Senin, 17 Juni 2013

Angan

Diposting oleh Unknown di 09.38
Ini hari-hari ku tanpa mu, seperti ada yang hilang memang. Tapi ini kenyataan paling pahit yang harus aku jalani. Kau pergi dan tak akan pernah kembali.

Tiga minggu sebelumnya...
Hari ini aku dan kamu menghabiskan waktu bersama, katamu untuk terakhir kalinya. Dan kamu ingin memenuhi janjimu. Akhirnya kita pergi dan menghabiskan waktu hingga malam hari. Selama dalam perjalanan, hanya hujan yang menemani kita. Kita tertawa bersama dibawah hujan. Bahkan pelukan mu masih menjadi tempat ternyaman ku. Aku melihat kebahagiaan dimatamu, ya.. hari ini.

Dua minggu sebelumnya...
Ternyata Tuhan masih mengijinkan kita untuk bersama. Akhir pekan kita habiskan bersama, kita pergi berlibur, pergi ketempat yang sejuk dan jauh dari hingar-bingar kota. Yang aku tahu, kamu hanya ingin melihatku bahagia. Aku bahagia, sangat. berada didekatmu membuatku nyaman. Kamu mendekap ku hingga matahari membangunkan ku. Sepertinya kamu takut kehilanganku. Aku juga. Aku ingin kita terus seperti ini, tapi sepertinya tidak mungkin. Entahlah.. aku hanya ragu.

Satu minggu sebelumnya...
“aku minta maaf yaa.. makasi buat semuanya. Kamu tetap yang terbaik untuk aku. Ini menjadi pertemuan kita yang terakhir, aku tidak akan bisa melihatmu lagi”.
Tangan hangat mu menyentuh pipi ku, sambil berkata “siapa bilang?kita masih bisa bertemu lagi kok, semua keputusan ada ditanganmu..”. aku mengusap air mata ku pagi itu, aku yakin betul ini menjadi hari terakhir aku melihat senyummu. Aku pasti akan merindukan panggilan itu, dan tentunya pelukanmu.
Kecupan dikening itu menjadi tanda terakhir kalinya kita bertemu, kamu pamit. Pamit untuk sementara, pikirmu. Tapi untuk aku, itu terakhir kalinya kamu mengucapkan “aku pulang dulu yaa” dan kamu tak akan pernah kembali lagi.

Hari-hari setelahnya...
Siapa yang sangka ketika aku membuka mata dipagi hari ternyata tidak ada pesan singkat darimu. Maaf, aku lupa. Mulai hari ini semuanya berbeda. Aku hanya sudah terbiasa dengan kebiasaan kita. Semua berbeda. Sebagian diriku hilang. Aku menjejaki hari-hari tanpa mendengar lagi suaramu, pelukanmu, dan kecupan hangatmu. Berhari-hari aku mencoba untuk memulai semuanya dari awal dan melupakan mu. Karena cepat atau lambat kamu pasti akan melakukannya, melupakanku. Egois memang, aku tidak ingin seperti ini. Yang aku mau, kamu tetap disampingku selamanya. Tapi jika aku lakukan itu, aku menyakitimu. Aku tahu benar kamu kecewa dengan keputusan yang aku ambil. Tapi ini kenyataan, dan memang masih terselip ragu didalam hatiku untuk memilihmu. Aku tahu kamu masih ingin mengejar cita-citamu dan aku tidak ingin merusaknya.

Entah apa yang aku rasakan hari ini dan seterusnya jika tidak ada kamu. Seperti terpenjara dalam sepi. Hening. Aku berjalan menyusuri jalanan yang ada didepanku tanpa kamu disampingku. Mengikhlaskan memang cara yang sangat sulit, tapi terkadang tidak ada lagi yang harus kita lakukan selain dari menerima. Kamu, lelaki yang memiliki arti tersendiri dihidup ku. Lalu sekarang kamu pergi dan aku kehilangan sebagian hidupku.

Hari-hari ini seperti masa lalu ku saja. Kosong. Aku ragu dengan arah yang aku ambil. Perlahan namun pasti, aku melihatmu menjauh bahkan sangat jauh dari sisiku. Bukan lagi punggungmu yang aku lihat, tapi sekarang bayanganmu lah yang aku lihat. Jelas. Dan nyata. Sesekali aku ingin mencoba untuk menghubungimu kembali tapi aku tidak mampu. Belum rela rasanya melihatmu bersama yang lain. Anehnya, setiap kali aku berusaha melupakanmu, aku justru menyakiti hatiku sendiri. Bayanganmu makin nyata terlihat didepan mataku. Sial. Aku merasakan rindu yang membludak, terutama rindu pelukanmu.

Tertunduk lemas aku. Terpenjara dalam sepi. Aku tidak tahu lagi harus seperti apa dan bagaimana. Tapi, sepertinya kamu sudah mulai terbiasa tanpaku. Aku melihat kamu sepertinya sudah mencoba untuk membuka hati dengan yang lain. Baguslah.. kamu lebih hebat ternyata dalam urusan melupakan seseorang. Kenyataan itu rumit dan sulit. Setidaknya aku pernah mencintai seorang kamu. Aku masih menaruhmu ditempat terbaik, dihatiku.

Mencintaimu itu sakit. Banyak pengorbanan yang aku rasakan. Walaupun pada akhirnya aku milikmu seutuhnya. Siapa yang menyangka jika hari ini kita kembali seperti dulu? Aku dan kamu tidak saling mengenal. Aku dan kamu menjadi sosok yang hanya saling tahu melalui social media. Kita tidak bertegur sapa. Yaa.. itu cinta. Sakit bukan?. Kita memilih bersama saja sudah banyak yang kita korbankan, dan pada saat kita berpisah pun memang harus harus ada yang berkoban. Tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti kamu akan membenci ku. Tetapi satu hal yang harus kamu tahu, aku masih disini. Ditempat terakhir kita bertemu. Aku tidak pernah pergi, aku tidak kemana-kemana. Justru kamu yang membelakangiku dan pergi menjauh. Ini pil pahit yang harus aku telan. Setidaknya aku bersyukur kepada Tuhan pernah berada dihati seorang kamu. Aku berterima kasih pada semesta yang pernah mempertemukan kita.

Kita tidak pernah tahu kepada siapa akhirnya hati kita titipkan. Tapi cinta ini memang selalu ada. Sayang ini masih setia didalam sini, dihatiku. Aku akan belajar menerima, terutama melihatmu pergi menjauh. Semoga kamu bahagia dan menemukan orang yang tepat untuk membuat hatimu utuh kembali. Karena aku, selalu mendoakan yang terbaik untuk hidupmu.

Ini hari-hari ku tanpa mu, seperti ada yang hilang memang. Tapi ini kenyataan paling pahit yang harus aku jalani. Kau pergi dan tak akan pernah kembali.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos