Rabu, 20 Februari 2013

Sepenggal Cerita di Kota Hujan

Diposting oleh Unknown di 20.56

Ku layangkan pandanganku keluar jendela kereta yang akan mengantarku ke kota pertama kali aku dan kamu bertemu. Ku hirup udara sejuk yang sudah lama tidak kurasakan di Jakarta. Aku terdiam dengan secangkir kopi yang hanya ku tatap sedari tadi. Aku masih ingat benar bagaimana cerita itu ada. Aku masih ingat benar bagaimana senyum mu saat itu. Dan aku masih ingat..Semuanya. Ada kenangan tentang kita yang masih hidup dikota ini. Lamunanku pun buyar ketika aku menyadari bahwa aku telah sampai ditujuan. Ku langkahkan kaki ku menuju kenangan kita.

Bogor sebuah kota yang memiliki banyak kenangan tentang aku dan kamu. Entahlah.. setiap sudut kota sepertinya selalu kita lalui bersama tapi sekarang aku hanya seorang diri disini. Angin bertiup sangat kencang sore ini, sepertinya akan turun hujan. Dan benar saja, tidak lama bulir-bulir air hujan mulai membasahi baju ku. Aku berlari mencari sebuah tempat untuk berteduh dan sekaligus untuk beristirahat, dan akhirnya aku menemukan café yang kebetulan tidak jauh dari situ. Hujan yang mengguyur ku seakan-akan memberikan sambutan selamat datang untukku. Hujan sore ini tidak terlalu deras, tapi cukup membasahi sekujur tubuhku dan membuatku menggigil. Debu-debu dijalanan pun sudah tidak ada, ah.. aroma tanah basah. Hujan membawa sekian banyak cerita di kota ini, maka kali ini, biarkan aku bercerita. Sebuah cerita tentang tempat ini dan kenangan di dalamnya.

Ku kumpulkan segenap kekuatan ku untuk membuka kembali lembaran-lembaran yang sudah ku tutup rapat dari hidupku. Bukan untuk mengingat kembali, tapi ada sedikit perasaan yang selalu ku tutupi dari dalam hati, rindu. Ku buang rasa sakitku yang telah ku kubur dalam dihati, ku buang rasa ego ku jauh sebelum kamu pergi, hanya untuk membuka lembaran kita. Yaa..lembaran usang tentang kita, tentang rasa yang pernah ada diantara kita,tentang rindu yang sekarang hinggap dipikiranku. Bisa kamu bayangkan betapa bodohnya aku tetap membuka lembaran-lembaran ini, menatap satu per satu tentang kita tentang semua yang kita lalui bersama. Begitu bahagianya kita dulu, sampai lupa bahwa ada sakit yang tetap setia didalam hati. Ada  rasa saling memiliki yang terlalu, hingga suatu hari kita lupa bahwa kita saling memiliki.

Tidak.. aku tidak pernah menyalahkan kamu, bahkan aku tidak pernah menyalahkan takdir yang mempertemukan kita. Luka ku, luka mu.. aku yakin pasti suatu saat akan mengering dan sembuh. Entah mengapa sore ini aku memang merindukanmu, bodoh memang.. tapi hanya sosok bodoh mu yang selalu aku inginkan. Melakukan hal-hal lucu bersama, tertawa bersama, bahkan kecupan dikening itu yang masih aku rindukan, dan panggilan yang hanya kamu berikan untukku. Berjuta tawa kita lakukan bersama, tapi seribu tetesan air mata yang keluar itu justru yang selalu kita ingat. Bagaimana mungkin satu bibir ini pernah melemparkan kecupan, mengeluarkan janji kita, tetapi satu bibir ini juga saling melemparkan cacian dan makian yang lebih menyakitkan.
        
Kamu yang mengajariku bahwa tidak ada yang lebih kuat selain cinta yang memahami, kamu yang mengajariku bahwa cinta itu memang selalu memaafkan, kamu yang mengajariku bahwa kesetiaan itu memang banyak pengorbanan. Kita saling berkorban untuk kita. Hingga suatu saat kita menyerah pada keadaan, keadaan dimana kita harus melepaskan ego dan perasaan masing-masing. Kota ini merindukanmu, begitupun aku, dan hujan yang selalu kita pandangi bersama. Aku mungkin salah terlalu mengagungkan masa lalu yang sudah terlalu jauh meninggalkanku. Dan kamu benar tentang perkara cinta bukanlah untuk dikeluhkan. Malam itu hujan menemani kita, menemaniku yang mulai bergerak menjauhi masa lalu. Hari ini hujan juga menemaniku, menemani tiap rindu yang aku tuliskan disini. Untukmu yang pernah dihatiku, jika sampai saatnya kembali, aku ingin menjemputmu di tempat yang dulu aku ingin menangis karena kepergianmu.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos