Jumat, 15 Februari 2013

Awal Yang Indah

Diposting oleh Unknown di 22.44

Aku, kamu, hari ini, dan semuanya.. terima kasih semesta yang akhirnya mempertemukan kita dalam satu waktu yang aku sendiri tidak pernah menyangka akan bertemu. Siapa yang tahu akan seperti ini? Tidak ada. Rinduku sudah terbayar lunas saat aku melihat tatapan matanya dan senyuman bodohnya yang masih seperti dulu. Tidak ada henti-hentinya kita bercerita satu sama lain, seperti termakan oleh waktu. Hanya ada aku, kamu dan hujan. Wajah kita memerah jika mengingat masa lalu. Ku tatap matanya dengan serius saat mendengarkan kamu bercerita bagaimana tahun-tahun kemarin tanpa aku. Dan lucunya, tanpa sengaja aku dan kamu memakai baju dengan warna yang sama, sungguh.. itu benar-benar membuat aku menahan tawa selama bersamamu. Setelah lama kita bercerita akhirnya kamu mengantarku pulang kerumah. Dan pembicaraan kita tidak terhenti disitu, hingga pagi datang kita masih melanjutkan pembicaraan. Pembicaraan yang akhirnya membuat kita tanpa sadar meneteskan air mata. Entah air mata penyesalan atau air mata yang membuat teringat masa lalu.
          
Pada awalnya aku memang menyesali apa yang terjadi pada tahun dimana kamu meninggalkanku, tapi semua itu sudah aku buang jauh-jauh. Hanya seorang kamu yang benar-benar membuatku tersadar bahwa banyak kekuranganku yang harus aku perbaiki. Perlahan aku belajar dari semua kesalahan, dan membuatku bisa menjadi lebih baik. Dan sekarang, inilah aku.. sebuah pribadi yang berhasil belajar dari masa lalu. Memang harus terjatuh agar tahu susahnya untuk bangkit dan memang harus terluka agar tahu seberapa kuat hati ini. 
          
Daun yang sudah jatuh disungai belum tentu akan bertemu lagi dilautan, seperti itu takdir. Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi hari ini, esok, bahkan lusa sekalipun. Pertemuan antara aku dan kamu tidak pernah ada yang menyangka. Aku disini hanya berjalan menyusuri jalan hidupku, begitu juga kamu. Setidaknya kita saling mengetahui bahwa semua itu masih tersimpan rapih ditempatnya. Aku tidak pernah menuntut apapun, aku juga tidak mau memaksakaan keadaan walaupun aku tahu, mimpi itu sudah beku. Membuka kembali kotak yang sudah tertutup itu seperti masuk ke dalam mesin waktu. Aku sudah bahagia walaupun dengan keadaan kita yang berbeda, paling tidak hubungan kita sudah membaik.
         
Aku habiskan siang itu berkunjung ke rumahmu, aku, kamu, dan mama mu, kita bertiga bertukar cerita dan saling tertawa bersama. Ini seperti masa lalu, aku terdiam menahan agar mataku tidak berulah. Keluarga mu terutama mama mu, masih menyayangiku. Bisa memeluknya pada hari itu benar-benar membuatku bahagia. Rumah mu.. rumah yang sudah menjadi rumah kedua ku. Sampai akhirnya aku tertidur pulas didepan televisi dan tentu saja ada kamu disampingku. Aroma tubuh mu, dan pelukan hangatmu masih seperti dulu. Saat aku berpamitan untuk pulang, mama mu memelukku dan menginginkan aku untuk sering berkunjung. Aku hanya bisa tersenyum menjawabnya, aku ingin.. tapi keadaan lah yang sudah tidak mungkin.
          
Hanya sebuah harapan yang bisa membuat aku dan kamu bisa seperti dulu. Dan ternyata aku dan kamu menyadari bahwa ada hati yang masih seperti dulu. Tapi kita percaya takdir Tuhan, semesta akan mempertemukan kita pada waktu yang tepat. Aku hanya berharap ini tidak berakhir.. semua yang sudah Tuhan rencanakan semoga akan berjalan dengan baik. Pintu yang dulu sudah terkunci rapat antara aku dan kamu sudah terbuka kembali. Jangan lagi rusak hanya karena seseorang yang berpikiran sempit. Aku hanya ingin tetap menjaga hubungan baik ini entah didepan seperti apa. Aku pernah meminta pada Tuhan, aku ingin dipertemukan lagi oleh mu pada suatu hari nanti saat kamu dan aku sudah menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin. Dan permintaan ku terjawab sudah.. Terima kasih Tuhan ku..

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos