Jumat, 30 November 2012

Tanda Tanya

Diposting oleh Unknown di 17.21 0 komentar

 
Ku rebahkan tubuhku diatas tempat tidurku, ku layangkan pikiranku diudara. Aku mencoba berpikir, berpikir, dan berpikir. Entah apa yang ada dipikiranku saat ini. Seperti ada yang menjejalkan sesuatu didalamnya sehingga otakku terus bekerja dan bekerja. Satu persatu kulihat butiran hujan membasahi kaca jendelaku, aku mengalihkan pandanganku keluar jendela. Hujan. Yah.. seperti emosi yang terluapkan begitu saja. Lalu apa yang membuat perasaanku tidak menentu seperti ini? Aneh. Aku terbangun dan berjalan kearah jendela. Aku duduk tepat didepan jendela kamarku, memperhatikan setiap bulir-bulir hujan yang jatuh membasahi jendelaku. Sambil ditemani kopi aku berharap bisa menemukan jawaban dari setumpuk pikiran ku yang tidak menentu ini. Mungkin saja. Karena biasanya aku selalu mendapat ide ketika mensesapi secangkir kopi.

Aku masih terdiam dengan tatapan kosong. Itu bisa aku lihat wajahku dari cermin yang terpasang ditembok kamarku. Datar. Bahkan sangat datar. Tidak seekspresif seperti biasanya. Ada apa sebenarnya? bahkan si otak pun tidak bisa memecahkan apa yang aku rasakan. Suara petir dari luar cukup mengagetkan lamunanku dikamar. Hujan pun sangat deras diluar, sudah bukan bulir-bulir lagi yang jatuh tapi guyuran air yang sangat deras. Petir saling bersahutan diluar. Tapi tetap saja aku masih terdiam. Tanpa jawaban.


Sepenggal lirik lagu Sarasvati masih terngiang ditelingaku "I hear voices at my back disturbing peace for my years sake. I need a rest to hear the air..". Yaa.. Mungkin aku lelah. Aku berada tepat dibawah titik kesanggupanku akan sesuatu. Aku menyerah. Aku tidak bisa menjelaskan mengapa dan bagaimana. Aku sangat lelah. Aku ingin sendiri. Aku ingin duniaku, tanpa mereka. Aku lelah dengan mereka, mereka yang menghancurkan titik kesanggupanku saat ini. Aku masih duduk terdiam lalu menjatuhkan tubuhku diatas lantai yang dingin. Aku berpikir bahwasanya mereka lupa akan hadirnya diriku, mereka lupa atau tidak tahu menahu akan perbuatan yang mereka lakukan? aku lelah menjadi kesalahan mereka. 

Mataku terus menerawang seisi kamarku. Kosong. Seperti pikiranku. Bahkan aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Diam sepertinya menjadi harga mati untuk hari ini. Sudahlah.. tidak perlu memakai topeng untuk menunjukkan peduli mu terhadap ku. Aku benci omong kosong. Semua baik-baik saja sampai akhirnya kalian lah yang menghancurkan semuanya. Aku benci kalian. 

Perlahan-lahan mataku mulai terpejam. Terpejam dalam kesunyian. Gelap. Aku hanya berharap setidaknya jika aku terbangun nanti, Tuhan menunjukkan aku jawaban dari semua ini. Semoga saja..

Waktu, Realita, dan Kebodohanku

Diposting oleh Unknown di 01.26 1 komentar
Tuhan...
Malam ini aku masih saja terjaga, diseperempat malam aku masih berdoa memohon kepadaMu. Mungkin aku salah satu manusia yang selalu menuntut lebih dariMu, yaa aku sadari itu. Saat hati ini selalu bahagia, aku hanya ingin bahagia ku akan selalu ada disampingku. Setidaknya jangan terlalu menjauh dari ku. Ketika Engkau berbisik kepadaku, aku akan tetap mencoba menjadi hamba Mu yang taat. Ketika Engkau memberiku peringatan, aku tahu bahwa duka akan datang menghampiriku. Lagi-lagi Engkau memeluk ku dengan erat, dan merubah semuanya. 

Tuhan...
Hampir setiap malam aku terjaga diseperempat malam hanya untuk berbicara dengan Mu. Aku memohon segala kebaikan tidak menjauh dari hidupku, termasuk dengannya, Tuhan. Ketika Engkau tersenyum melihat kebahagiaan ku, Bahwasannya memang dia lah kebahagiaan kecil ku yang selalu ada disampingku. Bisakah Engkau hentikan waktu yang berputar disaat dia ada disampingku?. Aku begitu takut kehilangan kebahagiaan ku bersamanya. Entah apa yang merasuki ku malam ini, tapi yang jelas aku hanya ingin bahagia dengannya, titik. Begitu besar bahagia yang aku rasakan hari ini, aku merasa seperti kali pertama dicintai. Aku enggan beranjak dari bahagiaku saat bersama dia. Aku hanya ingin seperti ini setiap hari. Melihatnya dia tersenyum manis karena hadirku dan melihat dia bahagia karena cintaku. Semua yang aku rasakan malam ini seperti mimpi. Yaa.. aku benar-benar bisa merasakan tulusnya dekapan peluknya ditengah cahaya bulan. Aku bisa merasakan ikhlasnya senyumannya hanya untukku walaupun bintang mengitip dari atas langit, tapi aku tidak peduli.

Tuhan...
Aku mencintainya tanpa sebab yang jelas, konon katanya jika mencintai seseorang dengan tanpa sebab itu artinya berjodoh, apa itu benar Tuhan? jika memang iya, bolehkah aku meminta cukup dia saja yang menjadi jodohku?. Aku butuh pribadi seperti dia, pribadi yang sederhana namun bisa menjadi mataku ketika aku tidak mampu lagi untuk melihat. Begitu besar keinginanku untuk bisa menghentikan waktu hanya karena aku tidak mau kehilangan dia. Bodoh memang. Siapa yang bisa menghentikan waktu? Begitu besar rasa takutku hingga aku selalu mempertanyakanMu. Maaf Tuhan.. Lagi-lagi aku selalu menjadi bodoh. 

Tuhan...
Jika memang waktu tidak bisa dihentikan, setidaknya jangan pernah hentikan hatinya untukku. Jangan bolak-balikkan hatinya dengan yang lain. Tetapkanlah semuanya yaa Tuhan. Jika memang waktuMu untuk mengetuk palu dan keadilan ternyata tidak berpihak padaku, setidaknya dia tidak jatuh bersama orang yang salah. Setidaknya dia bersama orang yang mempunyai hati seluas samudera untuk mencintainya sepanjang waktu. Setidaknya dia bersama orang yang selalu membutuhkan matanya untuk melangkah ketika tidak bisa melihat. dan Setidaknya dia bersama orang yang selalu mendambakan senyumnya setiap hari bahwa anugerah terbesar dihidupnya.

Terimakasih Tuhan untuk waktu yang panjang malam ini, terimakasih Tuhan.. Lagi-lagi Engkau melemparkan senyum kepadaku malam ini..

Selasa, 20 November 2012

Ketika

Diposting oleh Unknown di 15.50 0 komentar
Ketika mata ku tertutup oleh senyumanmu
ketika jantungku berdetak tidak menentu disampingmu
ketika akhirnya aku dan kamu menjadi satu
ketika kamu menggenggam tangan ku erat
ketika pelukan mu menjadi penghangat dikala aku sendiri
ketika tawa mu mengukir kebahagiaan disetiap hari ku
ketika langkah kita selalu berhenti disetiap jalan
ketika aku dan kamu mencoba untuk saling mengisi
ketika amarahmu membuyarkan pikiranku
ketika aku dan kamu mencoba untuk saling mengerti
ketika cemburu menghantui setiap langkah mu
ketika aku tidak bisa membedakan senyum mu dengan 'senyum mu'
ketika aku tidak bisa membedakan ikhlas mu dengan 'ikhlas mu'
ketika hati ku sudah ku titipkan pada mu
ketika satu per satu kau tancapkan duri dihati ku
ketika perlahan kau robohkan dinding kekuatanku
ketika aku pasrah dengan jalan Tuhan
ketika semuanya terlihat abu-abu dimata ku
ketika aku hampir putus asa
ketika semua yang ku impikan tidak nyata
ketika Tuhan tersenyum kepada ku
ketika akhirnya aku memiih diam
ketika semuanya hambar
ketika aku dengan lantang berkata "Sudah..cukup!"

Sentak Pembohong

Diposting oleh Unknown di 15.48 0 komentar
Akhirnya aku tersenyum lagi, senyum yang kecil, senyum yang sama yang pernah kulempar di saat aku tahu bahwa aku memang bukan satu-satunya. Seharusnya aku lebih berekspresi, sebab kebohongan ini amat menyentak. Aku ingin melangkah mundur sambil memberimu tepuk tangan. Kau hebat. Ini panggungmu, tempat lihai bersandiwara, sementara aku terlampau merasakanmu.

Terkadang, pengakuan adalah pukulan yang telak. Terima kasih, setidaknya setelah kau ketahuan, kau tidak menyangkal. Sekarang aku harus bagaimana? kenyataannya ternyata, hatiku yang berbicara dengan otakmu dan orang terlanjur bilang kita cocok. Sial.

Aku tidak tahu harus bagaimana sekalipun aku tahu kau salah. Orang yang salah patut dihukum sebelum pintu maaf terbuka lebar. Namun hukuman apa yang pantas untuk pembohong? beri tahu aku apa! aku tidak mungkin hanya sekedar menghujan sumpah, sebab kata-kata kutuk tidak seharusnya keluar dari mulutku. Mungkin suatu hari, saat kau telah menggenggam segala keinginanmu, kau hanya akan bertanya aku dimana, sambil menyiksa diri sendiri.


Zarry Hendrik

Minggu, 18 November 2012

Aku Menumuimu, Senja

Diposting oleh Unknown di 15.42 0 komentar

Dini hari, aku terbangun karena dentingan suara alarm yang begitu menyeruak ditelinga. Aku tersentak kaget dan turun dari tempat tidurku. Aku harus segera bergegas menuju bandara, ku siapkan perlengkapan ku, kebutuhan ku dan semuanya yang akan ku bawa. Setelah siap semuanya, aku langsung menuju bandara. Sepi. Tidak terlalu banyak orang yang lalu lalang, mungkin karena masih terlalu dini hari. Aku duduk menunggu panggilan pesawat yang akan aku tumpangi. Bosan. Tidak lama pesawat yang akan aku tumpangi sudah siap untuk beranjak pergi, aku mencari tempat duduk ku dengan membawa koper serta ransel ku. Dan.. yaa aku duduk tepat disebelah jendela pesawat, terimakasih.
Apa yang bisa aku bisa lihat dari sini? Kanan-kiri orang-orang yang tidak aku kenal. Sesekali mereka melemparkan senyuman dan ku balas dengan senyuman ku meskipun mata ku ingin sekali terpejam. Kantuk ini benar-benar membunuhku secara perlahan. Tapi secangkir kopi hangat, buku filsafat kesukaan ku dan sebatang coklat  menjadi temanku selama perjalanan menuju kotamu.
Kesabaran ku seakan dipermainkan ketika aku melihat keluar jendela dan pesawat yang aku tumpangi berjalan sangat lamban, bisakah dipercepat? Aku benar-benar ingin menemuinya. Hhahaa..Seakan menjadi bodoh ketika rindu ini selalu merasuk didalam diriku. Bisakah aku duduk bersabar dan menunggu pesawat ini bekerja seperti semestinya, sepertinya susah. Ku sesapi kopi yang hangat ini, ku buka lembar per lembar buku filsafat ku, dan sesekali ku patahkan batang coklat segitiga ini untuk ku makan. Detik menjadi menit dan menit berubah menjadi jam, berjam-jam aku duduk didalam pesawat. Tidak lama setelah itu pramugari cantik memberitahu bahwa sudah tiba dikota yang akan mempertemukan kita.
Segera ku rapihkan baju ku, rambut ku dan perlengkapan ku. Sesekali aku berkaca pada lorong-lorong untuk memastikan penampilanku. Aku berjalan menyusuri lorong bandara. Ahh..lagi-lagi jantungku berulah, tidak sabar rasanya melihat senyum mu. Begitu sampai dipintu keluar, ku perhatikan satu per satu wajah mereka, tapi tidak ku lihat dirimu. Kemana kamu?. Dan disana kamu rupanya! Berdiri memperhatikanku dari kejauhan. Memakai kemeja hitam dan clana jeans kumal seperti sudah menjadi kebiasaanmu. Kamu berdiri, melambaikan tanganmu ke arah ku, dan tersenyum manis. Aku tersentak kaget melihatmu dari kejauhan, kamu berbeda. Aku mendekatiku dan kamu segera mencium keningku dan memelukku erat, seakan tidak memberiku ruang untuk bernafas. Kamu benar-benar memelukku dengan erat, kita sama-sama rindu.
Aku tiba dikotamu, aku menemuimu, aku merindukanmu, sangat. Lihat..bahkan langit dikotamu seakan menyambutku, ia menurunkan hujan. Sepertinya ini memang hariku, aku bahagia. Ada kamu disampingku dan hujan dengan setia menemani perjalanan kita menuju tempatmu. Aku menemui mu, senja..

Rabu, 07 November 2012

Dipojok Kafe

Diposting oleh Unknown di 20.15 0 komentar

Siang itu aku akan menghabiskan waktuku bersama dengan segelas kopi dikafe yang biasa aku kunjungi. Setibanya aku disana, aku memilih tempat duduk favoritku. Aku duduk tepat disebelah jendela kafe tempat dimana aku selalu menghabiskan waktu dengan aksara.  Tempat ini selalu menjadi bagian tempat favorit ku, bagaimana tidak, aku bisa melihat pemandangan dari dalam. Angin yang selalu berhembus dari luar jendela selalu membuat ku nyaman menulis seharian sampai aku terbunuh oleh waktu. Tidak lama seorang pelayan yang sudah ku kenal menawariku minuman yang selalu aku pilih, yaa.. segelas kopi coklat hangat dengan taburan coklat diatasnya. Aku mulai membuka laptop dan mengetik yang ada dipikiranku sore itu.
Sudah hampir satu jam aku disini, tiba-tiba pintu kafe terbuka dan seorang pria memakai kaca mata, dengan kemeja hitam yang dilipat tangannya, memakai celana jeans dan sepatu boots memasuki kafe. Aku memicingkan sedikit mataku, tidak pernah ku lihat sebelumnya pria itu. Tetapi pelayan yang tadi menawari ku minuman sepertinya sudah akrab dengan pria itu.

***
Hari itu aku putuskan untuk pergi ke kafe diujung jalan bandung, aku berharap bisa bertemu dengan wanita yang selalu menulis diatas tissue yang selalu aku temukan diatas meja sehabis dia meninggalkan kafe. Aku penasaran dengan wanita itu, aku jatuh cinta dengan tulisan-tulisan yang selalu dia tulis diatas tissue. Setibanya aku dikafe, aku menemukan wanita itu persis duduk ditempat favoritku juga. Hari itu aku duduk ditempat yang tidak biasa, bagaimana mungkin aku harus memaksakan diri ku untuk duduk ditempat favoritku jika sudah diisi oleh wanita itu. Biasanya aku menghabiskan waktuku dikafe ini sore sampai malam dan selalu duduk tepat dimana wanita itu duduk sekarang, tapi karena aku ingin bertemu dengan wanita itu, aku datang lebih awal.
Aku tidak menyangka wanita yang selama ini membuatku penasaran tepat didepan mataku. Dia mengenakan dress berwarna hitam, dengan kalung mawar hitam dan sepatu boots hitam. Dia menatapku cukup tajam, ada apa dengan ku? Apakah dia mengenaliku?. Ahh sudahlah.. aku tetap membuka laptop ku dan mengetik, lagipula secangkir kopi coklat sudah ada disampingku.

***
Lelaki itu.. sepertinya aku menyadari bahwa aku dan dia sering bertemu dipintu masuk kafe. Ketika aku melangkah keluar, dia melangkah masuk kedalam kafe. Siapa dia? Mengapa dia memperhatikanku dengan begitu tajam?. dari jauh aku memperhatikan lelaki itu yang sedang menulis sesuatu dilaptopnya, hey.. dia menyadari bahwa aku memperhatikannya, dan dia melemparkan senyuman manisnya dihadapanku. Aku segera membalas dengan senyuman sambil mengangkat secangkir kopi ku.

***
Baiklah.. ini saatnya aku menghampirinya, semoga saja wanita itu tidak menyiramku dengan secangkir kopi yang sedang dia sesapi. Ku berani kan diriku, walaupun rasanya jantung ini sedang tidak bersahabat.

***
“sore..boleh aku duduk dibangku kosong tepat disampingmu?”
“tentu saja, silahkan duduk..”
“sepertinya kamu selalu meninggalkan potongan-potongan tissue ini sehabis kamu duduk ditempat favoritku..”
“jadi selama ini kamu yang megumpulkan semua potongan-potongan tissue ini?terima kasih. Ternyata masih ada seseorang yang meluangkan waktunya untuk membaca potongan-potongan tissue ku”
“tulisanmu yang selalu membuatku berfikir bahwa aksara itu memang indah, semua yang kamu tulis diatas tissue ini yang membuat aku datang lebih awal ke kafe ini, hanya untuk bertemu dengan si pemilik tulisan ini..”
“kamu.. membuat wajahku seketika berwarna merah muda! Terima kasih pujiannya, itu hanya sebuah kata yang belum tentu ada orang yang mau membaca diatas potongan tissue.. jadi, siapa namamu pria berkaca mata?”
“tapi nyatanya, aku selalu membaca setiap tulisan yang kau buat diatas tissue ini.. namaku Reno dan siapa namamu wanita yang berhasil mencuri senyumku?”
“namaku kara. Hey.. jadi ternyata kamu selalu menghabiskan waktu mu di kafe ini setelah aku beranjak pergi dan duduk tepat dimana sekarang kita berada?biar aku tebak.. apakah kamu menyukai aksara juga?”
“yaa! Aku selalu datang kesini hanya untuk meluapkan apa yang ada dipikiranku..aku sangat mengagumi aksara, karena apa yang lebih indah selain kata yang dirangkai menjadi sebuah kalimat dan membuat semua itu tampak menjadi suatu keajaiban..”
“keajabian? Yaa hanya beberapa.. terkadang aksara membuat ku sesak untuk bernafas. Ada kesedihan yang sedang mengumpat disana”
“seperti pedang yang perlahan-lahan menembus dada dan hebatnya lagi, tidak ada darah yang mengucur.”
“lalu berusaha untuk mengeluarkan pedang itu tetapi dada semakin sesakdan akhirnya mati”
“hahahahaaa..”
“aku akan berterima kasih sekali pada hujan yang mengantarmu untuk datang ke kafe ini, duduk disamping ku dan.. melihatmu dari depan mataku”
“dan aku akan berterimakasih sekali pada potongan-potongan tissue ini yang selalu membuat ku penasaran dengan si pemilik tulisan”

***
Seperti itu aku dan dia bertemu hingga akhirnya kami selalu menghabiskan waktu bersama hanya sekedar minum kopi dikala senja atau berbicara tentang aksara hingga pagi menjelang.. terima kasih hujan, terima kasih tissue, dan terima kasih kafe yang selalu menjadi saksi bahwa perbincangan kami dengan aksara lambat laun menghasilkan persabatan antara si pemilik tulisan diatas tissue dengan pria berkaca mata.

***
Ku genggam potongan-potongan tissue ini,masih jelas aksara yang ia tulis..

Ku lihat ia menuangkan kesedihan; kedalam matanya sendiri, begitu tabah. (bdg 2011)
Biar saja, dalam cinta; rasa sakit dan bahagia datang bersama. Kita hanya membutuhkan waktu untuk  membedakannya. (bdg 2011)
Air mata yang jatuh adalah surat cinta yang tak pernah kau buka lipatannya—kata yang terbiar diam, tak terbaca, tak dibaca. (bdg 2011)
Ku piker, rindu hanyalah kecemasan yang disamarkan Tuhan. ( bdg 2011)
Kehilangan, kau tahu; tak pernah lebih pedih dari terlupakan. (bdg 2011)

sajak yang ia ukir  telah mengantarku menemukan wanita yang ku kagumi. Terima kasih si pemilik tulisan diatas tissue.. 
 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos