunya pelukanmu.
Kecupan dikening itu menjadi tanda terakhir kalinya kita bertemu, kamu pamit. Pamit untuk sementara, pikirmu. Tapi untuk aku, itu terakhir kalinya kamu mengucapkan “aku pulang dulu yaa” dan kamu tak akan pernah kembali lagi.

Hari-hari setelahnya...
Siapa yang sangka ketika aku membuka mata dipagi hari ternyata tidak ada pesan singkat darimu. Maaf, aku lupa. Mulai hari ini semuanya berbeda. Aku hanya sudah terbiasa dengan kebiasaan kita. Semua berbeda. Sebagian diriku hilang. Aku menjejaki hari-hari tanpa mendengar lagi suaramu, pelukanmu, dan kecupan hangatmu. Berhari-hari aku mencoba untuk memulai semuanya dari awal dan melupakan mu. Karena cepat atau lambat kamu pasti akan melakukannya, melupakanku. Egois memang, aku tidak ingin seperti ini. Yang aku mau, kamu tetap disampingku selamanya. Tapi jika aku lakukan itu, aku menyakitimu. Aku tahu benar kamu kecewa dengan keputusan yang aku ambil. Tapi ini kenyataan, dan memang masih terselip ragu didalam hatiku untuk memilihmu. Aku tahu kamu masih ingin mengejar cita-citamu dan aku tidak ingin merusaknya.

Entah apa yang aku rasakan hari ini dan seterusnya jika tidak ada kamu. Seperti terpenjara dalam sepi. Hening. Aku berjalan menyusuri jalanan yang ada didepanku tanpa kamu disampingku. Mengikhlaskan memang cara yang sangat sulit, tapi terkadang tidak ada lagi yang harus kita lakukan selain dari menerima. Kamu, lelaki yang memiliki arti tersendiri dihidup ku. Lalu sekarang kamu pergi dan aku kehilangan sebagian hidupku.

Hari-hari ini seperti masa lalu ku saja. Kosong. Aku ragu dengan arah yang aku ambil. Perlahan namun pasti, aku melihatmu menjauh bahkan sangat jauh dari sisiku. Bukan lagi punggungmu yang aku lihat, tapi sekarang bayanganmu lah yang aku lihat. Jelas. Dan nyata. Sesekali aku ingin mencoba untuk menghubungimu kembali tapi aku tidak mampu. Belum rela rasanya melihatmu bersama yang lain. Anehnya, setiap kali aku berusaha melupakanmu, aku justru menyakiti hatiku sendiri. Bayanganmu makin nyata terlihat didepan mataku. Sial. Aku merasakan rindu yang membludak, terutama rindu pelukanmu.

Tertunduk lemas aku. Terpenjara dalam sepi. Aku tidak tahu lagi harus seperti apa dan bagaimana. Tapi, sepertinya kamu sudah mulai terbiasa tanpaku. Aku melihat kamu sepertinya sudah mencoba untuk membuka hati dengan yang lain. Baguslah.. kamu lebih hebat ternyata dalam urusan melupakan seseorang. Kenyataan itu rumit dan sulit. Setidaknya aku pernah mencintai seorang kamu. Aku masih menaruhmu ditempat terbaik, dihatiku.

Mencintaimu itu sakit. Banyak pengorbanan yang aku rasakan. Walaupun pada akhirnya aku milikmu seutuhnya. Siapa yang menyangka jika hari ini kita kembali seperti dulu? Aku dan kamu tidak saling mengenal. Aku dan kamu menjadi sosok yang hanya saling tahu melalui social media. Kita tidak bertegur sapa. Yaa.. itu cinta. Sakit bukan?. Kita memilih bersama saja sudah banyak yang kita korbankan, dan pada saat kita berpisah pun memang harus harus ada yang berkoban. Tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti kamu akan membenci ku. Tetapi satu hal yang harus kamu tahu, aku masih disini. Ditempat terakhir kita bertemu. Aku tidak pernah pergi, aku tidak kemana-kemana. Justru kamu yang membelakangiku dan pergi menjauh. Ini pil pahit yang harus aku telan. Setidaknya aku bersyukur kepada Tuhan pernah berada dihati seorang kamu. Aku berterima kasih pada semesta yang pernah mempertemukan kita.

Kita tidak pernah tahu kepada siapa akhirnya hati kita titipkan. Tapi cinta ini memang selalu ada. Sayang ini masih setia didalam sini, dihatiku. Aku akan belajar menerima, terutama melihatmu pergi menjauh. Semoga kamu bahagia dan menemukan orang yang tepat untuk membuat hatimu utuh kembali. Karena aku, selalu mendoakan yang terbaik untuk hidupmu.

Ini hari-hari ku tanpa mu, seperti ada yang hilang memang. Tapi ini kenyataan paling pahit yang harus aku jalani. Kau pergi dan tak akan pernah kembali.

Rabu, 05 Juni 2013

Question

Diposting oleh Unknown di 13.18 0 komentar
“are you happy?” its such a difficult question.
I always say “yes”, because I have friends.
I laugh at jokes, I go out a lot and have fun.
My life isn’t as bad as it could be, and I don’t
Have terrible problems. It could be worse.

But then, one night at 2 AM when im alone
Still awake, lying in bed, thinking about life
I find my self crying in my heart out
Suddenly I convince that nobody likes me , or
Nobody will ever like me, I feel horrible
And I question everything that I had


And I don’t know if I was ever happy at all.

Senin, 03 Juni 2013

Cinta Itu Rumit ya?

Diposting oleh Unknown di 14.36 0 komentar
Siapa yang sangka dalam sekejap semua khayalan dan rencana indah bisa hancur, tidak berbekas. Lagi dan lagi sebuah kebodohan aku buat. Seperti terbangun dari mimpi buruk, ya.. aku berharap ini mimpi buruk. Tetapi ketika aku tidak sengaja mengeluarkan air mata, aku yakin ini bukan mimpi. Aku tertunduk lemas dan tidak tahu lagi apa yang harus aku perbuat. Ternyata mempertahankan itu sulit.. melepas seseorang pergi itu sakit. Perih itu sudah pasti. Entah sampai kapan aku menelan pil pahit ini. Seperti hidup tetapi tidak hidup. Ini kekalahanku, aku kalah telak. Kamu pergi menjauh dan semua hancur. Kamu bahagiaku, dan sekarang kamu pergi.

Untuk kamu yang pergi menjauh dariku..
Aku minta maaf.. keegoisanku menghancurkan semuanya. Bahkan aku malu untuk bertemu denganmu lagi. Mata ku tidak sanggup rasanya untuk melihat kedalam matamu. Aku lelah untuk berbicara, aku yakin kamu pasti merasakannya. Jika waktu menyuruhku bertemu denganmu, sudah dipastikan kamu (mungkin) sudah bersama yang lain. Kali ini aku yang pengecut. Aku tidak ada cara untuk mempertahankanmu untuk yang terakhir. Berjabat tanganu saja tidak, apalagi untuk memelukmu yang terakhir kali.. Tetapi setidaknya aku sudah mencoba.. demi kamu.Terima kasih untuk kisah sebentar kita.Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi, entah kapan..
 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos