Siang itu aku akan menghabiskan
waktuku bersama dengan segelas kopi dikafe yang biasa aku kunjungi. Setibanya
aku disana, aku memilih tempat duduk favoritku. Aku duduk tepat disebelah
jendela kafe tempat dimana aku selalu menghabiskan waktu dengan aksara. Tempat ini selalu menjadi bagian tempat
favorit ku, bagaimana tidak, aku bisa melihat pemandangan dari dalam. Angin
yang selalu berhembus dari luar jendela selalu membuat ku nyaman menulis
seharian sampai aku terbunuh oleh waktu. Tidak lama seorang pelayan yang sudah
ku kenal menawariku minuman yang selalu aku pilih, yaa.. segelas kopi coklat
hangat dengan taburan coklat diatasnya. Aku mulai membuka laptop dan mengetik
yang ada dipikiranku sore itu.
Sudah hampir satu jam aku disini,
tiba-tiba pintu kafe terbuka dan seorang pria memakai kaca mata, dengan kemeja
hitam yang dilipat tangannya, memakai celana jeans dan sepatu boots memasuki
kafe. Aku memicingkan sedikit mataku, tidak pernah ku lihat sebelumnya pria
itu. Tetapi pelayan yang tadi menawari ku minuman sepertinya sudah akrab dengan
pria itu.
***
Hari itu aku putuskan untuk pergi ke
kafe diujung jalan bandung, aku berharap bisa bertemu dengan wanita yang selalu
menulis diatas tissue yang selalu aku temukan diatas meja sehabis dia
meninggalkan kafe. Aku penasaran dengan wanita itu, aku jatuh cinta dengan
tulisan-tulisan yang selalu dia tulis diatas tissue. Setibanya aku dikafe, aku
menemukan wanita itu persis duduk ditempat favoritku juga. Hari itu aku duduk
ditempat yang tidak biasa, bagaimana mungkin aku harus memaksakan diri ku untuk
duduk ditempat favoritku jika sudah diisi oleh wanita itu. Biasanya aku
menghabiskan waktuku dikafe ini sore sampai malam dan selalu duduk tepat dimana
wanita itu duduk sekarang, tapi karena aku ingin bertemu dengan wanita itu, aku
datang lebih awal.
Aku tidak menyangka wanita yang
selama ini membuatku penasaran tepat didepan mataku. Dia mengenakan dress
berwarna hitam, dengan kalung mawar hitam dan sepatu boots hitam. Dia menatapku
cukup tajam, ada apa dengan ku? Apakah dia mengenaliku?. Ahh sudahlah.. aku
tetap membuka laptop ku dan mengetik, lagipula secangkir kopi coklat sudah ada
disampingku.
***
Lelaki itu.. sepertinya aku
menyadari bahwa aku dan dia sering bertemu dipintu masuk kafe. Ketika aku
melangkah keluar, dia melangkah masuk kedalam kafe. Siapa dia? Mengapa dia
memperhatikanku dengan begitu tajam?. dari jauh aku memperhatikan lelaki itu
yang sedang menulis sesuatu dilaptopnya, hey.. dia menyadari bahwa aku
memperhatikannya, dan dia melemparkan senyuman manisnya dihadapanku. Aku segera
membalas dengan senyuman sambil mengangkat secangkir kopi ku.
***
Baiklah.. ini saatnya aku
menghampirinya, semoga saja wanita itu tidak menyiramku dengan secangkir kopi
yang sedang dia sesapi. Ku berani kan diriku, walaupun rasanya jantung ini
sedang tidak bersahabat.
***
“sore..boleh aku duduk
dibangku kosong tepat disampingmu?”
“tentu
saja, silahkan duduk..”
“sepertinya kamu selalu meninggalkan
potongan-potongan tissue ini sehabis kamu duduk ditempat favoritku..”
“jadi
selama ini kamu yang megumpulkan semua potongan-potongan tissue ini?terima
kasih. Ternyata masih ada seseorang yang meluangkan waktunya untuk membaca
potongan-potongan tissue ku”
“tulisanmu yang selalu membuatku berfikir bahwa
aksara itu memang indah, semua yang kamu tulis diatas tissue ini yang membuat
aku datang lebih awal ke kafe ini, hanya untuk bertemu dengan si pemilik
tulisan ini..”
“kamu..
membuat wajahku seketika berwarna merah muda! Terima kasih pujiannya, itu hanya
sebuah kata yang belum tentu ada orang yang mau membaca diatas potongan
tissue.. jadi, siapa namamu pria berkaca mata?”
“tapi nyatanya, aku selalu membaca setiap tulisan
yang kau buat diatas tissue ini.. namaku Reno dan siapa namamu wanita yang berhasil
mencuri senyumku?”
“namaku
kara. Hey.. jadi ternyata kamu selalu menghabiskan waktu mu di kafe ini setelah
aku beranjak pergi dan duduk tepat dimana sekarang kita berada?biar aku tebak..
apakah kamu menyukai aksara juga?”
“yaa! Aku selalu datang kesini hanya untuk
meluapkan apa yang ada dipikiranku..aku sangat mengagumi aksara, karena apa
yang lebih indah selain kata yang dirangkai menjadi sebuah kalimat dan membuat
semua itu tampak menjadi suatu keajaiban..”
“keajabian?
Yaa hanya beberapa.. terkadang aksara membuat ku sesak untuk bernafas. Ada
kesedihan yang sedang mengumpat disana”
“seperti pedang yang perlahan-lahan menembus dada
dan hebatnya lagi, tidak ada darah yang mengucur.”
“lalu
berusaha untuk mengeluarkan pedang itu tetapi dada semakin sesakdan akhirnya
mati”
“hahahahaaa..”
“aku
akan berterima kasih sekali pada hujan yang mengantarmu untuk datang ke kafe
ini, duduk disamping ku dan.. melihatmu dari depan mataku”
“dan aku akan berterimakasih sekali pada
potongan-potongan tissue ini yang selalu membuat ku penasaran dengan si pemilik
tulisan”
***
Seperti itu aku dan dia
bertemu hingga akhirnya kami selalu menghabiskan waktu bersama hanya sekedar
minum kopi dikala senja atau berbicara tentang aksara hingga pagi menjelang..
terima kasih hujan, terima kasih tissue, dan terima kasih kafe yang selalu
menjadi saksi bahwa perbincangan kami dengan aksara lambat laun menghasilkan
persabatan antara si pemilik tulisan diatas tissue dengan pria berkaca mata.
***
Ku genggam
potongan-potongan tissue ini,masih jelas aksara yang ia tulis..
Ku lihat ia menuangkan kesedihan; kedalam
matanya sendiri, begitu tabah. (bdg 2011)
Biar saja, dalam cinta; rasa sakit dan
bahagia datang bersama. Kita hanya membutuhkan waktu untuk membedakannya. (bdg 2011)
Air mata yang jatuh adalah surat cinta yang
tak pernah kau buka lipatannya—kata yang terbiar diam, tak terbaca, tak dibaca.
(bdg 2011)
Ku piker, rindu hanyalah kecemasan yang
disamarkan Tuhan. ( bdg 2011)
Kehilangan, kau tahu; tak pernah lebih
pedih dari terlupakan. (bdg 2011)
sajak yang ia ukir telah mengantarku menemukan wanita yang ku
kagumi. Terima kasih si pemilik tulisan diatas tissue..
0 komentar:
Posting Komentar