Jujur aja, dengan gaji yang masih di bawah 3 juta saya memang mikir-mikir untuk bekerja diwilayah jakarta. Tau sendiri kan gaya hidup kantoran jakarta gimana? Yang ada malah bikin kita boros. Saya juga bukan tipe orang yang lebih mementingkan merk perusahaan. Apa yang harus di banggakan dengan saya bekerja di bank ternama di indonesia? Kecuali dengan jabatan saya selevel BM, mobil mewah, gaya ala-ala wanita karir banget, kemungkinan saya bisa saja sedikit menunjukkan. Tapi realistisnya saya tidak seperti itu. Bahkan jika suatu saat nanti saya diposisi selevel itu, saya tahu bagaimana jadi bawahan. Saya tidak mau seperti mereka-mereka itu, yang tidak merangkul para karyawannya. Selalu ada tekanan dimana kita bekerja. Tapi yang paling penting, kerja itu dari hati. Dengan lingkungan yang nyaman, gaji sesuai dengan realitas, jarak yang bisa bersahabat dengan gaji, lalu pekerjaan kita yang memang kita sukai. Tapi sebenarnya, lingkunganlah yang lebih dominan dalam bekerja. Bisa dibayangkan jika dari awal kita tidak menyukai bos nya, teman-teman yang tidak bersahabat, atasan yang tidak menghargai, dan kerjaan yang tidak pernah berhenti. Itu artinya cepat atau lambat kamu akan mati perlahan jika masih berada disana. Tapi sayangnya, lagi dan lagi masalah uang dan "yang penting gue kerja". Saya memang pemberontak, saya tidak bisa bekerja disituasi tersebut. Karena saya berfikir masih banyak perusahaan yang menghargai saya. Saya lebih baik keluar dari tempat yang memang sudah tidak nyaman dari pada bertahan dan dianggap pecundang.
Dari pengalaman saya bekerja di beberapa perusahaan, saya justru ingin bekerja diperusahaan yang dekat dari rumah. Kerja dijakarta itu capek banget. Saya harus berangkat pagi buta dan pulang larut. Yang saya bayangkan jika saya bekerja di daerah bekasi, dengan gaji yang sama, mungkin saya bisa berangkat sekitar jam 7 pagi dan pulang jam 5 lewat sudah sampai dirumah. Malam harinya saya bisa istirahat. Gaji? Tentunya akan selalu ada sisa untuk ditabung. Kebanyakan orang jaman sekarang sih lebih pentingin gengsi. Ada sebagian orang yang beranggapan "ga apa-apa yang penting gw kerja disini". Agak miris sih dengernya. Sekali lagi, mereka lebih mementingkan merk perusahaan. Jika saya berkumpul dengan teman-teman dan mereka menanyakan saya berkerja dimana, pasti kebanyakan menjawab "ih enak ya kerja di bank..". Saya hanya menyunggingkan senyum sedikit. Tapi ketika saya bertanya kepada teman dan dia menjawab "gue kerja diperusahaan biasa aja kok didaerah kalimalang", sontak saya langsung menjawab "ah enak bgt! Deket..". Kerja di jakarta tuh jauh (kalo rumahnya ngga dijakarta), ngga enak buat gaji yg dibawah 3 juta. Karena dengan gaya hidup yang kaya gitu malah bikin kita tersiksa yang cuma gaji dibawah 3 juta.
Bukan saya tidak bersyukur, tapi ini realistis. Emang mau gaji akhir bulan tapi awal bulan udah abis? Hahaha.. Realistis ya.. Jakarta. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk resign dari tempat saya bekerja. Saya hanya ingin bekerja ditempat yang tidak mempekerjakan manusia layaknya robot. Ups sorry.. Tapi ini kenyataan. Saya sudah tidak bisa mengikuti aturan disana, buat sayaitu cuma bikin saya gila. Robot aja yang kalo dipake terus akan rusak, gimana manusia? Tapi kalo sakit ga boleh, tapi harus kerja terus, tapi tapi tapi.. Yaudah gitu. Cape aja sih. Buat saya, kerja itu mengisi waktu luang. Bukan kerja yang kaya gini. Hampir 10 jam saya bekerja, dirumah hanya numpang tidur dan mandi, lalu paginya saya berangkat dan menjalankan aktivitas. Itu bukan saya. Karena saya punya kehidupan saya sendiri, keluarga, dan teman-teman saya. Betapa aneh nya saya, mulai masuk kerja ditempat itu saya menjadi seseorang yang anti sosial. Jangankan membalas pesan dari teman-teman, untuk ke kamar kecil saja harus mikir. Karena yaa kerjaan saya yang menuntut harus selesai hari itu juga. Seakan-akan hidup saya tersedot dikantor itu. Saya muak. Sampai akhirnya saya keluar.
Apapun yang kita lakukan, itu untuk hidup kita. Kita berhak menentukan kemana hidup kita. Akan tiba saatnya kita menyerah dan berkata "cukup" pada suatu keadaan dan memilih yang terbaik. Karena bahagia itu, kita yang ciptakan, bukan mereka.
0 komentar:
Posting Komentar