Dini hari, aku terbangun karena
dentingan suara alarm yang begitu menyeruak ditelinga. Aku tersentak kaget dan
turun dari tempat tidurku. Aku harus segera bergegas menuju bandara, ku siapkan
perlengkapan ku, kebutuhan ku dan semuanya yang akan ku bawa. Setelah siap
semuanya, aku langsung menuju bandara. Sepi. Tidak terlalu banyak orang yang
lalu lalang, mungkin karena masih terlalu dini hari. Aku duduk menunggu
panggilan pesawat yang akan aku tumpangi. Bosan. Tidak lama pesawat yang akan
aku tumpangi sudah siap untuk beranjak pergi, aku mencari tempat duduk ku
dengan membawa koper serta ransel ku. Dan.. yaa aku duduk tepat disebelah
jendela pesawat, terimakasih.
Apa yang bisa aku bisa lihat dari
sini? Kanan-kiri orang-orang yang tidak aku kenal. Sesekali mereka melemparkan
senyuman dan ku balas dengan senyuman ku meskipun mata ku ingin sekali
terpejam. Kantuk ini benar-benar membunuhku secara perlahan. Tapi secangkir
kopi hangat, buku filsafat kesukaan ku dan sebatang coklat menjadi temanku selama perjalanan menuju
kotamu.
Kesabaran ku seakan dipermainkan
ketika aku melihat keluar jendela dan pesawat yang aku tumpangi berjalan sangat
lamban, bisakah dipercepat? Aku benar-benar ingin menemuinya. Hhahaa..Seakan
menjadi bodoh ketika rindu ini selalu merasuk didalam diriku. Bisakah aku duduk
bersabar dan menunggu pesawat ini bekerja seperti semestinya, sepertinya susah.
Ku sesapi kopi yang hangat ini, ku buka lembar per lembar buku filsafat ku, dan
sesekali ku patahkan batang coklat segitiga ini untuk ku makan. Detik menjadi
menit dan menit berubah menjadi jam, berjam-jam aku duduk didalam pesawat.
Tidak lama setelah itu pramugari cantik memberitahu bahwa sudah tiba dikota
yang akan mempertemukan kita.
Segera ku rapihkan baju ku, rambut
ku dan perlengkapan ku. Sesekali aku berkaca pada lorong-lorong untuk
memastikan penampilanku. Aku berjalan menyusuri lorong bandara. Ahh..lagi-lagi
jantungku berulah, tidak sabar rasanya melihat senyum mu. Begitu sampai dipintu
keluar, ku perhatikan satu per satu wajah mereka, tapi tidak ku lihat dirimu.
Kemana kamu?. Dan disana kamu rupanya! Berdiri memperhatikanku dari kejauhan.
Memakai kemeja hitam dan clana jeans kumal seperti sudah menjadi kebiasaanmu.
Kamu berdiri, melambaikan tanganmu ke arah ku, dan tersenyum manis. Aku
tersentak kaget melihatmu dari kejauhan, kamu berbeda. Aku mendekatiku dan kamu
segera mencium keningku dan memelukku erat, seakan tidak memberiku ruang untuk
bernafas. Kamu benar-benar memelukku dengan erat, kita sama-sama rindu.
Aku tiba dikotamu, aku menemuimu,
aku merindukanmu, sangat. Lihat..bahkan langit dikotamu seakan menyambutku, ia
menurunkan hujan. Sepertinya ini memang hariku, aku bahagia. Ada kamu
disampingku dan hujan dengan setia menemani perjalanan kita menuju tempatmu.
Aku menemui mu, senja..
0 komentar:
Posting Komentar