Dini hari kamu menelpon ku dengan nada terisak, “lo dimana? Gw butuh lo sekarang”. Yaa seperti itulah kamu, tidak pernah mengenal waktu untuk menelpon ku. aku yang terperanjat dari kasurku ketika aku mendengar suara mu aneh, pasti sesuatu yang buruk terjadi lagi dan lagi. Aku yang sedari tadi hanya diam menunggu perintah dari mu, mencoba mendengarkan suaramu yang tidak jelas. “gue tunggu lo ditempat biasa jam 1 lo harus udah sampe ya” tidak lama suaramu terputus dan aku bergegas pergi menuju tempat biasa kita bertemu.
Dan, yaa.. dia sudah sampai dan
memilih duduk dibar sambil ditemani segelas anggur yang berembun. Pandanganmu menerawang
entah kemana. Baju yang kamu pakai malam ini hanya kaos dan celana jeans
andalanmu. Aku duduk menghampirimu. “Lama
banget sih.. sini duduk” kata penyambutan darimu cukup membuatku heran.
Sepertinya kamu tidak kelihatan seperti orang yang sedang ada masalah. Tidak
lama kemudian kamu memanggil pelayan untuk menuangi ku segelas anggur yang sama
dengan kamu. Kamu membenarkan duduk mu, lalu kamu tersenyum dan.. menahan air
mata
“Kok bengong? Ayo kita bersulang untuk hidup gue yang baru!” dan
kita mendetingkan segelas anggur. Akhirnya kamu menempuh hidup baru dengan
lelaki pilihanmu, aku turut berbahagia denganmu sahabat. Malam itu Kamu
tertawa, diam sebentar, berfikir, lalu kamu terus menerus meneguk anggur. Entah
sudah berapa cangkir anggur yang kamu habiskan, apakah itu luapan emosi mu?.
“Semuanya berbeda mulai sekarang, gue mulai menapaki semuanya sendirian.
Ngga ada siapa-siapa. Yaa kecuali keluarga gue”. Kamu mulai bercerita, aku
akan menjadi pendengar baikmu malam ini. Tapi kenapa kamu berbicara tentang
kesendirian? Bukankah kamu sudah memilih dan akan menikah tahun depan?. Aku
tidak ingin memotong sedikitpun cerita kamu, melihatmu saja aku sudah bingung.
Kamu menaruh segelas anggur itu, dan tatapanmu tajam mengarah pada layar
telepon genggammu. “gue itu memilih,
bukan dipilih. Gue pengen bebas, kaya dulu. Gue terlalu pengecut untuk jatuh
cinta lagi. Gue ngga mau terus-terusan disakitin. Nanti kalo waktunya udah
tepat, gue yakin, gue bakal ketemu jodoh gue. Gue ngga mau yang muluk-muluk.
Yang jelas sekarang, gue pengen ngejar karir gue”. Ada kejujuran yang aku
lihat di matamu saat kamu bercerita, aku tahu kamu berbicara sambil menahan
rasa sesak didada. Kamu menarik nafas panjang dan mulai bercerita lagi.
“ini hidup baru gue, tanpa
lelaki-lelaki itu”
“kamu jomblo?”
“yaa kelihatannya? Cheers!” kita mendentingkan lagi gelas
berisikan anggur.
Aku tahu benar sahabatku ini, dia
pandai dalam bersandiwara. Dia bisa menutupi semua yang dia rasa. Aku tidak
tahu benar tetang perasaannya malam ini. Yang terakhir aku tahu, dia menyayangi
lelaki sebelum lelaki dari masa lalunya masuk. Dia sadar, bahwa ternyata masih ada
hati yang tertinggal pada lelaki itu. “gue sadar kok, gue ngga mau maksain
keadaan sesuai yang gue mau. Kadang memang semuanya berjalan seperti yang ngga
kita inginkan, kan?” kata mu pada saat menceritakan lelaki tersebut. Biasanya dia selalu bersemangat setiap kali
menceritakan lelaki itu, lelaki yang dia kenal tahun lalu.
Kamu tersenyum, dan meneguk
segelas anggur. “gue Cuma ngga mau bergantung sama harapan kosong, gue tau yang
sebenernya. Most people around me just come, bother, and hurt me. And then they
go. it is fuck,huh?. Beberapa orang terlahir hanya untuk membahagiakan orang
lain. Beberapa lainnya hanya untuk menyakiti”. Kamu menyeka sebagian kecil air
matamu. Lalu kamu terdiam sesaat dan tersenyum. “entah gue harus seneng apa
sedih. Yang jelas gue cuma ngga mau terlarut dalam kesakitan yang gue rasain.
Ini sakit banget loh, sumpah! Hahaha..”. kamu melihat jam di telepon genggammu,
lalu kamu menaruhnya lagi diatas meja bar. Sudah pukul tiga dini hari. Tidak
ada henti-hentinya kamu bercerita tentang lelaki-lelaki itu.
“lelah banget yaa terus-terusan ngorbanin
perasaan gue karena cinta, Cuma karena lelaki yang gue sayang. Damn banget kan!
Dan gue ngga mau hal itu terjadi lagi dihari-hari gue nantinya. Semua udah ada
yang ngatur, gue ga mau lagi ada diatas panggung, cape”. Perlahan kamu mulai
bisa mengatur nafasmu secara teratur, sesekali kamu merapihkan rambutmu yang
tidak rapih. Sepertinya hatimu mulai lelah pada kenyataan tentang cinta. Aku mengerti.
Lelaki-lelaki itu hanya datang membawa bahagia yang sementara untukmu, tidak
selamanya. Kamu hanya menginginkan kepastian, tapi sampai sekarang
lelaki-lelaki itu tidak memberikan apa yang kamu inginkan. Kamu berjalan dengan
harapan kosong yang entah akan dibawa kemana hubungan itu. Kamu lelah. Ya.. aku
mengerti.
“Harus ngga sih gue nyesel bertemu
mereka?” kamu bertanya dengan mata yang serius.
“ngga kok” aku menjawab dengan muka
datar
“seenggaknya mereka itu ngasih gue
luka yang dalem banget ya. Jadi pastinya gw bakal inget siapa aja yang kasih
bekas luka dihati gue. Hahahaha.. sial.”
Kamu menenggak satu botol anggur dan
mulai terdiam. Aku memberanikan diri untuk bertanya.
“rencana kamu apa kedepannya?”
“pengen ke bandung”
“ngapain? Nonton sarasvati?”
“ngga. Mau ngambil sesuatu yang pernah
gue titipkan ke seseorang.”
dengan tatapan kosong dan pandangan yang menerawang entah kemana, kamu melanjutkan cerita mu. "melupakan seseorang itu sulit lho, tapi bukan berarti dengan cara mencari seseorang yang baru demi menutupi rasa sakit itu. itu pengecut namanya. gue ngga butuh pelarian, gue ngga butuh orang baru. gue butuh kalian, sahabat gue..". lalu kamu mengambil botol anggur dan mendentingkan
di gelasku
“buat hidup gue yang baru, cheers!”


