Sabtu, 02 November 2013

The Eight coffee

Diposting oleh Unknown di 20.27
Happy saturday night!!
Hahaha iya itu buat mereka yang merasakan indahnya malam ini. 

The eight coffee merupakan kedai kopi bernuansa etnik dengan tata ruangan yang retro, pernak-pernik yang lucu dan tempat yang nyaman untuk sekedar membuang waktu dengan secangkir kopi. Ya, malam ini aku tepat berada di kedai kopi ini. Menikmati malam ku sendiri. Duduk di pojok ruangan bersebelahan dengan jendela yang menghadap ke taman. Sangat pas untuk aku yang memang ingin menghabiskan waktu sendiri, tentunya ditemani coffee latte dengan rasa hazelnut dan sekotak rokok menthol. 

Memang ada yang salah dengan hari ini, malam ini. Merasakan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak dipaksakan. Sampai akhirnya kejadian yang itu-itu saja selalu membuat ku pusing dan putus asa. Aku lelah. Impian yang sepertinya akan tertunda entah sampai kapan dan harapan yang semakin menipis, sampai akhirnya keyakinan mulai dipertanyakan. Masih pantaskah? Masih haruskah? Masih dipertahankan kah? Masih adakah? Dan masih-masih yang lainnya semua bersembunyi didalam hati yang akhirnya malam ini mulai muncul satu per satu hingga membuatku menarik nafas perlahan. Sesuatu yang memang harus aku pikirkan. Ini tentang hidupku. Tentang prinsip yang sedang goyah dan harus menemukan jawaban yang tepat. Tak ku hiraukan suara tawa mereka disekelilingku, aku tetap diam dalam lamunanku sambil menatap keluar jendela. Menghidup aroma menthol dari sebatang rokok disela jariku, dan sesekali menyesapi kopi hazelnut ini. Udara dari luar jendela benar-benar membuatku nyaman, hembusan angin beraroma tanah. Aku masih sibuk dengan menghirup sebatang rokok ku sambil menyesali apa yang sedang terjadi hari ini, malam ini. Apakah semua memang harus begini? Menjalani hidup tanpa tahu akan kemana dan bagaimana. Merencanakan segala sesuatu memang perlu, tapi justru ketakutan yang akan terjadi diesok hari justru lebih mendominasi otak ku, sial. Mencoba terus berfikir seharusnya aku di esok hari, tanpa sadar setengah bungkus rokok sudah habis aku hisap. Aku melihat jam di ponsel ku, masih punya banyak waktu untuk tetap disini. Jadi aku memilih untuk memesan kembali kopi dengan rasa hazelnut nya. Aku butuh tahu siapa aku sebenarnya, dan kemana harusnya aku melangkah. Bukannya hidup dalam ketakutan yang belum tentu benar terjadi, dan membuat semuanya terlihat semakin kacau. Aku benar-benar membuang setiap detik dengan ngopi dan merokok sambil terdiam. Tanpa sadar hari semakin malam. Ketika aku menghabiskan satu batang rokok terakhirku, aku menyadari akan sesuatu. Bahwa apapun yang terjadi disetiap langkah ku, itu merupakan fase sementara saja. Semua ada waktunya. Dan aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengapus ketakutan ku dengan membiarkan diriku berpijak ditempat yang seharusnya aku berada. Terima dengan apa adanya yang terjadi sambil terus bercermin dari sisi yang berbeda. Itu saja. Meninggalkan dua cangkir kopi kosong dan sisa putung rokok yang penuh diasbak, aku meninggalkan the eight coffee malam ini tepat tengah malam. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos