Ku layangkan
pandanganku keluar jendela kereta yang akan mengantarku ke kota pertama kali
aku dan kamu bertemu. Ku hirup udara sejuk yang sudah lama tidak kurasakan di
Jakarta. Aku terdiam dengan secangkir kopi yang hanya ku tatap sedari tadi. Aku
masih ingat benar bagaimana cerita itu ada. Aku masih ingat benar bagaimana
senyum mu saat itu. Dan aku masih ingat..Semuanya. Ada kenangan tentang kita
yang masih hidup dikota ini. Lamunanku pun buyar ketika aku menyadari bahwa aku
telah sampai ditujuan. Ku langkahkan kaki ku menuju kenangan kita.
Bogor sebuah kota yang memiliki banyak
kenangan tentang aku dan kamu. Entahlah.. setiap sudut kota sepertinya selalu
kita lalui bersama tapi sekarang aku hanya seorang diri disini. Angin bertiup
sangat kencang sore ini, sepertinya akan turun hujan. Dan benar saja, tidak
lama bulir-bulir air hujan mulai membasahi baju ku. Aku berlari mencari sebuah
tempat untuk berteduh dan sekaligus untuk beristirahat, dan akhirnya aku
menemukan café yang kebetulan tidak jauh dari situ. Hujan yang mengguyur ku
seakan-akan memberikan sambutan selamat datang untukku. Hujan sore ini tidak
terlalu deras, tapi cukup membasahi sekujur tubuhku dan membuatku menggigil.
Debu-debu dijalanan pun sudah tidak ada, ah.. aroma tanah basah. Hujan membawa
sekian banyak cerita di kota ini, maka kali ini, biarkan aku bercerita. Sebuah
cerita tentang tempat ini dan kenangan di dalamnya.
Ku kumpulkan segenap kekuatan ku untuk
membuka kembali lembaran-lembaran yang sudah ku tutup rapat dari
hidupku. Bukan untuk mengingat kembali, tapi ada sedikit perasaan yang
selalu ku tutupi dari dalam hati, rindu. Ku buang rasa sakitku yang telah ku
kubur dalam dihati, ku buang rasa ego ku jauh sebelum kamu pergi, hanya untuk
membuka lembaran kita. Yaa..lembaran usang tentang kita, tentang rasa yang
pernah ada diantara kita,tentang rindu yang sekarang hinggap dipikiranku. Bisa
kamu bayangkan betapa bodohnya aku tetap membuka lembaran-lembaran ini, menatap
satu per satu tentang kita tentang semua yang kita lalui bersama. Begitu
bahagianya kita dulu, sampai lupa bahwa ada sakit yang tetap setia didalam
hati. Ada rasa saling memiliki yang terlalu, hingga suatu hari kita lupa
bahwa kita saling memiliki.
Tidak.. aku tidak pernah menyalahkan
kamu, bahkan aku tidak pernah menyalahkan takdir yang mempertemukan kita. Luka
ku, luka mu.. aku yakin pasti suatu saat akan mengering dan sembuh. Entah
mengapa sore ini aku memang merindukanmu, bodoh memang.. tapi hanya sosok bodoh
mu yang selalu aku inginkan. Melakukan hal-hal lucu bersama, tertawa bersama,
bahkan kecupan dikening itu yang masih aku rindukan, dan panggilan yang hanya
kamu berikan untukku. Berjuta tawa kita lakukan bersama, tapi seribu tetesan air
mata yang keluar itu justru yang selalu kita ingat. Bagaimana mungkin satu
bibir ini pernah melemparkan kecupan, mengeluarkan janji kita, tetapi satu
bibir ini juga saling melemparkan cacian dan makian yang lebih menyakitkan.
Kamu yang mengajariku bahwa tidak ada
yang lebih kuat selain cinta yang memahami, kamu yang mengajariku bahwa cinta
itu memang selalu memaafkan, kamu yang mengajariku bahwa kesetiaan itu memang
banyak pengorbanan. Kita saling berkorban untuk kita. Hingga suatu saat kita
menyerah pada keadaan, keadaan dimana kita harus melepaskan ego dan perasaan
masing-masing. Kota ini merindukanmu, begitupun aku, dan hujan yang selalu kita
pandangi bersama. Aku mungkin salah
terlalu mengagungkan masa lalu yang sudah terlalu jauh meninggalkanku. Dan kamu
benar tentang perkara cinta bukanlah untuk dikeluhkan. Malam itu hujan menemani
kita, menemaniku yang mulai bergerak menjauhi masa lalu. Hari ini hujan juga menemaniku,
menemani tiap rindu yang aku
tuliskan disini. Untukmu yang pernah dihatiku, jika sampai saatnya
kembali, aku ingin menjemputmu di tempat yang dulu aku ingin menangis karena
kepergianmu.