Aku, kamu, hari ini, dan semuanya..
terima kasih semesta yang akhirnya mempertemukan kita dalam satu waktu yang aku
sendiri tidak pernah menyangka akan bertemu. Siapa yang tahu akan seperti ini?
Tidak ada. Rinduku sudah terbayar lunas saat aku melihat tatapan matanya dan
senyuman bodohnya yang masih seperti dulu. Tidak ada henti-hentinya kita
bercerita satu sama lain, seperti termakan oleh waktu. Hanya ada aku, kamu dan
hujan. Wajah kita memerah jika mengingat masa lalu. Ku tatap matanya dengan
serius saat mendengarkan kamu bercerita bagaimana tahun-tahun kemarin tanpa
aku. Dan lucunya, tanpa sengaja aku dan kamu memakai baju dengan warna yang
sama, sungguh.. itu benar-benar membuat aku menahan tawa selama bersamamu. Setelah
lama kita bercerita akhirnya kamu mengantarku pulang kerumah. Dan pembicaraan
kita tidak terhenti disitu, hingga pagi datang kita masih melanjutkan
pembicaraan. Pembicaraan yang akhirnya membuat kita tanpa sadar meneteskan air
mata. Entah air mata penyesalan atau air mata yang membuat teringat masa lalu.
Pada awalnya aku memang menyesali apa
yang terjadi pada tahun dimana kamu meninggalkanku, tapi semua itu sudah aku
buang jauh-jauh. Hanya seorang kamu yang benar-benar membuatku tersadar bahwa
banyak kekuranganku yang harus aku perbaiki. Perlahan aku belajar dari semua
kesalahan, dan membuatku bisa menjadi lebih baik. Dan sekarang, inilah aku..
sebuah pribadi yang berhasil belajar dari masa lalu. Memang harus terjatuh agar
tahu susahnya untuk bangkit dan memang harus terluka agar tahu seberapa kuat
hati ini.
Daun yang sudah jatuh disungai belum
tentu akan bertemu lagi dilautan, seperti itu takdir. Kita memang tidak pernah
tahu apa yang akan terjadi hari ini, esok, bahkan lusa sekalipun. Pertemuan antara
aku dan kamu tidak pernah ada yang menyangka. Aku disini hanya berjalan
menyusuri jalan hidupku, begitu juga kamu. Setidaknya kita saling mengetahui
bahwa semua itu masih tersimpan rapih ditempatnya. Aku tidak pernah menuntut
apapun, aku juga tidak mau memaksakaan keadaan walaupun aku tahu, mimpi itu
sudah beku. Membuka kembali kotak yang sudah tertutup itu seperti masuk ke
dalam mesin waktu. Aku sudah bahagia walaupun dengan keadaan kita yang berbeda,
paling tidak hubungan kita sudah membaik.
Aku habiskan siang itu berkunjung ke
rumahmu, aku, kamu, dan mama mu, kita bertiga bertukar cerita dan saling
tertawa bersama. Ini seperti masa lalu, aku terdiam menahan agar mataku tidak
berulah. Keluarga mu terutama mama mu, masih menyayangiku. Bisa memeluknya pada
hari itu benar-benar membuatku bahagia. Rumah mu.. rumah yang sudah menjadi
rumah kedua ku. Sampai akhirnya aku tertidur pulas didepan televisi dan tentu
saja ada kamu disampingku. Aroma tubuh mu, dan pelukan hangatmu masih seperti
dulu. Saat aku berpamitan untuk pulang, mama mu memelukku dan menginginkan aku
untuk sering berkunjung. Aku hanya bisa tersenyum menjawabnya, aku ingin.. tapi
keadaan lah yang sudah tidak mungkin.
Hanya sebuah harapan yang bisa membuat
aku dan kamu bisa seperti dulu. Dan ternyata aku dan kamu menyadari bahwa ada
hati yang masih seperti dulu. Tapi kita percaya takdir Tuhan, semesta akan
mempertemukan kita pada waktu yang tepat. Aku hanya berharap ini tidak
berakhir.. semua yang sudah Tuhan rencanakan semoga akan berjalan dengan baik. Pintu
yang dulu sudah terkunci rapat antara aku dan kamu sudah terbuka kembali. Jangan
lagi rusak hanya karena seseorang yang berpikiran sempit. Aku hanya ingin tetap
menjaga hubungan baik ini entah didepan seperti apa. Aku pernah meminta pada Tuhan, aku ingin dipertemukan lagi oleh mu pada suatu hari nanti saat kamu dan aku sudah menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin. Dan permintaan ku terjawab sudah.. Terima kasih Tuhan ku..
0 komentar:
Posting Komentar