Maafkan aku yang tidak pernah bisa membuatmu tersenyum seperti dahulu saat hujan menemani sore kita. Aku rapuh, senja. Tidak ada yang menggenggam tanganku erat seperti dulu. Kini semua terasa semu. Bahkan aku sudah tidak bisa lagi menghirup nafas yang kau hembuskan. Aku tak kuasa menahan mu. aku pun sudah berada dititik ketidakmampuan ku untuk bisa memahami mu. Cinta itu memang sakit. Tapi lebih sakit dari kenyataan yang ada didepan mataku. sampai akhirnya aku menyadari bahwa ketidakmampuan ku, sudah tak kau hiraukan lagi. Kamu pergi, lalu menghilang. Dan tidak akan pernah kembali.
Jumat, 06 Desember 2013
Senin, 18 November 2013
Love you both
Udah beberapa hari ini aku sakit. Mungkin karena keujanan terus tiap pulang kerja, ditambah lagi emang musimnya yang lagi ga ok kaya gini. Malam hari sepulang dari kantor, aku nekat ujan-ujanan dimotor dan ga pake jas ujan, ya karena aku pikir hanya gerimis aja. Ditengah perjalanan aku merasa lapar, biasanya sih emang ga pernah lapar kalo udah malem. Yauda akhirnya aku beli kebab dipinggir jalan. Sesampainya dirumah, aku langsung bersih-bersih dan memakan kebabnya sampai habis. Salahnya aku, harusnya aku mandi dulu karena tadi abis ujan-ujanan, tapi aku malah ngga mandi.
Begitu bangun di esok harinya, kepala ku pusing dan badan ku panas, tenggorokan ku juga sepertinya radang. Pasti ini karena makan kebab itu deh makanya jadi radang..sial. Aku masih bisa menahan sakitnya itu. Hingga siangnya aku minum obat paracetamol yang selalu standby dari ibunya pacar. Karena ibu tau banget aku suka sakit kepala. Yauda akhirnya aku tiduran dikamar yang kebetulan juga hari ini weekend. Sampai malamnya, aku masih ngerasa ngga enak sama badan aku, apalagi malamnya aku harus nganter mama ujan-ujanan ketempat biasa menunggu bis. Begitu minggu pagi, badan ku benar-benar sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ya, aku sakit. Badan ku panas tinggi, perutku mual, kepalaku sakit, dan aku lemas. Aku hanya terbaring dikamar sambil selimutan. Aku mencoba telpon dia untuk membelikan obat batuk, tapi sudah berkali-kali dia ngga bangun juga. Ya akhirnya aku kirim bbm ke ibunya, aku bilang kalo aku sakit. Sampai akhirnya ibu khawatir dan langsung kerumah aku layaknya dokter pribadi. Begitu dirumah, aku langsung diperiksa tekanan darahku, katanya tekanan darah ku turun. Akhirnya aku diberikan obat yang..lumayan banyak.
Sampai siang hari aku mencoba terus menghubunginya untuk minta tolong membelikan makan siang, tapi masih tidak ada jawaban. Menyebalkan sekali. Aku dirumah sendirian, tidak ada orang, dan tidak ada makanan. Oh yeah.. My life so sucks. Aku paksakan diriku untuk bangun dan memasak mie goreng instans dan 2 potong nugget. Yang penting makan lalu minum obat abis itu aku tidur. Aku yang ketiduran didepan tv sambil selimutan, tiba-tiba dia datang dan mengganti channel astro boy yang sedang aku tonton. Dengan kesal aku berkata ketus "ngapain kesini? Basi banget!" Dia yang hanya diam langsung menghampiriku dikamar dan meminta maaf. Mungkin dia sadar bahwa aku memang benar-benar sakit. Akhirnya dia membelikan makanan yang aku minta; soto ayam dan sate ayam. Dia yang mengurus semua kebutuhan ku selama sakit. Ibunya menelepon dan menanyakan bagaimana keadaan aku, ngga lupa juga buat mengingatkan aku untuk minum obat teratur. Yaa saking khawatirnya, obatnya segini banyaknya:
And here i'am.. Aku berada ditengah orang-orang yang menyayangi aku. Kebayang ngga sih punya ibu mertua yang sebegitu carenya? Dia benar-benar sayang dan bawel masalah kesehatan aku. Bahkan sewaktu aku sedang bete dan pergi hanya untuk sekedar ngopi, dia sangat khawatir dengan keadaan ku. Khawatir aku digodain laki-laki lain, katanya.
Iya, kita punya hobi sama; suka foto-foto. dan yang selalu jadi korban ya dia, buat jadi tukang foto hahaha. pssst untuk foto yang dibawah, itu benar-benar ngga janjian, aku dijemput dan sadar bahwa baju kita sama hihihi...
Dan aku bersyukur memiliki keduanya. Aaaahh.. I love you, both.
Sabtu, 02 November 2013
The Eight coffee
Happy saturday night!!
Hahaha iya itu buat mereka yang merasakan indahnya malam ini.
The eight coffee merupakan kedai kopi bernuansa etnik dengan tata ruangan yang retro, pernak-pernik yang lucu dan tempat yang nyaman untuk sekedar membuang waktu dengan secangkir kopi. Ya, malam ini aku tepat berada di kedai kopi ini. Menikmati malam ku sendiri. Duduk di pojok ruangan bersebelahan dengan jendela yang menghadap ke taman. Sangat pas untuk aku yang memang ingin menghabiskan waktu sendiri, tentunya ditemani coffee latte dengan rasa hazelnut dan sekotak rokok menthol.
Memang ada yang salah dengan hari ini, malam ini. Merasakan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak dipaksakan. Sampai akhirnya kejadian yang itu-itu saja selalu membuat ku pusing dan putus asa. Aku lelah. Impian yang sepertinya akan tertunda entah sampai kapan dan harapan yang semakin menipis, sampai akhirnya keyakinan mulai dipertanyakan. Masih pantaskah? Masih haruskah? Masih dipertahankan kah? Masih adakah? Dan masih-masih yang lainnya semua bersembunyi didalam hati yang akhirnya malam ini mulai muncul satu per satu hingga membuatku menarik nafas perlahan. Sesuatu yang memang harus aku pikirkan. Ini tentang hidupku. Tentang prinsip yang sedang goyah dan harus menemukan jawaban yang tepat. Tak ku hiraukan suara tawa mereka disekelilingku, aku tetap diam dalam lamunanku sambil menatap keluar jendela. Menghidup aroma menthol dari sebatang rokok disela jariku, dan sesekali menyesapi kopi hazelnut ini. Udara dari luar jendela benar-benar membuatku nyaman, hembusan angin beraroma tanah. Aku masih sibuk dengan menghirup sebatang rokok ku sambil menyesali apa yang sedang terjadi hari ini, malam ini. Apakah semua memang harus begini? Menjalani hidup tanpa tahu akan kemana dan bagaimana. Merencanakan segala sesuatu memang perlu, tapi justru ketakutan yang akan terjadi diesok hari justru lebih mendominasi otak ku, sial. Mencoba terus berfikir seharusnya aku di esok hari, tanpa sadar setengah bungkus rokok sudah habis aku hisap. Aku melihat jam di ponsel ku, masih punya banyak waktu untuk tetap disini. Jadi aku memilih untuk memesan kembali kopi dengan rasa hazelnut nya. Aku butuh tahu siapa aku sebenarnya, dan kemana harusnya aku melangkah. Bukannya hidup dalam ketakutan yang belum tentu benar terjadi, dan membuat semuanya terlihat semakin kacau. Aku benar-benar membuang setiap detik dengan ngopi dan merokok sambil terdiam. Tanpa sadar hari semakin malam. Ketika aku menghabiskan satu batang rokok terakhirku, aku menyadari akan sesuatu. Bahwa apapun yang terjadi disetiap langkah ku, itu merupakan fase sementara saja. Semua ada waktunya. Dan aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengapus ketakutan ku dengan membiarkan diriku berpijak ditempat yang seharusnya aku berada. Terima dengan apa adanya yang terjadi sambil terus bercermin dari sisi yang berbeda. Itu saja. Meninggalkan dua cangkir kopi kosong dan sisa putung rokok yang penuh diasbak, aku meninggalkan the eight coffee malam ini tepat tengah malam.
Selasa, 08 Oktober 2013
Work?
Banyak orang yang beranggapan "yang penting gue kerja", tapi jujur aja buat saya itu ngga banget. Karena buat saya kerja dan jodoh itu sama. Kita akan menghabiskan waktu kita bersama keduanya. Kebayang ngga sih kalo kerja tapi hati ngga sreg? Sama aja kaya jodoh. Mau dipaksa kaya apa nantinya malah ga baguskan?. Saya memang tipe orang pemilih, saya harus pikir matang-matang untuk urusan kerja. Bukan hanya sekedar "yang penting gue kerja" tapi ini masalah hati. Waktu awal-awal saya lulus, ada beberapa perusahaan yang menawarkan pekerjaan. Tapi saya tolak karena alasan yang berbeda-beda. Mulai dari tidak boleh memakai jilbab, jaraknya jauh, gaji tidak cukup, sampai pekerjaan yang memang tidak sesuai dengan saya. Gaji.. Ini bukan masalah gaji yang besar atau kecil. Tapi jaman sekarang ya realistis aja. Kalo saya berpikir, buat apa di gaji diatas 2,2 juta tapi jaraknya cukup jauh sehingga mengeluarkan tambahan yang lumayan untuk ongkos, belum lagi gaya hidup orang kantoran yang kebanyakan maunya makan ditempat yang kalo makan bisa diatas 25rb. Hitunglah sehari kita menghabiskan sekitar 30-50rb, lalu ada sisa gaji untuk akhir bulan? Ngga.
Jujur aja, dengan gaji yang masih di bawah 3 juta saya memang mikir-mikir untuk bekerja diwilayah jakarta. Tau sendiri kan gaya hidup kantoran jakarta gimana? Yang ada malah bikin kita boros. Saya juga bukan tipe orang yang lebih mementingkan merk perusahaan. Apa yang harus di banggakan dengan saya bekerja di bank ternama di indonesia? Kecuali dengan jabatan saya selevel BM, mobil mewah, gaya ala-ala wanita karir banget, kemungkinan saya bisa saja sedikit menunjukkan. Tapi realistisnya saya tidak seperti itu. Bahkan jika suatu saat nanti saya diposisi selevel itu, saya tahu bagaimana jadi bawahan. Saya tidak mau seperti mereka-mereka itu, yang tidak merangkul para karyawannya. Selalu ada tekanan dimana kita bekerja. Tapi yang paling penting, kerja itu dari hati. Dengan lingkungan yang nyaman, gaji sesuai dengan realitas, jarak yang bisa bersahabat dengan gaji, lalu pekerjaan kita yang memang kita sukai. Tapi sebenarnya, lingkunganlah yang lebih dominan dalam bekerja. Bisa dibayangkan jika dari awal kita tidak menyukai bos nya, teman-teman yang tidak bersahabat, atasan yang tidak menghargai, dan kerjaan yang tidak pernah berhenti. Itu artinya cepat atau lambat kamu akan mati perlahan jika masih berada disana. Tapi sayangnya, lagi dan lagi masalah uang dan "yang penting gue kerja". Saya memang pemberontak, saya tidak bisa bekerja disituasi tersebut. Karena saya berfikir masih banyak perusahaan yang menghargai saya. Saya lebih baik keluar dari tempat yang memang sudah tidak nyaman dari pada bertahan dan dianggap pecundang.
Dari pengalaman saya bekerja di beberapa perusahaan, saya justru ingin bekerja diperusahaan yang dekat dari rumah. Kerja dijakarta itu capek banget. Saya harus berangkat pagi buta dan pulang larut. Yang saya bayangkan jika saya bekerja di daerah bekasi, dengan gaji yang sama, mungkin saya bisa berangkat sekitar jam 7 pagi dan pulang jam 5 lewat sudah sampai dirumah. Malam harinya saya bisa istirahat. Gaji? Tentunya akan selalu ada sisa untuk ditabung. Kebanyakan orang jaman sekarang sih lebih pentingin gengsi. Ada sebagian orang yang beranggapan "ga apa-apa yang penting gw kerja disini". Agak miris sih dengernya. Sekali lagi, mereka lebih mementingkan merk perusahaan. Jika saya berkumpul dengan teman-teman dan mereka menanyakan saya berkerja dimana, pasti kebanyakan menjawab "ih enak ya kerja di bank..". Saya hanya menyunggingkan senyum sedikit. Tapi ketika saya bertanya kepada teman dan dia menjawab "gue kerja diperusahaan biasa aja kok didaerah kalimalang", sontak saya langsung menjawab "ah enak bgt! Deket..". Kerja di jakarta tuh jauh (kalo rumahnya ngga dijakarta), ngga enak buat gaji yg dibawah 3 juta. Karena dengan gaya hidup yang kaya gitu malah bikin kita tersiksa yang cuma gaji dibawah 3 juta.
Bukan saya tidak bersyukur, tapi ini realistis. Emang mau gaji akhir bulan tapi awal bulan udah abis? Hahaha.. Realistis ya.. Jakarta. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk resign dari tempat saya bekerja. Saya hanya ingin bekerja ditempat yang tidak mempekerjakan manusia layaknya robot. Ups sorry.. Tapi ini kenyataan. Saya sudah tidak bisa mengikuti aturan disana, buat sayaitu cuma bikin saya gila. Robot aja yang kalo dipake terus akan rusak, gimana manusia? Tapi kalo sakit ga boleh, tapi harus kerja terus, tapi tapi tapi.. Yaudah gitu. Cape aja sih. Buat saya, kerja itu mengisi waktu luang. Bukan kerja yang kaya gini. Hampir 10 jam saya bekerja, dirumah hanya numpang tidur dan mandi, lalu paginya saya berangkat dan menjalankan aktivitas. Itu bukan saya. Karena saya punya kehidupan saya sendiri, keluarga, dan teman-teman saya. Betapa aneh nya saya, mulai masuk kerja ditempat itu saya menjadi seseorang yang anti sosial. Jangankan membalas pesan dari teman-teman, untuk ke kamar kecil saja harus mikir. Karena yaa kerjaan saya yang menuntut harus selesai hari itu juga. Seakan-akan hidup saya tersedot dikantor itu. Saya muak. Sampai akhirnya saya keluar.
Apapun yang kita lakukan, itu untuk hidup kita. Kita berhak menentukan kemana hidup kita. Akan tiba saatnya kita menyerah dan berkata "cukup" pada suatu keadaan dan memilih yang terbaik. Karena bahagia itu, kita yang ciptakan, bukan mereka.
Sabtu, 21 September 2013
Sepuluh Agustus
Hampir setiap hari aku dan
dia sibuk bekerja. Berangkat pagi ketika matahari belum terbit dan pulang
ketika matahari berganti menjadi bulan. Bosan rasanya rutinitas yang itu-itu
saja, weekend pun jadwal sudah padat
dengan rencana pergi dengan daftar; mengatar alfa ( kucing kesayangan ku) ke petshop, salon, nonton bioskop, makan
malam diluar, meet up dengan sahabat, atau memilih diam
saja dirumah. Ya begitulah jadwal aku setiap sabtu atau minggu, aku harus
memilih mana yang lebih prioritas. Beda dengan dia, rencana weekend hanya tidur
seharian atau menghabiskan waktu bersama ku. Akhirnya dengan keseharian aku dan
dia itu-itu saja, kita memutuskan untuk pergi berlibur. Sejenak meninggalkan
rutinitas dan menghilangkan penat soal urusan kantor. Dari jauh hari kita
merencanakan kapan waktu yang pas untuk berlibur, dan hari itu jatuh di tanggal
sehabis lebaran. Karena minggu itu kebetulan kita masih cuti bersama.
Siang hari nya kita
bertengkar, dia memutuskan untuk meng-cancel liburan kita. Itu justru membuat
aku semakin marah, tapi pada akhirnya kita tetap pergi berlibur. Malam hari
kita berangkat jam 21.00 wib, dia menjemput dan aku bersiap untuk pergi. Selama
diperjalanan kita sudah tidak membahas hal yang membuat kita bertengkar tadi
siang. Aku hanya ingin berlibur. Memasuki tol cipularang kita bherhenti di rest area untuk makan malam karena aku
baru sadar bahwa dari siang aku belum makan sama sekali. Setelah keluar tol kopo,
aku ingin buang air kecil akhirnya dia mencari SPBU terdekat yang menyediakan toilet
umum yang bersih, tidak jauh dari keluar tol kita berhenti di SPBU, aku
menyegerakan diri untuk segera ke toilet dan dia melihat-lihat keadaan mobil
yang sedari tadi di tol ada yang tidak beres di mesinnya.
"Ada yang
ngga beres" pikirku. Ternyata benar, ada yang tidak beres dibagian mesin.
Aku tidak tahu persis apa, yang jelas sangat serius dan tidak bisa melanjutkan
perjalanan. Dan.. Ya.. We
stuck in here, in the middle of night. Jam
menunjukkan jam 24.00wib and
let’s you guess, no one people in here. Yaa
kecuali mas-mas SPBU. Jalanan pun sudah lenggang sekali. Oh ya, for your information aja sih, aku pergi
berempat. Dia mengajak 2 orang temannya, namanya bonny dan pian. Jadi kita
liburan 2 pasangan gitu deh ya. Aku dan bonny sudah agak panic begitu tahu
mobil tidak bisa untuk melanjutkan perjalanan. Yaa akhirnya kita berempat nyari
taksi (entahlah kayanya hopeless aja
nemu taksi didaerah begini dan jam segini) atau nyari angkot yang kebetulan
masih ada beberapa angkot yang masih berkeliaran jam segini meskipun hanya 1
atau 2 angkot saja.
“ngga apa-apa
deh kita tidur dimobil aja, mau nyari penginapan dimana coba? Daerah sepi
begini” pinta bonny
“iya bener..ga
apa-apa deh tidur dimobil aja..” sahutku
Tapi emang dasar
laki, mereka khawatir kalo kita tidur dimobil di SPBU kaya gini, jadi mereka
tetep kekeuh nyari angkot. Dan akhirnya kita charter angkot kosong untuk
nyari-nyari penginapan.
“ga apa-apa deh
gue bayar mahal hotel bintang 5 kek, yang penting mau tidur terus hotelnya
nyaman kan” bisik ku pada dia
“tapi mereka
berdua ngga punya duit banyak” jawab dia
Ahh shit. Terus gue mau tidur dimana? Hotel kelas
melati gitu? Shit. Shit.
Sudah hampir
satu jam kita muter-muter daerah yang ngga tau ini ada dimana, kayanya justru
makin jauh dari kota. Tapi si sopir angkot itu benar-benar mengantar kita ke
hotel, dan sampailah kita di.. hotel? Aku ragu ini hotel, sepi banget. Yaudahlah
akhirnya mereka bertiga pergi ke front
office nya untuk ngecek harga, sedangkan aku main bareng sama anak anjing
yang ada disitu, sumpah anjing nya lucu banget. Ngga lama akhirnya kita
mendapatkan kamar dan aku langsung aja masuk ke kamar yang ukurannya kaya kosan
anak kuliahan gitu. Ah yaudahlah dari pada masih nyari-nyari lagi, yang penting
tidur.
Pagi harinya dia
dan pian pergi ketempat SPBU untuk ngecek mobil, aku dan bonny ditinggal
dihotel. Siang hari bonny ngasih tau kalo aku dan dia disuruh untuk menyusul ke
SPBU, dan skalian check out dr hotel.
And of course we not already to shower.
Kebayang ngga sih kita semua tuh buru-buru kaya apa demi mobil?hhh… panas –
panasan naik ojek menuju SPBU, dan ketika sampai aku dan bonny memasang muka
paling bete. Dan tentunya dia sedang sibuk mencari montir dan sparepart untuk mobilnya pian. Aku juga
ngga tega banget liat dia yang mukanya udah kucel sama matahari, cape, dan
pasti laper. Iya, kita berempat akhirnya makan di ampera.
“tadinya si bapa
itu (montirnya) ngga mau benerin mobil gue, Cuma gara-gara gue bilang dari jauh,
akhirnya bapa itu mau” celetuk pian
Ngga lama
setelah itu si bapak montir mengajak kami ke rumahnya biar lebih enak benerin
mobilnya. Yaudah kita berempat langsung pergi kerumah bapak montir nya yang
ngga jauh dari SPBU. Begitu sampai dirumah bapak montirnya, kita disambut baik
sama isterinya dengan logat sunda yang halus.
“ya ampun..
masuk.masuk.. sini atuh teteh masuk, ujan diluar..”
Aku dan bonny
langsung menjawab “iyaa bu..” dan kami langsung masuk dan duduk diruang tengah.
“jadi mobilnya
dititip di SPBU?” Tanya si ibu
“iya bu”
“terus semalem
tidur dimana atuh? Kata si akangnya (maksudnya dia dan pian) di kampung sawah? Bener?”
“iyaa bu.. mana
hotelnya kaya gitu ih..” jawabku dan bonny
“terus nanti
malem mau tidur disitu lagi ngga?”
“ngga bu, kita
udah check out kok”
“bener ya ngga
bakal balik kesitu lagi kan? Soalnya ibu teh mau ngedongeng.. jadi gini dulu
waktu jaman petruk (entahlah ini siapa, mungkin jagoan daerah situ kali)
orang-orang kampung teh dibunuh, dibacok, pokoknya diabisin lah ya. Nah terus mayat-mayatnya
dibuang disitu. Makanya tanah di situ teh murah, nah ada orang kota yang
ngebeli tanahnya, makanya dijadiin hotel. Nah itu hotelnya yang kalian pada
tidur”
Aku dan bonny
sontak teriak histeris, shit bangeeet emang! Bener kan, hotel kaya gitu pasti
ada deh yang namanya aneh-anehnya. Dan sialnya lagi, dia dan pian Cuma cengengesan
dari luar, mereka berdua udah tau cerita ini makanya mereka nyuruh aku dan
bonny untuk segera keluar dari situ. Setelah cerita panjang lebar soal hotel
angker itu, akhirya mobil udah selesai dan kita melanjutkan perjalanan ke
pengalengan. Baru keluar dari komplek si bapa montir, gara-gara pian ngga liat
plang dilarang muter balik, akhirnya ditilang. See? Ngga ada henti-hentinya yang namanya insiden aneh. Begitu disuruh
minggir oleh polisi, pian keluar dan berdebatlah dengan polisi, yaa walaupun
akhirnya 50.000 akhirnya keluar dari kantongnya si pian.
Selama perjalan
dari kopo ke pengalengan aku hanya duduk, melipat tangan, memandang kearah luar
jendela dengan muka yang benarbenar kesal. Gue
kapok banget liburan kaya gini, udah susah ngatur hari, sekalinya dapet malah
sial terus kaya gini, pikirku. Dia yang tidak henti-hentinya merayu ku agar
tidak ngambek tetap saja tidak aku hiraukan. Aku tetap diam. Salama diperjalanan
aku jadi mikir kenapa yang dari tadi ditelepon dia itu justru bonny bukan aku
yang jelas-jelas pacarnya? Kenapa dari mulai nyuruh untuk keluar dari hotel
justru bonny yang diteleponnya? Padahal aku berkali-kali kirim sms tapi tidak
satupun yang dibalas olehnya. Pikiranku sudah kemana-mana dan itu membuatku
menahan marah.
Ketika akhirnya
sudah sampau diperkebunan teh Malabar, dia sudah bosan merayuku dan akhirnya
meninggalkanku yang masih enggan keluar hanya untuk menghirup udara sejuk
perkebunan. Sampai akhirnya pian nyeletuk “chi, lo ngga dandan? Pake lipstick kek,
apa kek gitu..kita kan mau foto-foto..” dan aku hanya menjawab “dih ogah
banget! Males gue..” jawab ku kesal. Dan akhirnya dia menghampiriku dimobil dan
menggenggam tanganku untuk keluar mobil.
“ngga ah
males..udah deh..”
“yauda kita
kesana dulu yuk, jangan dimobil. Bonny sama pian mau ganti baju..”
Dan akhirnya aku
keluar dan.. meluapkan emosi ku.
“eh, denger ya..
gue benci sama lo! Liburan apaan nih
kaya gini! Gue kapok ya!. Oh iya satu lagi, cewe lo itu bonny ya? yang dari
tadi lo telponin Cuma si bonny bukan gue! Gue sms aja ngga dibales-bales, gila
lo ya!”
“maaf sayang..
siapa juga sih yang nyangka bakal kaya gini? Aku telponin bonny karna dia kan
telkomsel, jadi lebih murah” jawabnya dengan nada tenang dan lembut.
“oh jadi karna
gue pake tri, lo gam au telpon gue? Lo itungan bgt sih! Oke kalo lo maunya gitu”
“udah ah jangan
marah-marah, ngga enak diliatin orang.. duduk disitu yuk!”
Aku dan dia
akhirnya duduk dibangku yang ada dipekarangan makam boscha. Jadi ditengah-tengah
kebun teh ada makan boscha, tau dong boscha? Yang membuat teropong bintang. Makam
bernuansa belanda dengan arsitek kuno dan di cat putih. Bonny dan pian langsung
masuk ke makam boscha untuk sekedar foto-foto. Tumben banget makamnya dibuka, biasanya kan selalu digembok. Pikirku.
Tidak lama setelah itu dia mengajakku untuk masuk ke dalam makam untuk ikut
foto-foto.
“males ah.. gue
pengen disini..” jawabku yang masih kesal
“ayo dong
sayang.. yuk! Mumpung kuburannya lagi dibuka nih..” dia merayuku dan
menggenggam tanganku dengan lembut.
Dia mengajak aku
untuk duduk di atas makamnya, eits jangan dipikir yang aneh-aneh ya, karena aku
ngga langsung duduk diatas, tapi di pembatasnya.. dia tiba-tiba memegan
tanganku erat, mengelus punggung tangan ku, dan melihatku dengan.. aku tidak
pernah melihat dia segugup ini.
“aku minta maaf
banget buat liburan yang kacau kaya gini, aku juga ngga nyangka bakal kaya
gini. Aku tahu kamu bete, bete banget. Aku minta maaf, aku janji bakal bayar
semuanya ya kalo kita liburan lagi. Aku pengen bahagiain kamu. Mmmm.. kamu liat
ngga itu apa?( dia menunjuk kearah batu-batu yang diatas makam)”
“apaan?” aku
kaget dan langsung menjauh dari situ
“ih liat dulu
itu apaan..” dia sambil mengambil kotak berwarna merah berbentuk hati
Aku hanya bisa
diam. Tenggorokanku tercekat, aku speechless
banget. Dia membuka kotaknya lalu..
“ini aku tepatin
janji aku, aku sayang banget sama kamu. Kamu mau kan jadi ibu untuk anak-anak ku
nanti? Will you marry me?” dia
berdiri sambl menunggu jawabanku.
Aku masih diam,
aku tidak tahu harus berbicara apa setelah tadi aku bentak-bentak dia dengan
emosi ku yang meledak.
“udah terima
chi! Lo ga liat pengorbanan dia?” bonny dan pian meledek ku, dan mereka justru
sedang merekam momen ini, sial. Bikin malu aja.
“tapi.. kamu
yakin sam aku?” Tanya ku gugup
“yakin, Insya
Allah.. dari dulu juga yakin kok” jawab dia sambil senyum
“terima neng,
Insya Allah memang jodoh. Harus yakin. Ketika lelaki melamar itu artinya memang
Cuma eneng yang pantas jadi jodohnya” celetuk bapak penjaga makam.
Aduh..makin bingung
aku harus jawab apa. Lagipula aku harus benar-benar meyakinkan hatiku.
“kamu yang bener
aja, masa ngelamar aku dengan keadaan kita belum mandi dari semalam gini sih? Mana
di makam pula.. mentang-mentang kamu tau aku suka horror tapi.. makasi yaa
sayang. Aku seneng kamu bener-bener ngerti aku, sampe ngelamar aja di makam
belanda gini, aku suka. Hmmmm… iya aku terima” jawabku pelan
Malamnya kami
sepakat untuk ke daerah lembang untuk mencari penginapan yang wajar. Dan setelah
mencari hampir dua jam akhirnya kami menemukan penginapan yang bagus. Ketika dia
pergi ke toilet, aku, bonny dan pian duduk di ruang tamu tiba-tiba pian
nyeletuk.
“lo tau ngga
chi? Waktu gue minta tolong sama bapak montirnya awalnya dia ngga mau tau
benerin mobil gue. Terus akhirnya gue bilang aja kalo temen saya dia mau
ngelamar pacarnya di pengalengan, makanya saya mohon banget pak.. hahaha
akhirnya bapak nya mau karena tau niat baik”
“ah masa sih?”
jawabku tidak percaya
“ih bener! Tadi juga
tuh pas si akang penjaga kuburan, itukan kuburannya digembok, terus dia minta
tolong banget dibukain. Padahal akang yang pegang kuncinya udah pulang
kerumahnya tapi dia bilang kalo mau ngelamar elo didalem kuburan,makanya
disusulin kerumah yang pegang kuncinya..” lanjut pian
“yang bener lo??”
“iya!! Ni anak
ga percaya banget sih! Namanya orang udah punya niat baik yaa chi, pasti
dikasih cobaan dulu, tapi akhirnya lo seneng kan?” si pian yang meledek aku
dengan senyumannya.
Dia? Seperti ini?
Hanya demi aku? Aku benar-benar terkejut. Karena yang aku tahu dia tidak pernah
seperti ini. Oke aku kesampingkan sifat cuek dia, mungkin memang lelaki akan
seperti ini pada saat momen untuk membahagiakan pasangannya. Hari ini aku
benar-benar bahagia. Aku sudah terikat, aku sudah menjadi calon isterinya. Adakah
yang lebih membuatku berterimakasih kepada cinta selain ini? Wanita mana yang
tidak bahagia ketika ada lelaki yang ingin menjadikannya separuh jiwanya,
separuh hidupnya dan akan menghabiskan masa depannya bersama?. Dia memang sosok
yang aku idamkan untuk menjadi suamiku kelak.
Mmm.. dan
disinilah aku dilamarnya..
Hampir setiap hari aku dan
dia sibuk bekerja. Berangkat pagi ketika matahari belum terbit dan pulang
ketika matahari berganti menjadi bulan. Bosan rasanya rutinitas yang itu-itu
saja, weekend pun jadwal sudah padat
dengan rencana pergi dengan daftar; mengatar alfa ( kucing kesayangan ku) ke petshop, salon, nonton bioskop, makan
malam diluar, meet up dengan sahabat, atau memilih diam
saja dirumah. Ya begitulah jadwal aku setiap sabtu atau minggu, aku harus
memilih mana yang lebih prioritas. Beda dengan dia, rencana weekend hanya tidur
seharian atau menghabiskan waktu bersama ku. Akhirnya dengan keseharian aku dan
dia itu-itu saja, kita memutuskan untuk pergi berlibur. Sejenak meninggalkan
rutinitas dan menghilangkan penat soal urusan kantor. Dari jauh hari kita
merencanakan kapan waktu yang pas untuk berlibur, dan hari itu jatuh di tanggal
sehabis lebaran. Karena minggu itu kebetulan kita masih cuti bersama.
Siang hari nya kita
bertengkar, dia memutuskan untuk meng-cancel liburan kita. Itu justru membuat
aku semakin marah, tapi pada akhirnya kita tetap pergi berlibur. Malam hari
kita berangkat jam 21.00 wib, dia menjemput dan aku bersiap untuk pergi. Selama
diperjalanan kita sudah tidak membahas hal yang membuat kita bertengkar tadi
siang. Aku hanya ingin berlibur. Memasuki tol cipularang kita bherhenti di rest area untuk makan malam karena aku
baru sadar bahwa dari siang aku belum makan sama sekali. Setelah keluar tol kopo,
aku ingin buang air kecil akhirnya dia mencari SPBU terdekat yang menyediakan toilet
umum yang bersih, tidak jauh dari keluar tol kita berhenti di SPBU, aku
menyegerakan diri untuk segera ke toilet dan dia melihat-lihat keadaan mobil
yang sedari tadi di tol ada yang tidak beres di mesinnya.
"Ada yang
ngga beres" pikirku. Ternyata benar, ada yang tidak beres dibagian mesin.
Aku tidak tahu persis apa, yang jelas sangat serius dan tidak bisa melanjutkan
perjalanan. Dan.. Ya.. We
stuck in here, in the middle of night. Jam
menunjukkan jam 24.00wib and
let’s you guess, no one people in here. Yaa
kecuali mas-mas SPBU. Jalanan pun sudah lenggang sekali. Oh ya, for your information aja sih, aku pergi
berempat. Dia mengajak 2 orang temannya, namanya bonny dan pian. Jadi kita
liburan 2 pasangan gitu deh ya. Aku dan bonny sudah agak panic begitu tahu
mobil tidak bisa untuk melanjutkan perjalanan. Yaa akhirnya kita berempat nyari
taksi (entahlah kayanya hopeless aja
nemu taksi didaerah begini dan jam segini) atau nyari angkot yang kebetulan
masih ada beberapa angkot yang masih berkeliaran jam segini meskipun hanya 1
atau 2 angkot saja.
“ngga apa-apa
deh kita tidur dimobil aja, mau nyari penginapan dimana coba? Daerah sepi
begini” pinta bonny
“iya bener..ga
apa-apa deh tidur dimobil aja..” sahutku
Tapi emang dasar
laki, mereka khawatir kalo kita tidur dimobil di SPBU kaya gini, jadi mereka
tetep kekeuh nyari angkot. Dan akhirnya kita charter angkot kosong untuk
nyari-nyari penginapan.
“ga apa-apa deh
gue bayar mahal hotel bintang 5 kek, yang penting mau tidur terus hotelnya
nyaman kan” bisik ku pada dia
“tapi mereka
berdua ngga punya duit banyak” jawab dia
Ahh shit. Terus gue mau tidur dimana? Hotel kelas
melati gitu? Shit. Shit.
Sudah hampir
satu jam kita muter-muter daerah yang ngga tau ini ada dimana, kayanya justru
makin jauh dari kota. Tapi si sopir angkot itu benar-benar mengantar kita ke
hotel, dan sampailah kita di.. hotel? Aku ragu ini hotel, sepi banget. Yaudahlah
akhirnya mereka bertiga pergi ke front
office nya untuk ngecek harga, sedangkan aku main bareng sama anak anjing
yang ada disitu, sumpah anjing nya lucu banget. Ngga lama akhirnya kita
mendapatkan kamar dan aku langsung aja masuk ke kamar yang ukurannya kaya kosan
anak kuliahan gitu. Ah yaudahlah dari pada masih nyari-nyari lagi, yang penting
tidur.
Pagi harinya dia
dan pian pergi ketempat SPBU untuk ngecek mobil, aku dan bonny ditinggal
dihotel. Siang hari bonny ngasih tau kalo aku dan dia disuruh untuk menyusul ke
SPBU, dan skalian check out dr hotel.
And of course we not already to shower.
Kebayang ngga sih kita semua tuh buru-buru kaya apa demi mobil?hhh… panas –
panasan naik ojek menuju SPBU, dan ketika sampai aku dan bonny memasang muka
paling bete. Dan tentunya dia sedang sibuk mencari montir dan sparepart untuk mobilnya pian. Aku juga
ngga tega banget liat dia yang mukanya udah kucel sama matahari, cape, dan
pasti laper. Iya, kita berempat akhirnya makan di ampera.
“tadinya si bapa
itu (montirnya) ngga mau benerin mobil gue, Cuma gara-gara gue bilang dari jauh,
akhirnya bapa itu mau” celetuk pian
Ngga lama
setelah itu si bapak montir mengajak kami ke rumahnya biar lebih enak benerin
mobilnya. Yaudah kita berempat langsung pergi kerumah bapak montir nya yang
ngga jauh dari SPBU. Begitu sampai dirumah bapak montirnya, kita disambut baik
sama isterinya dengan logat sunda yang halus.
“ya ampun..
masuk.masuk.. sini atuh teteh masuk, ujan diluar..”
Aku dan bonny
langsung menjawab “iyaa bu..” dan kami langsung masuk dan duduk diruang tengah.
“jadi mobilnya
dititip di SPBU?” Tanya si ibu
“iya bu”
“terus semalem
tidur dimana atuh? Kata si akangnya (maksudnya dia dan pian) di kampung sawah? Bener?”
“iyaa bu.. mana
hotelnya kaya gitu ih..” jawabku dan bonny
“terus nanti
malem mau tidur disitu lagi ngga?”
“ngga bu, kita
udah check out kok”
“bener ya ngga
bakal balik kesitu lagi kan? Soalnya ibu teh mau ngedongeng.. jadi gini dulu
waktu jaman petruk (entahlah ini siapa, mungkin jagoan daerah situ kali)
orang-orang kampung teh dibunuh, dibacok, pokoknya diabisin lah ya. Nah terus mayat-mayatnya
dibuang disitu. Makanya tanah di situ teh murah, nah ada orang kota yang
ngebeli tanahnya, makanya dijadiin hotel. Nah itu hotelnya yang kalian pada
tidur”
Aku dan bonny
sontak teriak histeris, shit bangeeet emang! Bener kan, hotel kaya gitu pasti
ada deh yang namanya aneh-anehnya. Dan sialnya lagi, dia dan pian Cuma cengengesan
dari luar, mereka berdua udah tau cerita ini makanya mereka nyuruh aku dan
bonny untuk segera keluar dari situ. Setelah cerita panjang lebar soal hotel
angker itu, akhirya mobil udah selesai dan kita melanjutkan perjalanan ke
pengalengan. Baru keluar dari komplek si bapa montir, gara-gara pian ngga liat
plang dilarang muter balik, akhirnya ditilang. See? Ngga ada henti-hentinya yang namanya insiden aneh. Begitu disuruh
minggir oleh polisi, pian keluar dan berdebatlah dengan polisi, yaa walaupun 50.000 akhirnya keluar dari kantongnya si pian.
Selama perjalanan dari kopo ke pengalengan aku hanya duduk, melipat tangan, memandang kearah luar
jendela dengan muka yang benar-benar kesal. Gue
kapok banget liburan kaya gini, udah susah ngatur hari, sekalinya dapet malah
sial terus kaya gini, pikirku. Dia yang tidak henti-hentinya merayu ku agar
tidak ngambek tetap saja tidak aku hiraukan. Aku tetap diam. Salama diperjalanan
aku jadi mikir kenapa yang dari tadi ditelepon dia itu justru bonny bukan aku
yang jelas-jelas pacarnya? Kenapa dari mulai nyuruh untuk keluar dari hotel
justru bonny yang diteleponnya? Padahal aku berkali-kali kirim sms tapi tidak
satupun yang dibalas olehnya. Pikiranku sudah kemana-mana dan itu membuatku
menahan marah.
Ketika akhirnya
sudah sampai diperkebunan teh Malabar, dia sudah bosan merayuku dan akhirnya
meninggalkanku yang masih enggan keluar hanya untuk menghirup udara sejuk
perkebunan. Sampai akhirnya pian nyeletuk “chi, lo ngga dandan? Pake lipstick kek,
apa kek gitu..kita kan mau foto-foto..” dan aku hanya menjawab “dih ogah
banget! Males gue..” jawab ku kesal. Dan akhirnya dia menghampiriku dimobil dan
menggenggam tanganku untuk keluar mobil.
“ngga ah
males..udah deh..”
“yauda kita
kesana dulu yuk, jangan dimobil. Bonny sama pian mau ganti baju..”
Dan akhirnya aku
keluar dan.. meluapkan emosi ku.
“eh, denger ya..
gue benci sama lo! Liburan apaan nih
kaya gini! Gue kapok ya!. Oh iya satu lagi, cewe lo itu bonny ya? yang dari
tadi lo telponin Cuma si bonny bukan gue! Gue sms aja ngga dibales-bales, gila
lo ya!”
“maaf sayang..
siapa juga sih yang nyangka bakal kaya gini? Aku telponin bonny karna dia kan
telkomsel, jadi lebih murah” jawabnya dengan nada tenang dan lembut.
“oh jadi karna
gue pake tri, lo ga mau telpon gue? Lo itungan bgt sih! Oke kalo lo maunya gitu”
“udah ah jangan
marah-marah, ngga enak diliatin orang.. duduk disitu yuk!”
Aku dan dia
akhirnya duduk dibangku yang ada dipekarangan makam boscha. Jadi ditengah-tengah
kebun teh ada makan boscha, tau dong boscha? Yang membuat teropong bintang. Makam
bernuansa belanda dengan arsitek kuno dan di cat putih. Bonny dan pian langsung
masuk ke makam boscha untuk sekedar foto-foto. Tumben banget makamnya dibuka, biasanya kan selalu digembok. Pikirku.
Tidak lama setelah itu dia mengajakku untuk masuk ke dalam makam untuk ikut
foto-foto.
“males ah.. gue
pengen disini..” jawabku yang masih kesal
“ayo dong
sayang.. yuk! Mumpung kuburannya lagi dibuka nih..” dia merayuku dan
menggenggam tanganku dengan lembut.
Dia mengajak aku
untuk duduk di atas makamnya, eits jangan dipikir yang aneh-aneh ya, karena aku
ngga langsung duduk diatas, tapi di pembatasnya.. dia tiba-tiba memegan
tanganku erat, mengelus punggung tangan ku, dan melihatku dengan.. aku tidak
pernah melihat dia segugup ini.
“aku minta maaf
banget buat liburan yang kacau kaya gini, aku juga ngga nyangka bakal kaya
gini. Aku tahu kamu bete, bete banget. Aku minta maaf, aku janji bakal bayar
semuanya ya kalo kita liburan lagi. Aku pengen bahagiain kamu. Mmmm.. kamu liat
ngga itu apa? (dia menunjuk kearah batu-batu yang diatas makam)”
“apaan?” aku
kaget dan langsung menjauh dari situ
“ih liat dulu
itu apaan..” dia sambil mengambil kotak berwarna merah berbentuk hati
Aku hanya bisa
diam. Tenggorokanku tercekat, aku speechless
banget. Dia membuka kotaknya lalu..
“ini aku tepatin
janji aku, aku sayang banget sama kamu. Kamu mau kan jadi ibu untuk anak-anak ku
nanti? Will you marry me?” dia
berdiri sambil menunggu jawabanku.
Aku masih diam,
aku tidak tahu harus berbicara apa setelah tadi aku bentak-bentak dia dengan
emosi ku yang meledak.
“udah terima
chi! Lo ga liat pengorbanan dia?” bonny dan pian meledek ku, dan mereka justru
sedang merekam momen ini, sial. Bikin malu aja.
“tapi.. kamu
yakin sama aku?” Tanya ku gugup
“yakin, Insya
Allah.. dari dulu juga yakin kok” jawab dia sambil senyum
“terima neng,
Insya Allah memang jodoh. Harus yakin. Ketika lelaki melamar itu artinya memang
Cuma eneng yang pantas jadi jodohnya” celetuk bapak penjaga makam.
Aduh..makin bingung
aku harus jawab apa. Lagipula aku harus benar-benar meyakinkan hatiku.
“kamu yang bener
aja, masa ngelamar aku dengan keadaan kita belum mandi dari semalam gini sih? Mana
di makam pula.. mentang-mentang kamu tau aku suka horror tapi.. makasi yaa
sayang. Aku seneng kamu bener-bener ngerti aku, sampe ngelamar aja di makam
belanda gini, aku suka. Hmmmm… iya aku terima” jawabku pelan
dan akhirnya dia memakaikan cincinnya dijari manisku, ukurannya pas banget. Lalu aku memasangkan cincin di jari manisnya dan dia mencium keningku, dengan penuh kasih sayang.
Malamnya kami
sepakat untuk ke daerah lembang untuk mencari penginapan yang wajar. Dan setelah
mencari hampir dua jam akhirnya kami menemukan penginapan yang bagus. Ketika dia
pergi ke toilet, aku, bonny dan pian duduk di ruang tamu tiba-tiba pian
nyeletuk.
“lo tau ngga
chi? Waktu gue minta tolong sama bapak montirnya awalnya dia ngga mau benerin mobil gue. Terus akhirnya gue bilang aja kalo temen saya dia mau
ngelamar pacarnya di pengalengan, makanya saya mohon banget pak.. hahaha
akhirnya bapak nya mau karena tau niat baik”
“ah masa sih?”
jawabku tidak percaya
“ih bener! Tadi juga
tuh pas si akang penjaga kuburan, itukan kuburannya digembok, terus dia minta
tolong banget dibukain. Padahal akang yang pegang kuncinya udah pulang
kerumahnya tapi dia bilang kalo mau ngelamar elo didalem kuburan,makanya
disusulin kerumah yang pegang kuncinya..” lanjut pian
“yang bener lo??”
“iya!! Ni anak
ga percaya banget sih! Namanya orang udah punya niat baik yaa chi, pasti
dikasih cobaan dulu, tapi akhirnya lo seneng kan?” si pian yang meledek aku
dengan senyumannya.
Dia? Seperti ini?
Hanya demi aku? Aku benar-benar terkejut. Karena yang aku tahu dia tidak pernah
seperti ini. Oke aku kesampingkan sifat cuek dia, mungkin memang lelaki akan
seperti ini pada saat momen untuk membahagiakan pasangannya. Hari ini aku
benar-benar bahagia. Aku sudah terikat, aku sudah menjadi calon isterinya. Adakah
yang lebih membuatku berterimakasih kepada cinta selain ini? Wanita mana yang
tidak bahagia ketika ada lelaki yang ingin menjadikannya separuh jiwanya,
separuh hidupnya dan akan menghabiskan masa depannya bersama?. Dia memang sosok
yang aku idamkan untuk menjadi suamiku kelak.
Mmm.. dan
disinilah aku dilamarnya..
keren banget kan? buat aku sih keren. dengan arsitektur belanda kuno ditengah kebun teh. hehehe untuk foto aku berdua dengannya, aku tidak mempublish yaa karena aku belum mandi. harusnya dilamar itu pakai dress, dandan secantik mungkin. Tapi ini justru sama-sama belum mandi, dia hanya mengenakan celana pendek dan kaos. Aku hanya mengenakan kaos hitam dan celana panjang dengan rambut yang acak-acakan. Ya namanya juga terlalu banyak insiden diluar dugaan.
and this is..
Tanda bahwa aku sudah menemukan setengah hidupku, tanda bahwa aku sudah mempunyai epilog dari cerita ku. Insya Allah..
#beberapa hari setelah itu aku mengetahui bahwa ternyata ketika kita jadi pergi liburan, dia buru-buru membeli cincin tunangannya di mall sebelum menjemput aku. ya tentunya ditemani sama bonny dan pian. Bahkan perginya aja aku ngga tau karena aku ngga dikabarin. nyebelin.
#ini postingan baru bisa di update karena selama ini cuma di simpen di draf. gara-gara sibuk ngurusin kerjaan jadi bisa di update sekarag :(
Kamis, 12 September 2013
Als Je is Liefde
Kamu itu seperti rumah, tempat aku menitipkan
hatiku. Tempat aku menyandarkan penatku disaat hari-hari ku kacau dengan urusan
para debitur aneh itu. Menjadi sandaran tubuhku saat setengah diriku hampir
hilang. Dan selalu menenangkan jika aku sudah tidak tahu lagi cara untuk membuat
diriku tetap tersenyum. Kamu itu tau banget aku kaya gimana, tau banget harus
bersikap kaya apa buat ngadepin aku, dan mengerti apa yang selalu manjadi mau
ku.
“udah siap sayang?” Tanya ku di pesan singkat
“udah, tapi naik motor ga apa-apa? Mobil lagi
dipake ibu. Nanti kamu pake jaket ya biar kulit kamu ngga gatel-gatel kena debu
sama ngga kepanasan” balasnya
“hahaha.. iya ngga apa-apa sayang”
Ada seseorang yang sangat mengerti keadaanku
yang sebenarnya, manja? Kayanya menurut aku ngga. Bahkan dia tidak pernah
sekalipun bilang “kamu manja banget jadi cw!” ngga sama sekali. Dia tidak
pernah mengatakan hal seperti itu. Seneng ngga sih sebagai cewek diperlakukan
kaya gitu? Buat aku, udah jarang banget ada cowok yang sebegitu pedulinya
dengan kita.
“aku lagi pengen banget makan serabi nih..”
“yaudah yuk kita cari”
“tapi aku maunya di setia budi”
“tapi bandung hari sabtu kan macet banget
sayang..”
“aku bakal bikin kamu ngga bete dimobil sama
macet, ya!”
Dan pada hari itu juga dia meng-iya-kan
ajakan aku untuk makan serabi di setia budi Bandung. Bodoh? Aku pikir ngga.
Buat ku, cowok dengan sikap yang seperti itu bukan bodoh. Bukan steatment “mau
aja sih jadi cowok rela bela-belain ke bandung Cuma buat makan serabi, kaya
disini ngga ada aja!” yang ada dipikiran dia. Tapi lebih kepada “ngga apa-apa,
selagi aku bisa kenapa ngga?lagian sekalian jalan-jalan juga sama kamu kan..” and that’s him. Buat dia, kebahagiaan
aku, senyuman aku, nyamannya aku disamping dia, itu jauh lebih berharga dari
pada hanya soal itung-itungan masalah uang. Dia tidak pernah sama sekali
perhitungan dalam masalah apapun.
Belum lagi masalah aku yang terkadang suka
seenaknya melakukan hal apapun.
“ya suka-suka aku dong, aku
gimana..blablabla”
“kamu tuh ya kalo aku kasih tau batu banget
deh. Kamu ngga seharusnya ngelakuin hal dengan suka-suka kamu kaya gitu.
Blablabla”
Hal yang seperti ini kadang bikin lutut ku
lemas dan menyadari bahwa aku egois dengan sikap ku yang masih kekanak-kanakan. Tidak lama setelah dia menasehatiku, aku segera meminta maaf atas kelakuan ku yang seperti itu.
“rasanya aku mau resign aja dari kerjaan aku.
Aku udah ngga nyaman”
“yakin? Udah dipikirin mateng-mateng? Kamu
ngga nyesel dengan jabatan kamu sekarang dibank?. Sini aku kasih tau.. “
Dan dia menatapku dalam-dalam setiap aku
mulai putus asa dengan kerjaan yang selalu membunuh otak ku perlahan. Dia
selalu menasehati ku menggantikan posisi ayahku pada saat itu. Dia sangat
dewasa.
“sayang.. aku nanti mau main sama tio di
daerah kemang, boleh?”
“tio itu siapa? Mau main dimana dikemang?
Sampe jam berapa? Berdua aja?”
“temen aku waktu SMA, paling di coffee war.
Ngga sampe malem kok. Iya berdua aja. Boleh?”
“yauda jangan pulang malem-malem ya, nanti
mama nanyain. Nanti kalo aku pulangnya ngga lembur, kamu aku jemput ya!”
Itu dia, hanya sebatas itu pertanyaannya.
Tidak berlebihan, dia percaya sepenuhnya padaku. Karena dia tahu, jika apapun
yang aku lakukan baik atau buruk, aku selalu memberitahu dia. Sekalipun pada
saat itu aku tidak diizinkan pergi nongkrong bersama temanku. Aku tidak akan
memaksanya dan aku tidak akan berangkat. Setidaknya aku tidak berbohong. Dan
biasanya setiap aku berkumpul dengan teman-temanku (yang kebanyakan cowok) dia
selalu aku kenalkan dengan siapa aku berteman. Dia sangat welcome dengan teman-teman ku. Dia menaruh kepercayaan agar aku
jauh lebih bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan. Bukan dengan cara harus
foto sebelum berangkat, dimana, kapan, sama siapa, aku harus menjelaskan dengan
rinci atau bahkan dengan bukti. Hahahahaaa.. its suck, really.
Dia itu simple. Ngga ribet. Santai. Dan ngga
aneh-aneh. Dia pernah bilang “hidup gue udah ribet sama kerjaan, jadi please banget jangan nambahin masalah
gue” saat itu dia berkata sama seorang supir truk yang menyerempet sedan nya.
Ya itupun karena dia udah pusing sama kelakuan supir truk yang ngga mau ngaku
kalo dia salah.
Kadang dia mau untuk mengalah dalam hal-hal
kecil.
“tapi aku mau nya yang ini aja, ini lucu.
Idungnya pesek. Pokoknya kaya gardfield banget! Aku mau yang ini ya..yaa..”
pintaku pada saat memilih kucing
“lucu kucing hutan kan, kaya harimau gitu.
Nanti udah gede nya pasti keren.”
“ngga mau, kucing hutan ribet kasih makannya
ah. Galak lagi. Ngga mau pokoknya. Maunya ini.”
Dia sambil menghela nafas dan “yauda bang,
yang ini berapa?”
Aku hanya tersenyum girang saat dia mengalah.
Atau pada saat..
“jangan ngerokok ya sayang.. aku lagi ngga
mau nyium bau asap rokok”
“hmmmfh.. iya deh”
Dia itu peduli akan kesehatanku, buat dia,
lebih penting aku harus makan malam sampai nambah kalo perlu dibanding harus
mengurus diet ketatku.
“udah makan?”
“udah kok yang tadi siang”
“tadi siang? Ini udh malem sayang. Kamu belum
makan juga? Ayo cari makan diluar”
“hmmm ngga deh sayang, aku ngga laper”
“lupain deh diet-dietan sgala. Asal kamu tau
ya, aku ngga suka sama cewek kurus-kurus. Apaan tuh cewek kurus, ngga ada
bagus-bagusnya” ucapnya kesal sambil menarik tangan ku keluar rumah.
Dan aku pasrah dengan keputusannya untuk tetap
mengajak aku makan diluar. Gagal deh diet
gue.
Salah satu hal yang benar-benar aku kagum
dengannya saat dia tahu woman periods
ku datang. Dia itu lelaki, dan dia paham benar dengan masa-masa PMS ku, jika
tanggal sudah mendekati hari-hari ku biasa datang masalah bulanan, dia tahu
bagaimana bersikap. Aku yang terkadang tidak bisa mengontrol emosi ketika PMS
ku datang. Kadang aku bisa marah-marah tanpa sebab, mengigit dia tanpa sebab,
atau justru malah melankolis kaya cewek-cewek yang di FTV.
“pokoknya gue bete sama lo ya”
“iyaa kasih tau bete gara-gara apa? Karna aku
telat bales sms kamu?”
“ga tau, pokoknya gue kesel.ok.”
“iya ngga apa-apa.. alesannya Cuma 2, paling
karena mau dapet atau emang kangen marah-marah. Soalnya kamu udah lama ngga
marah-marah :D “
See? Aku yang kesel banget mendadak
berubah jadi senyum-senyum sendiri baca pesan singkat dari dia. Dia mengerti
cara mengatasi aku yang sedang tidak stabil emosi nya.
Atau
biasanya..
“sakit banget ya sayang?”
“iyaaa..”jawabku sambil memegangi perut
“mau minum air kelapa?aku beliin ya?biar ngga
sakit lagi..”
Yang lucunya lagi, dia udah tau banget hobi shopping ku yang kalo kata dia "udah kaya orang kesetanan kalo belanja". hahahhaa... pernah atau justru sering dia selalu besikap seperti..
"sampe jam berapa belanjanya?"
"ya ngga tau dong sayang, ini aja baru ke (aku menyebutkan nama toko bajunya) belom lagi aku masih mau liat baju, sepatu, terus kemarin aku liat ada model baru di charles and keith gitu. Nanti deh aku kabarin ya kalo aku udah mau selesai"
"hah? mau beli tas lagi? terus minggu kemarin bukannya kamu baru beli sepatu? terus sekarang mau beli sepatu lagi?" jawab dia dengan nada kaget
"hhahaha..itu kan flatshoes honey.. ini aku mau beli sepatu yang model nya lain. Abis lucu-lucu modelnya, aku jadi.."
"kamu tuh boros banget sih" dia yang langsung memotong pembicaraan aku di telepon.
"hmm iyaa deh honey, aku janji ngga banyak kok belanjanya. ok"
"terserah.."
Kalo udah kaya gini, aku jadi ngebayangin kalo nanti aku udah jadi isteri dia, mungkin dalam satu lemari yang empat pintu, tiga pintunya semua baju-baju aku dan baju dia hanya satu pintu saja. Atau dalam satu rak sepatu, mungkin sepatu dia hanya satu baris, dan sepatuku berbaris-baris kebawah. hahaha..
Tapi pernah sewaktu waktu dia nyeletuk "kalo gitu, semua koleksi baju, tas, sepatu, sama semua barang-barang kesayangan kamu, kamu kumpulin dalam satu ruangan gitu aja.. khusus punya kamu". Dan aku sontak menjawab "aaaaaaaaaakk... emang itu mau aku!! akhirnya kamu ngerti juga", dan kebayang kan pasti muka dia yang langsung menarik nafas panjang dan menghelanya "iyaa deh..terserah kamu".
Ngga tahu lagi aku harus gimana menggambarkan
seorang lelaki kaya dia. Sudah sempurna dimataku. Apalagi dengan sifat dia yang
sayang banget sama ibunya. Buat aku berdecak kagum. Oke aku emang sering lihat
cowok-cowok yang sayang banget sama ibunya. Tapi menurutku, baru kali ini aku
melihat bahwa ada lelaki yang jauh lebih sayang ke ibunya dibandingkan lelaki
lain yang aku lihat. Begitu dia menyayangi ibunya, begitu dia mencintai ibunya,
menghormati sekali, menghargai ibunya, dan bahkan dia tidak pernah sedikitpun
berkata kasar atau membentak ibunya. And that’s
why, maybe he do that to me.
Dia sangat dewasa, mengajariku kemana
harusnya kaki ini berpijak. Bahkan pada suatu waktu dia selalu menjadi partner
debat yang hebat, sahabat disaat aku butuh ketenangan, kakak disaat jiwa
kekanak-kanakan ku muncul, dan kekasih yang selalu menemani.
Dia Lelaki ku.
Lelaki hebat ku.
Selasa, 10 September 2013
Kamu, kita, dan kopi
Hampir setiap hari aku benar-benar disibukkan dengan pekerjaan.
Berangkat disaat orang-orang masih bergerilya dengan mimpi mereka dan pulang (
jika tidak lembur) tepat pada saat orang-orang mungkin sedang asyik menonton
film-film ditelevisi bersama keluarganya. Yeah.. I'am workaholic right now.
Apalagi kalau bukan karena tuntutan mengumpulkan uang demi penghidupan yang
layak, hahahaha udah kaya potongan bait undang-undang dasar aja. But that's true, aku ingin
banget punya uang yang banyak supaya bisa beli ini-itu tanpa harus mikir besok
ngga punya uang. Buat masa depan juga, yaa hitung-hitung nabung. Sukses itu
ngga gampang kan? Memang harus ada perjuangannya. Dan mulai hari ini mau ngga
mau aku harus menjadi pekerja keras.
Untuk urusan cinta, ada dia yg selalu handal membuatku nyaman
ditengah-tengah pekerjaan ku. Dia memang hanya sosok lelaki sederhana dan tidak
pernah menunjukkan kekayaannya. Tetapi dibalik kata 'hanya' terdapat banyak
sesuatu yg jarang dimiliki oleh lelaki lain. Dia bisa menenangkan ku disaat
otak ku tidak beres, dia mau untuk selalu mendengarkan semua keluh kesahku
dengan sabar, dia selalu bisa aku andalkan dalam urusan apapun. Sekedar
mengobrol sambil ngopi dia memang ahlinya. Bercerita tentang apapun hingga
larut malam bisa membuat aku lupa waktu. Dia benar-benar membuatku nyaman. Tapi
tunggu dulu, tidak semua hal kita satu jalan. Ada yang membedakan kita, seperti
pilihan kopi. Ya kopi. Kamu bilang aku hanya sekedar penikmat kopi, dan kamu
pecinta kopi. Aku dengan cappucinno
atau moccacinno nya, sedangkan kamu
selalu dengan kopi hitam atau kopi aceh nya. Berjuta kali kamu mencoba kopi
mulai dari yang murah sampai yang mahal, tetap saja kamu setia dengan kopi aceh
mu itu. Sama hal nya dengan ponsel mu. Semua orang sudah berganti-ganti merk smartphone, tapi kamu tetap
saja dengan nokia Xpressmusic mu itu.
Setia. Kamu yang mencintai tehnologi tetapi tidak menjadi korban perbudakkan
tehnologi. I like him so much. bahkan
untuk urusan social media, kamu tidak
pernah ada waktu untuk mengurusi facebook, twitter, instagram, atau social media lainnya itu. Kamu tidak ada
bedanya denganku, dari pagi hingga malam sibuk dengan urusan pekerjaannya.
Nasihat mu itu selalu menenangkan. Pembawaan kamu yang cuek tapi
menunjukkan sayangnya kamu didepan ku. Kamu tidak pernah mengobral kata-kata
sayang mu itu. Tidak seperti lelaki lain. Aku berpikir, kita; aku dan kamu
adalah sebuah refleksi. Apa yang aku rasakan, kamu selalu mengerti. Begitupun
sebaliknya. Atau ini yang dinamakan belahan jiwa? Aku merasa seperti kosong
jika tidak ada kamu. Dan ternyata kamu pun seperti itu. Aku sadar, aku bukan tipe wanita setia yang selalu disamping
lelaki meskipun sudah disakiti berkali-kali. Tapi ada banyak sesuatu didalam
dirinya yang membuat aku enggan untuk berpikir mencari yang lebih dari dia.
Seorang kamu sudah cukup. Aku sadar, dia yang aku butuhkan. Dia yang aku inginkan.
Dia tahu benar in every part
of me. Jadi dia selalu
memahami ku, maksud ku, kita saling mengerti.
Hanya secangkir kopi dan kita menghabiskan waktu bersama. Kopi
menjadi hal yang wajib kita sisihkan saat perkerjaan membunuh waktu kita setiap
hari. Ada ketenangan saat kita menyasapi secangkir kopi hangat ditengah malam
dan menghembuskan asap dari sebatang rokok. Entahlah, tidak perlu banyak
berfikir mengapa dia yang bisa membuatku bahagia. Just simple thing, dia sederhana with just the way you are-nya. Bukan masalah tampan atau tidak, tetapi
memang aku tidak butuh pria tampan untuk mengisi hidup ku kelak. Terkadang pria
tampan hanya sosok mengerikan yang dengan seenaknya mencintai wanita sana-sini.
Dia memang tidak tampan. Tapi aku lebih menyukai pria manis ketimbang pria
tampan. Yes, he's really adorable!
Dengan postur tubuh yang tinggi dan badan yang tidak terlalu gemuk atau kurus,
berkulit kuning langsat, dan mempunyai senyum yang dengan sekejab bisa
menyihirku. Belum lagi ada janggut-janggut halus yang membingkai wajahnya.
Lelaki yang santai dengan pembawaan yang tegas, bertanggung-jawab,
sopan, dan cerdas dengan pemikiran-pemikiran lelaki modern. Bukan tipe lelaki
yang over protective dan mengharuskan
aku menuruti semua perkataannya atau bahkan selalu mengomentari setiap apapun
yang aku gunakan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku mencintai dia. Ya,
aku mencintai semua tentang dia. Sama halnya ketika aku mencintai saat dimana
kita menghabiskan waktu bersama secangkir kopi.
Selasa, 02 Juli 2013
Gericau dalam Tuli
Aku benci hari ini.
Maaf Tuhan.. aku tidak mengerti apa yang
terjadi, tapi aku benci hari ini. Semua sepertinya tidak ada yang bisa
membuatku tenang, setidaknya nyaman. Aku sendiri diantara kalian, aku diam
diantara setumpuk kalimat-kalimat yang keluar dari mulut kalian yang tidak
ingin aku dengar. Sungguh, aku benci kalian. Dalam beberapa hari ini aku memang
tidak terlalu nyaman diantara kalian. Kalian membawa hari-hari ku semakin
buruk, nampaknya. Dan hari inilah semuanya memuncak. Aku bukan malaikat yang
tidak punya nafsu dan amarah sedikitpun, aku adalah aku. Aku egois,
memang..lalu kenapa? Aku lelah harus mengerti posisi kalian, pernah kalian
tersadar bahwa aku muak berbicara dengan kalian?. Karena pada kenyataannya
semua orang memang lebih egois dari ku.
Tidak setiap hari perasaan ku baik untuk
selalu mengerti kalian, mengerti ucapan kalian dan tidak setiap saat aku bisa
mengangguk dan tersenyum ikhlas. Ada saat dimana aku ingin menutup mulut kalian
dan saat itulah waktu ku berbicara didapan wajah kalian. Aku butuh nasihat,
bukan komentar. Aku butuh perkataan dengan nada yang baik, bukan nada tinggi.
Aku butuh kalian yang membuatku tertawa, bukan sesak. Aku butuh orang yang
menyayangiku memelukku dengan erat disaat aku butuh, bukan justru menghilang.
Kalian.. iya kalian semua, tidak ubahnya seperti angin. Tapi terlalu sering
seperti petir.
Kenapa kalian sibuk mencari tahu siapa
aku? Bukankah hidup kalian sudah terlalu rumit?. Ini dunia ku, hidupku. Tidak
semua kalian harus tahu. Aku muak dengan kenyataan bahwasannya aku harus berada
disamping atau bahkan dikelilingi orang-orang seperti kalian. Semua kata-kata
yang terucap melalui mulut-mulut kalian terdengar sama ditelingaku, omong
kosong. Ingin rasanya pergi dan tidak akan pernah kembali lagi ditempat aku bertemu kalian semua.Karena ketiadaaanku pasti tidak akan berarti apa-apa untuk kalian.
Selasa, 25 Juni 2013
Citcat dengan Sahabat
Dini hari kamu menelpon ku dengan nada terisak, “lo dimana? Gw butuh lo sekarang”. Yaa seperti itulah kamu, tidak pernah mengenal waktu untuk menelpon ku. aku yang terperanjat dari kasurku ketika aku mendengar suara mu aneh, pasti sesuatu yang buruk terjadi lagi dan lagi. Aku yang sedari tadi hanya diam menunggu perintah dari mu, mencoba mendengarkan suaramu yang tidak jelas. “gue tunggu lo ditempat biasa jam 1 lo harus udah sampe ya” tidak lama suaramu terputus dan aku bergegas pergi menuju tempat biasa kita bertemu.
Dan, yaa.. dia sudah sampai dan
memilih duduk dibar sambil ditemani segelas anggur yang berembun. Pandanganmu menerawang
entah kemana. Baju yang kamu pakai malam ini hanya kaos dan celana jeans
andalanmu. Aku duduk menghampirimu. “Lama
banget sih.. sini duduk” kata penyambutan darimu cukup membuatku heran.
Sepertinya kamu tidak kelihatan seperti orang yang sedang ada masalah. Tidak
lama kemudian kamu memanggil pelayan untuk menuangi ku segelas anggur yang sama
dengan kamu. Kamu membenarkan duduk mu, lalu kamu tersenyum dan.. menahan air
mata
“Kok bengong? Ayo kita bersulang untuk hidup gue yang baru!” dan
kita mendetingkan segelas anggur. Akhirnya kamu menempuh hidup baru dengan
lelaki pilihanmu, aku turut berbahagia denganmu sahabat. Malam itu Kamu
tertawa, diam sebentar, berfikir, lalu kamu terus menerus meneguk anggur. Entah
sudah berapa cangkir anggur yang kamu habiskan, apakah itu luapan emosi mu?.
“Semuanya berbeda mulai sekarang, gue mulai menapaki semuanya sendirian.
Ngga ada siapa-siapa. Yaa kecuali keluarga gue”. Kamu mulai bercerita, aku
akan menjadi pendengar baikmu malam ini. Tapi kenapa kamu berbicara tentang
kesendirian? Bukankah kamu sudah memilih dan akan menikah tahun depan?. Aku
tidak ingin memotong sedikitpun cerita kamu, melihatmu saja aku sudah bingung.
Kamu menaruh segelas anggur itu, dan tatapanmu tajam mengarah pada layar
telepon genggammu. “gue itu memilih,
bukan dipilih. Gue pengen bebas, kaya dulu. Gue terlalu pengecut untuk jatuh
cinta lagi. Gue ngga mau terus-terusan disakitin. Nanti kalo waktunya udah
tepat, gue yakin, gue bakal ketemu jodoh gue. Gue ngga mau yang muluk-muluk.
Yang jelas sekarang, gue pengen ngejar karir gue”. Ada kejujuran yang aku
lihat di matamu saat kamu bercerita, aku tahu kamu berbicara sambil menahan
rasa sesak didada. Kamu menarik nafas panjang dan mulai bercerita lagi.
“ini hidup baru gue, tanpa
lelaki-lelaki itu”
“kamu jomblo?”
“yaa kelihatannya? Cheers!” kita mendentingkan lagi gelas
berisikan anggur.
Aku tahu benar sahabatku ini, dia
pandai dalam bersandiwara. Dia bisa menutupi semua yang dia rasa. Aku tidak
tahu benar tetang perasaannya malam ini. Yang terakhir aku tahu, dia menyayangi
lelaki sebelum lelaki dari masa lalunya masuk. Dia sadar, bahwa ternyata masih ada
hati yang tertinggal pada lelaki itu. “gue sadar kok, gue ngga mau maksain
keadaan sesuai yang gue mau. Kadang memang semuanya berjalan seperti yang ngga
kita inginkan, kan?” kata mu pada saat menceritakan lelaki tersebut. Biasanya dia selalu bersemangat setiap kali
menceritakan lelaki itu, lelaki yang dia kenal tahun lalu.
Kamu tersenyum, dan meneguk
segelas anggur. “gue Cuma ngga mau bergantung sama harapan kosong, gue tau yang
sebenernya. Most people around me just come, bother, and hurt me. And then they
go. it is fuck,huh?. Beberapa orang terlahir hanya untuk membahagiakan orang
lain. Beberapa lainnya hanya untuk menyakiti”. Kamu menyeka sebagian kecil air
matamu. Lalu kamu terdiam sesaat dan tersenyum. “entah gue harus seneng apa
sedih. Yang jelas gue cuma ngga mau terlarut dalam kesakitan yang gue rasain.
Ini sakit banget loh, sumpah! Hahaha..”. kamu melihat jam di telepon genggammu,
lalu kamu menaruhnya lagi diatas meja bar. Sudah pukul tiga dini hari. Tidak
ada henti-hentinya kamu bercerita tentang lelaki-lelaki itu.
“lelah banget yaa terus-terusan ngorbanin
perasaan gue karena cinta, Cuma karena lelaki yang gue sayang. Damn banget kan!
Dan gue ngga mau hal itu terjadi lagi dihari-hari gue nantinya. Semua udah ada
yang ngatur, gue ga mau lagi ada diatas panggung, cape”. Perlahan kamu mulai
bisa mengatur nafasmu secara teratur, sesekali kamu merapihkan rambutmu yang
tidak rapih. Sepertinya hatimu mulai lelah pada kenyataan tentang cinta. Aku mengerti.
Lelaki-lelaki itu hanya datang membawa bahagia yang sementara untukmu, tidak
selamanya. Kamu hanya menginginkan kepastian, tapi sampai sekarang
lelaki-lelaki itu tidak memberikan apa yang kamu inginkan. Kamu berjalan dengan
harapan kosong yang entah akan dibawa kemana hubungan itu. Kamu lelah. Ya.. aku
mengerti.
“Harus ngga sih gue nyesel bertemu
mereka?” kamu bertanya dengan mata yang serius.
“ngga kok” aku menjawab dengan muka
datar
“seenggaknya mereka itu ngasih gue
luka yang dalem banget ya. Jadi pastinya gw bakal inget siapa aja yang kasih
bekas luka dihati gue. Hahahaha.. sial.”
Kamu menenggak satu botol anggur dan
mulai terdiam. Aku memberanikan diri untuk bertanya.
“rencana kamu apa kedepannya?”
“pengen ke bandung”
“ngapain? Nonton sarasvati?”
“ngga. Mau ngambil sesuatu yang pernah
gue titipkan ke seseorang.”
dengan tatapan kosong dan pandangan yang menerawang entah kemana, kamu melanjutkan cerita mu. "melupakan seseorang itu sulit lho, tapi bukan berarti dengan cara mencari seseorang yang baru demi menutupi rasa sakit itu. itu pengecut namanya. gue ngga butuh pelarian, gue ngga butuh orang baru. gue butuh kalian, sahabat gue..". lalu kamu mengambil botol anggur dan mendentingkan
di gelasku
“buat hidup gue yang baru, cheers!”
Langganan:
Postingan (Atom)

