Selasa, 10 September 2013

Kamu, kita, dan kopi

Diposting oleh Unknown di 16.45
Hampir setiap hari aku benar-benar disibukkan dengan pekerjaan. Berangkat disaat orang-orang masih bergerilya dengan mimpi mereka dan pulang ( jika tidak lembur) tepat pada saat orang-orang mungkin sedang asyik menonton film-film ditelevisi bersama keluarganya. Yeah.. I'am workaholic right now. Apalagi kalau bukan karena tuntutan mengumpulkan uang demi penghidupan yang layak, hahahaha udah kaya potongan bait undang-undang dasar aja. But that's true, aku ingin banget punya uang yang banyak supaya bisa beli ini-itu tanpa harus mikir besok ngga punya uang. Buat masa depan juga, yaa hitung-hitung nabung. Sukses itu ngga gampang kan? Memang harus ada perjuangannya. Dan mulai hari ini mau ngga mau aku harus menjadi pekerja keras. 

Untuk urusan cinta, ada dia yg selalu handal membuatku nyaman ditengah-tengah pekerjaan ku. Dia memang hanya sosok lelaki sederhana dan tidak pernah menunjukkan kekayaannya. Tetapi dibalik kata 'hanya' terdapat banyak sesuatu yg jarang dimiliki oleh lelaki lain. Dia bisa menenangkan ku disaat otak ku tidak beres, dia mau untuk selalu mendengarkan semua keluh kesahku dengan sabar, dia selalu bisa aku andalkan dalam urusan apapun. Sekedar mengobrol sambil ngopi dia memang ahlinya. Bercerita tentang apapun hingga larut malam bisa membuat aku lupa waktu. Dia benar-benar membuatku nyaman. Tapi tunggu dulu, tidak semua hal kita satu jalan. Ada yang membedakan kita, seperti pilihan kopi. Ya kopi. Kamu bilang aku hanya sekedar penikmat kopi, dan kamu pecinta kopi. Aku dengan cappucinno atau moccacinno nya, sedangkan kamu selalu dengan kopi hitam atau kopi aceh nya. Berjuta kali kamu mencoba kopi mulai dari yang murah sampai yang mahal, tetap saja kamu setia dengan kopi aceh mu itu. Sama hal nya dengan ponsel mu. Semua orang sudah berganti-ganti merk smartphone, tapi kamu tetap saja dengan nokia Xpressmusic mu itu. Setia. Kamu yang mencintai tehnologi tetapi tidak menjadi korban perbudakkan tehnologi. I like him so much. bahkan untuk urusan social media, kamu tidak pernah ada waktu untuk mengurusi facebook, twitter, instagram, atau social media lainnya itu. Kamu tidak ada bedanya denganku, dari pagi hingga malam sibuk dengan urusan pekerjaannya.

Nasihat mu itu selalu menenangkan. Pembawaan kamu yang cuek tapi menunjukkan sayangnya kamu didepan ku. Kamu tidak pernah mengobral kata-kata sayang mu itu. Tidak seperti lelaki lain. Aku berpikir, kita; aku dan kamu adalah sebuah refleksi. Apa yang aku rasakan, kamu selalu mengerti. Begitupun sebaliknya. Atau ini yang dinamakan belahan jiwa? Aku merasa seperti kosong jika tidak ada kamu. Dan ternyata kamu pun seperti itu. Aku sadar, aku bukan tipe wanita setia yang selalu disamping lelaki meskipun sudah disakiti berkali-kali. Tapi ada banyak sesuatu didalam dirinya yang membuat aku enggan untuk berpikir mencari yang lebih dari dia. Seorang kamu sudah cukup. Aku sadar, dia yang aku butuhkan. Dia yang aku inginkan. Dia tahu benar in every part of me. Jadi dia selalu memahami ku, maksud ku, kita saling mengerti.

Hanya secangkir kopi dan kita menghabiskan waktu bersama. Kopi menjadi hal yang wajib kita sisihkan saat perkerjaan membunuh waktu kita setiap hari. Ada ketenangan saat kita menyasapi secangkir kopi hangat ditengah malam dan menghembuskan asap dari sebatang rokok. Entahlah, tidak perlu banyak berfikir mengapa dia yang bisa membuatku bahagia. Just simple thing, dia sederhana with just the way you are-nya. Bukan masalah tampan atau tidak, tetapi memang aku tidak butuh pria tampan untuk mengisi hidup ku kelak. Terkadang pria tampan hanya sosok mengerikan yang dengan seenaknya mencintai wanita sana-sini. Dia memang tidak tampan. Tapi aku lebih menyukai pria manis ketimbang pria tampan. Yes, he's really adorable! Dengan postur tubuh yang tinggi dan badan yang tidak terlalu gemuk atau kurus, berkulit kuning langsat, dan mempunyai senyum yang dengan sekejab bisa menyihirku. Belum lagi ada janggut-janggut halus yang membingkai wajahnya.

Lelaki yang santai dengan pembawaan yang tegas, bertanggung-jawab, sopan, dan cerdas dengan pemikiran-pemikiran lelaki modern. Bukan tipe lelaki yang over protective dan mengharuskan aku menuruti semua perkataannya atau bahkan selalu mengomentari setiap apapun yang aku gunakan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku mencintai dia. Ya, aku mencintai semua tentang dia. Sama halnya ketika aku mencintai saat dimana kita menghabiskan waktu bersama secangkir kopi. 


0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos