Sore itu, ketika aku tengah duduk
didepan ruangan aku melihatmu untuk pertama kalinya. Kita sama-sama terdiam
saling menatap mata satu sama lain. Aku terdiam, ini kah kamu yang selama ini
dibicarakan? Tanpa berpikir panjang kamu ulurkan tanganmu tanda ingin
berkenalan denganku. Aku tersenyum, malu, dan senang akhirnya aku bisa
berkenalan denganmu. Sejak saat itu pertemanan kita berlanjut hanya sekedar
basa-basi yang menurut ku standar, tapi aku tetap menyukainya. Menatap layar handphone dan tersenyum senang ketika
pesan singkatmu ku baca.
Aku tahu kamu cuek, atau mungkin
pemalu. Pembicaraan terlihat asing diantara kita, meskipun selalu aku yang
mencoba untuk mencairkan suasana karena aku ingin mengetahui tentang kamu. Kamu
sangat misterius, susah untuk ditebak. Hari berganti hari.. kamu tetap dingin,
ketika pembicaraan yang kita diskusi kan tidak terlalu penting. Suatu hari kamu
menanyakan tentang alamat blog ku, katamu tulisan didalam blogku bagus,
meskipun menurutku tulisanku masih jauh dari penulis-penulis professional. Aku
mulai menikmati pertemanan kita yang seperti ini tapi ada sisi lain didalam
diriku yang ingin mengetahui tentang kamu. Aku berusaha untuk mencari tahu
tentang kamu, walaupun aku harus terima resikonya. Tidak ada status-status yang
aneh di facebook mu, personal message di blackberry messanger mu pun biasa saja, tapi ternyata ketika aku
membaca timeline mu di twitter, terlihat jelas ada yang lain
disana. Aku hanya ingin menembus hitam dimatamu, sekedar ingin tahu, apakah kau
melihatku.
Sedikit sesak dada ini ketika
mengetahuinya, tapi tak apalah. Lalu apa yang harus aku sesakkan?perasaan
ku?ada apa dengan perasaan ku??. Yaa Tuhan.. ada apa dengan semua ini? Harusnya
aku tersenyum melihat dia telah bahagia dengan yang lain, bukan sesak seperti
ini. Sejak malam itu aku
sadar, ada yang berbeda dengan perasaan ku. Malam dimana ketika kita
menghabiskan waktu untuk berdiskusi dan makan malam bersama lalu kamu
mengantarku pulang dengan motor merah kesayanganmu. Aku tahu ini memang salah, Bodoh! Sangat bodoh.. tidak seharusnya aku
biarkan perasaan ini mengalir begitu saja, harusnya aku tidak boleh seperti
ini!. Mungkin aku memang pintar menyembunyikan perasaanku, meskipun aku tidak
bisa menahan emosi ku ketika aku harus melihat tatapan tajam dari matamu. Aku
menyukai matamu..
Cinta itu memang misteri. Yang sakit
hati, yang bergejolak perut, yang sesak dada, yang mengeluarkan semuanya adalah
mata. Tidak ada lagi senyum terukir ketika aku membaca pesan singkatmu,
seketika perasaanku menjadi hambar. Hambar karena kecewa akan hatiku sendiri.
Apalagi yang harus aku harapkan? Hanya pertemanan saja, tidak lebih. Apa yang
paling berat dari ini semua? Aku yang pura-pura tidak mengetahui akan
ketidakpedulianmu terhadap perasaanku. Aku tetap disini, mencintaimu dengan
segala keikhlasanku yang tidak dicintai olehmu. Aku mencintaimu dengan segala
pengertianku melihat kamu mencintai orang lain. Memendam adalah nama lain dari
sengaja menyimpan perasaan sakit, yaa.. sakit karena mencintaimu. Mencintaimu
dalam diam memang selalu menyakitkan, aku tahu itu. Penuh pengabaian tanpa
terungkapkan.
Tetapi awan mengajarkanku tentang
keikhlasan tanpa amarah. Terkatung-katung meneduhi dunia lalu terjatuh menjadi
hujan yang meneduhkan juga. Biarkan saja cintaku tumbuh dalam air mata, supaya
kamu tahu bahwa cintaku menua walau pengabaianmu. Semua sudah baik-baik saja.
Senyum dan tawa ku sudah mulai terukir. Hingga suatu hari nanti kamu kembali
menyapa dan seketika perih itu kembali terasa..
0 komentar:
Posting Komentar