Ini hari-hari ku tanpa mu, seperti
ada yang hilang memang. Tapi ini kenyataan paling pahit yang harus aku jalani. Kau
pergi dan tak akan pernah kembali.
Tiga
minggu sebelumnya...
Hari ini aku dan kamu
menghabiskan waktu bersama, katamu untuk terakhir kalinya. Dan kamu ingin memenuhi
janjimu. Akhirnya kita pergi dan menghabiskan waktu hingga malam hari. Selama dalam
perjalanan, hanya hujan yang menemani kita. Kita tertawa bersama dibawah hujan.
Bahkan pelukan mu masih menjadi tempat ternyaman ku. Aku melihat kebahagiaan
dimatamu, ya.. hari ini.
Dua
minggu sebelumnya...
Ternyata Tuhan masih
mengijinkan kita untuk bersama. Akhir pekan kita habiskan bersama, kita pergi
berlibur, pergi ketempat yang sejuk dan jauh dari hingar-bingar kota. Yang aku
tahu, kamu hanya ingin melihatku bahagia. Aku bahagia, sangat. berada didekatmu
membuatku nyaman. Kamu mendekap ku hingga matahari membangunkan ku. Sepertinya kamu
takut kehilanganku. Aku juga. Aku ingin kita terus seperti ini, tapi sepertinya
tidak mungkin. Entahlah.. aku hanya ragu.
Satu
minggu sebelumnya...
“aku minta maaf yaa.. makasi
buat semuanya. Kamu tetap yang terbaik untuk aku. Ini menjadi pertemuan kita
yang terakhir, aku tidak akan bisa melihatmu lagi”.
Tangan hangat mu menyentuh
pipi ku, sambil berkata “siapa bilang?kita masih bisa bertemu lagi kok, semua
keputusan ada ditanganmu..”. aku mengusap air mata ku pagi itu, aku yakin betul
ini menjadi hari terakhir aku melihat senyummu. Aku pasti akan merindukan
panggilan itu, dan tentunya pelukanmu.
Kecupan dikening itu menjadi
tanda terakhir kalinya kita bertemu, kamu pamit. Pamit untuk sementara,
pikirmu. Tapi untuk aku, itu terakhir kalinya kamu mengucapkan “aku pulang dulu
yaa” dan kamu tak akan pernah kembali lagi.
Hari-hari
setelahnya...
Siapa yang sangka ketika aku
membuka mata dipagi hari ternyata tidak ada pesan singkat darimu. Maaf, aku
lupa. Mulai hari ini semuanya berbeda. Aku hanya sudah terbiasa dengan
kebiasaan kita. Semua berbeda. Sebagian diriku hilang. Aku menjejaki hari-hari
tanpa mendengar lagi suaramu, pelukanmu, dan kecupan hangatmu. Berhari-hari aku
mencoba untuk memulai semuanya dari awal dan melupakan mu. Karena cepat atau
lambat kamu pasti akan melakukannya, melupakanku. Egois memang, aku tidak ingin
seperti ini. Yang aku mau, kamu tetap disampingku selamanya. Tapi jika aku
lakukan itu, aku menyakitimu. Aku tahu benar kamu kecewa dengan keputusan yang
aku ambil. Tapi ini kenyataan, dan memang masih terselip ragu didalam hatiku
untuk memilihmu. Aku tahu kamu masih ingin mengejar cita-citamu dan aku tidak
ingin merusaknya.
Entah apa yang aku rasakan
hari ini dan seterusnya jika tidak ada kamu. Seperti terpenjara dalam sepi. Hening.
Aku berjalan menyusuri jalanan yang ada didepanku tanpa kamu disampingku. Mengikhlaskan
memang cara yang sangat sulit, tapi terkadang tidak ada lagi yang harus kita
lakukan selain dari menerima. Kamu, lelaki yang memiliki arti tersendiri
dihidup ku. Lalu sekarang kamu pergi dan aku kehilangan sebagian hidupku.
Hari-hari ini seperti masa
lalu ku saja. Kosong. Aku ragu dengan arah yang aku ambil. Perlahan namun
pasti, aku melihatmu menjauh bahkan sangat jauh dari sisiku. Bukan lagi
punggungmu yang aku lihat, tapi sekarang bayanganmu lah yang aku lihat. Jelas. Dan
nyata. Sesekali aku ingin mencoba untuk menghubungimu kembali tapi aku tidak
mampu. Belum rela rasanya melihatmu bersama yang lain. Anehnya, setiap kali aku
berusaha melupakanmu, aku justru menyakiti hatiku sendiri. Bayanganmu makin
nyata terlihat didepan mataku. Sial. Aku merasakan rindu yang membludak,
terutama rindu pelukanmu.
Tertunduk lemas aku. Terpenjara
dalam sepi. Aku tidak tahu lagi harus seperti apa dan bagaimana. Tapi,
sepertinya kamu sudah mulai terbiasa tanpaku. Aku melihat kamu sepertinya sudah
mencoba untuk membuka hati dengan yang lain. Baguslah.. kamu lebih hebat
ternyata dalam urusan melupakan seseorang. Kenyataan itu rumit dan sulit. Setidaknya
aku pernah mencintai seorang kamu. Aku masih menaruhmu ditempat terbaik,
dihatiku.
Mencintaimu itu sakit. Banyak pengorbanan
yang aku rasakan. Walaupun pada akhirnya aku milikmu seutuhnya. Siapa yang
menyangka jika hari ini kita kembali seperti dulu? Aku dan kamu tidak saling
mengenal. Aku dan kamu menjadi sosok yang hanya saling tahu melalui social media.
Kita tidak bertegur sapa. Yaa.. itu cinta. Sakit bukan?. Kita memilih bersama
saja sudah banyak yang kita korbankan, dan pada saat kita berpisah pun memang
harus harus ada yang berkoban. Tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti kamu
akan membenci ku. Tetapi satu hal yang harus kamu tahu, aku masih disini. Ditempat
terakhir kita bertemu. Aku tidak pernah pergi, aku tidak kemana-kemana. Justru kamu
yang membelakangiku dan pergi menjauh. Ini pil pahit yang harus aku telan. Setidaknya
aku bersyukur kepada Tuhan pernah berada dihati seorang kamu. Aku berterima
kasih pada semesta yang pernah mempertemukan kita.
Kita tidak pernah tahu kepada
siapa akhirnya hati kita titipkan. Tapi cinta ini memang selalu ada. Sayang ini
masih setia didalam sini, dihatiku. Aku akan belajar menerima, terutama
melihatmu pergi menjauh. Semoga kamu bahagia dan menemukan orang yang tepat
untuk membuat hatimu utuh kembali. Karena aku, selalu mendoakan yang terbaik
untuk hidupmu.
Ini hari-hari ku tanpa mu, seperti
ada yang hilang memang. Tapi ini kenyataan paling pahit yang harus aku jalani. Kau
pergi dan tak akan pernah kembali.
0 komentar:
Posting Komentar