Selasa, 02 Juli 2013

Gericau dalam Tuli

Diposting oleh Unknown di 16.02
Aku benci hari ini.

Maaf Tuhan.. aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi aku benci hari ini. Semua sepertinya tidak ada yang bisa membuatku tenang, setidaknya nyaman. Aku sendiri diantara kalian, aku diam diantara setumpuk kalimat-kalimat yang keluar dari mulut kalian yang tidak ingin aku dengar. Sungguh, aku benci kalian. Dalam beberapa hari ini aku memang tidak terlalu nyaman diantara kalian. Kalian membawa hari-hari ku semakin buruk, nampaknya. Dan hari inilah semuanya memuncak. Aku bukan malaikat yang tidak punya nafsu dan amarah sedikitpun, aku adalah aku. Aku egois, memang..lalu kenapa? Aku lelah harus mengerti posisi kalian, pernah kalian tersadar bahwa aku muak berbicara dengan kalian?. Karena pada kenyataannya semua orang memang lebih egois dari ku.

Tidak setiap hari perasaan ku baik untuk selalu mengerti kalian, mengerti ucapan kalian dan tidak setiap saat aku bisa mengangguk dan tersenyum ikhlas. Ada saat dimana aku ingin menutup mulut kalian dan saat itulah waktu ku berbicara didapan wajah kalian. Aku butuh nasihat, bukan komentar. Aku butuh perkataan dengan nada yang baik, bukan nada tinggi. Aku butuh kalian yang membuatku tertawa, bukan sesak. Aku butuh orang yang menyayangiku memelukku dengan erat disaat aku butuh, bukan justru menghilang. Kalian.. iya kalian semua, tidak ubahnya seperti angin. Tapi terlalu sering seperti petir.


Kenapa kalian sibuk mencari tahu siapa aku? Bukankah hidup kalian sudah terlalu rumit?. Ini dunia ku, hidupku. Tidak semua kalian harus tahu. Aku muak dengan kenyataan bahwasannya aku harus berada disamping atau bahkan dikelilingi orang-orang seperti kalian. Semua kata-kata yang terucap melalui mulut-mulut kalian terdengar sama ditelingaku, omong kosong. Ingin rasanya pergi dan tidak akan pernah kembali lagi ditempat aku bertemu kalian semua.Karena ketiadaaanku pasti tidak akan berarti apa-apa untuk kalian.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos