Senin, 30 Juli 2012

H for how (do I love)..

Diposting oleh Unknown di 14.21

Sore itu, ketika aku tengah duduk didepan ruangan aku melihatmu untuk pertama kalinya. Kita sama-sama terdiam saling menatap mata satu sama lain. Aku terdiam, ini kah kamu yang selama ini dibicarakan? Tanpa berpikir panjang kamu ulurkan tanganmu tanda ingin berkenalan denganku. Aku tersenyum, malu, dan senang akhirnya aku bisa berkenalan denganmu. Sejak saat itu pertemanan kita berlanjut hanya sekedar basa-basi yang menurut ku standar, tapi aku tetap menyukainya. Menatap layar handphone dan tersenyum senang ketika pesan singkatmu ku baca.

Aku tahu kamu cuek, atau mungkin pemalu. Pembicaraan terlihat asing diantara kita, meskipun selalu aku yang mencoba untuk mencairkan suasana karena aku ingin mengetahui tentang kamu. Kamu sangat misterius, susah untuk ditebak. Hari berganti hari.. kamu tetap dingin, ketika pembicaraan yang kita diskusi kan tidak terlalu penting. Suatu hari kamu menanyakan tentang alamat blog ku, katamu tulisan didalam blogku bagus, meskipun menurutku tulisanku masih jauh dari penulis-penulis professional. Aku mulai menikmati pertemanan kita yang seperti ini tapi ada sisi lain didalam diriku yang ingin mengetahui tentang kamu. Aku berusaha untuk mencari tahu tentang kamu, walaupun aku harus terima resikonya. Tidak ada status-status yang aneh di facebook mu, personal message di blackberry messanger mu pun biasa saja, tapi ternyata ketika aku membaca timeline mu di twitter, terlihat jelas ada yang lain disana. Aku hanya ingin menembus hitam dimatamu, sekedar ingin tahu, apakah kau melihatku.

Sedikit sesak dada ini ketika mengetahuinya, tapi tak apalah. Lalu apa yang harus aku sesakkan?perasaan ku?ada apa dengan perasaan ku??. Yaa Tuhan.. ada apa dengan semua ini? Harusnya aku tersenyum melihat dia telah bahagia dengan yang lain, bukan sesak seperti ini. Sejak malam itu aku sadar, ada yang berbeda dengan perasaan ku. Malam dimana ketika kita menghabiskan waktu untuk berdiskusi dan makan malam bersama lalu kamu mengantarku pulang dengan motor merah kesayanganmu. Aku tahu ini memang salah,  Bodoh! Sangat bodoh.. tidak seharusnya aku biarkan perasaan ini mengalir begitu saja, harusnya aku tidak boleh seperti ini!. Mungkin aku memang pintar menyembunyikan perasaanku, meskipun aku tidak bisa menahan emosi ku ketika aku harus melihat tatapan tajam dari matamu. Aku menyukai matamu..

Cinta itu memang misteri. Yang sakit hati, yang bergejolak perut, yang sesak dada, yang mengeluarkan semuanya adalah mata. Tidak ada lagi senyum terukir ketika aku membaca pesan singkatmu, seketika perasaanku menjadi hambar. Hambar karena kecewa akan hatiku sendiri. Apalagi yang harus aku harapkan? Hanya pertemanan saja, tidak lebih. Apa yang paling berat dari ini semua? Aku yang pura-pura tidak mengetahui akan ketidakpedulianmu terhadap perasaanku. Aku tetap disini, mencintaimu dengan segala keikhlasanku yang tidak dicintai olehmu. Aku mencintaimu dengan segala pengertianku melihat kamu mencintai orang lain. Memendam adalah nama lain dari sengaja menyimpan perasaan sakit, yaa.. sakit karena mencintaimu. Mencintaimu dalam diam memang selalu menyakitkan, aku tahu itu. Penuh pengabaian tanpa terungkapkan.

Tetapi awan mengajarkanku tentang keikhlasan tanpa amarah. Terkatung-katung meneduhi dunia lalu terjatuh menjadi hujan yang meneduhkan juga. Biarkan saja cintaku tumbuh dalam air mata, supaya kamu tahu bahwa cintaku menua walau pengabaianmu. Semua sudah baik-baik saja. Senyum dan tawa ku sudah mulai terukir. Hingga suatu hari nanti kamu kembali menyapa dan seketika perih itu kembali terasa..

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos