Rabu, 07 November 2012

Dipojok Kafe

Diposting oleh Unknown di 20.15

Siang itu aku akan menghabiskan waktuku bersama dengan segelas kopi dikafe yang biasa aku kunjungi. Setibanya aku disana, aku memilih tempat duduk favoritku. Aku duduk tepat disebelah jendela kafe tempat dimana aku selalu menghabiskan waktu dengan aksara.  Tempat ini selalu menjadi bagian tempat favorit ku, bagaimana tidak, aku bisa melihat pemandangan dari dalam. Angin yang selalu berhembus dari luar jendela selalu membuat ku nyaman menulis seharian sampai aku terbunuh oleh waktu. Tidak lama seorang pelayan yang sudah ku kenal menawariku minuman yang selalu aku pilih, yaa.. segelas kopi coklat hangat dengan taburan coklat diatasnya. Aku mulai membuka laptop dan mengetik yang ada dipikiranku sore itu.
Sudah hampir satu jam aku disini, tiba-tiba pintu kafe terbuka dan seorang pria memakai kaca mata, dengan kemeja hitam yang dilipat tangannya, memakai celana jeans dan sepatu boots memasuki kafe. Aku memicingkan sedikit mataku, tidak pernah ku lihat sebelumnya pria itu. Tetapi pelayan yang tadi menawari ku minuman sepertinya sudah akrab dengan pria itu.

***
Hari itu aku putuskan untuk pergi ke kafe diujung jalan bandung, aku berharap bisa bertemu dengan wanita yang selalu menulis diatas tissue yang selalu aku temukan diatas meja sehabis dia meninggalkan kafe. Aku penasaran dengan wanita itu, aku jatuh cinta dengan tulisan-tulisan yang selalu dia tulis diatas tissue. Setibanya aku dikafe, aku menemukan wanita itu persis duduk ditempat favoritku juga. Hari itu aku duduk ditempat yang tidak biasa, bagaimana mungkin aku harus memaksakan diri ku untuk duduk ditempat favoritku jika sudah diisi oleh wanita itu. Biasanya aku menghabiskan waktuku dikafe ini sore sampai malam dan selalu duduk tepat dimana wanita itu duduk sekarang, tapi karena aku ingin bertemu dengan wanita itu, aku datang lebih awal.
Aku tidak menyangka wanita yang selama ini membuatku penasaran tepat didepan mataku. Dia mengenakan dress berwarna hitam, dengan kalung mawar hitam dan sepatu boots hitam. Dia menatapku cukup tajam, ada apa dengan ku? Apakah dia mengenaliku?. Ahh sudahlah.. aku tetap membuka laptop ku dan mengetik, lagipula secangkir kopi coklat sudah ada disampingku.

***
Lelaki itu.. sepertinya aku menyadari bahwa aku dan dia sering bertemu dipintu masuk kafe. Ketika aku melangkah keluar, dia melangkah masuk kedalam kafe. Siapa dia? Mengapa dia memperhatikanku dengan begitu tajam?. dari jauh aku memperhatikan lelaki itu yang sedang menulis sesuatu dilaptopnya, hey.. dia menyadari bahwa aku memperhatikannya, dan dia melemparkan senyuman manisnya dihadapanku. Aku segera membalas dengan senyuman sambil mengangkat secangkir kopi ku.

***
Baiklah.. ini saatnya aku menghampirinya, semoga saja wanita itu tidak menyiramku dengan secangkir kopi yang sedang dia sesapi. Ku berani kan diriku, walaupun rasanya jantung ini sedang tidak bersahabat.

***
“sore..boleh aku duduk dibangku kosong tepat disampingmu?”
“tentu saja, silahkan duduk..”
“sepertinya kamu selalu meninggalkan potongan-potongan tissue ini sehabis kamu duduk ditempat favoritku..”
“jadi selama ini kamu yang megumpulkan semua potongan-potongan tissue ini?terima kasih. Ternyata masih ada seseorang yang meluangkan waktunya untuk membaca potongan-potongan tissue ku”
“tulisanmu yang selalu membuatku berfikir bahwa aksara itu memang indah, semua yang kamu tulis diatas tissue ini yang membuat aku datang lebih awal ke kafe ini, hanya untuk bertemu dengan si pemilik tulisan ini..”
“kamu.. membuat wajahku seketika berwarna merah muda! Terima kasih pujiannya, itu hanya sebuah kata yang belum tentu ada orang yang mau membaca diatas potongan tissue.. jadi, siapa namamu pria berkaca mata?”
“tapi nyatanya, aku selalu membaca setiap tulisan yang kau buat diatas tissue ini.. namaku Reno dan siapa namamu wanita yang berhasil mencuri senyumku?”
“namaku kara. Hey.. jadi ternyata kamu selalu menghabiskan waktu mu di kafe ini setelah aku beranjak pergi dan duduk tepat dimana sekarang kita berada?biar aku tebak.. apakah kamu menyukai aksara juga?”
“yaa! Aku selalu datang kesini hanya untuk meluapkan apa yang ada dipikiranku..aku sangat mengagumi aksara, karena apa yang lebih indah selain kata yang dirangkai menjadi sebuah kalimat dan membuat semua itu tampak menjadi suatu keajaiban..”
“keajabian? Yaa hanya beberapa.. terkadang aksara membuat ku sesak untuk bernafas. Ada kesedihan yang sedang mengumpat disana”
“seperti pedang yang perlahan-lahan menembus dada dan hebatnya lagi, tidak ada darah yang mengucur.”
“lalu berusaha untuk mengeluarkan pedang itu tetapi dada semakin sesakdan akhirnya mati”
“hahahahaaa..”
“aku akan berterima kasih sekali pada hujan yang mengantarmu untuk datang ke kafe ini, duduk disamping ku dan.. melihatmu dari depan mataku”
“dan aku akan berterimakasih sekali pada potongan-potongan tissue ini yang selalu membuat ku penasaran dengan si pemilik tulisan”

***
Seperti itu aku dan dia bertemu hingga akhirnya kami selalu menghabiskan waktu bersama hanya sekedar minum kopi dikala senja atau berbicara tentang aksara hingga pagi menjelang.. terima kasih hujan, terima kasih tissue, dan terima kasih kafe yang selalu menjadi saksi bahwa perbincangan kami dengan aksara lambat laun menghasilkan persabatan antara si pemilik tulisan diatas tissue dengan pria berkaca mata.

***
Ku genggam potongan-potongan tissue ini,masih jelas aksara yang ia tulis..

Ku lihat ia menuangkan kesedihan; kedalam matanya sendiri, begitu tabah. (bdg 2011)
Biar saja, dalam cinta; rasa sakit dan bahagia datang bersama. Kita hanya membutuhkan waktu untuk  membedakannya. (bdg 2011)
Air mata yang jatuh adalah surat cinta yang tak pernah kau buka lipatannya—kata yang terbiar diam, tak terbaca, tak dibaca. (bdg 2011)
Ku piker, rindu hanyalah kecemasan yang disamarkan Tuhan. ( bdg 2011)
Kehilangan, kau tahu; tak pernah lebih pedih dari terlupakan. (bdg 2011)

sajak yang ia ukir  telah mengantarku menemukan wanita yang ku kagumi. Terima kasih si pemilik tulisan diatas tissue.. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos