Sabtu, 25 Agustus 2012

Ramadhan di Tahun 2012

Diposting oleh Unknown di 19.13
Sebelum memasuki bulan Ramadhan, saya sudah dipusingkan oleh skripsi yang harus selesai tepat waktu dan dengan kata lain terpaksa mengejar deadline supaya bisa daftar seminar. Agak ribet memang, mungkin dikampus-kampus lain tidak ada jadwal seminar, langsung aja sidang. Tapi ini berbeda, dikampus saya memang seperti itu sistemnya, seminar itu istilahnya pra-sidang. Mahasiswa presentasi didepan para penguji dan pembimbing kemudian diarahkan mana yang benar dan salah isi dari skripsi itu. Yahh.. seperti itulah. Hampir setiap malam saya begadang untuk mengerjakan skripsi dan hampir setiap hari pula bimbingan dengan dosen, bosen sih..bangeet malah. Tapi untuk bisa mengejar seminar ya memang ini yang harus saya lakukan, kerja keras. Setelah skripsi saya selesai, dosen menganjurkan agar saya cepat untuk mendaftar seminar, dan akhirnya saya mendaftar. Belum selesai disitu, meskipun saya sudah mendaftar, saya masih dibuat galau dengan jadwal seminar yang belum jelas. Semua jadwal mahasiswa yang mengikuti seminar diadakan secara mendadak, tiba-tiba saja nama mahasiswa ditempel dimading lantai satu. Saya yang mengetahui sistemnya dadakan, mau tidak mau harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan saya akan seminar besok. Ketika sudah sampai waktunya, saya seminar tepat dihari jumat siang jam satu dan pada hari itu sudah memasuki bulan Ramadhan. Alhamdulillah.. seminar saya berlangsung baik meskipun ada beberapa pertanyaan dari penguji yang kurang saya mengerti, tapi setidaknya revisi untuk skripsi saya hanya sedikit. 

Ramadhan tahun ini benar-benar absurd. Pikiran saya hanya tertuju pada skripsi, setiap hari pulang malam dari kampus, buka puasa pun jarang dirumah dan terpaksa tidak bisa mengikuti shalat tarawih dimasjid. Begitu sampai dikamar pun yang ada saya langsung membuka laptop untuk mengetik skripsi saya, setelah sahur pun saya tidak bisa tidur lagi karena saya mengikuti semester pendek tepat jam8 pagi dan itu berlangsung selama dua minggu penuh. lelah sekali rasanya seperti ini, hanya untuk memperbaiki IP dan merubah nilai menjadi A memang butuh banyak pengorbanan. Tapi dua minggu yang saya jalani benar-benar membuahkan hasil yang menyenangkan, saya mendapat nilai A untuk mata kuliah tersebut. Saya benar-benar tidak bisa menikmati bulan Ramadhan kali ini, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Benar-benar tidak bisa memikirkan yang lain, hanya skripsi.

Dua minggu sebelum lebaran, kampus makin sepi karena sudah tidak ada lagi jadwal mahasiswa untuk sidang dan semester pendek pun sudah selesai. Dan saya masih saja harus kekampus untuk bimbingan dengan dosen pembimbing, ternyata revisi dari dosen pembimbing lebih banyak jika dibandingkan dengan dosen penguji. hhmmpptttt... PR banget ini loh!. Dan yang lebih membuat surprise lagi ketika mama memberitahu bahwa pada tahun ini saya dan keluarga pulang kampung ke Magelang. Senang bercampur kaget dan.. lesu. Senang akhirnya bisa pulang kampung dan bisa merasakan lebaran dikampung seperti orang-orang. karena jujur saja, saya dan keluarga tidak pernah merasakan pulang kampung dan lebaran dikampung halaman. Lesu itu datang ketika saya berfikir "terus skripsi gue gimanaa??!! gue harus ngerjain revisi-revisi yang numpuk. Masa iya gue mudik bawa-bawa laptop?!!". Skripsi.. yuph! skripsi memang benar-benar menghantui setiap langkah saya kemanapun saya berjalan. And finally.. saya dan keluarga berangkat menuju Magelang. Dengan membawa peralatan perang saya, laptop, skripsi yang dicoret-coret dan buku pemasaran. "ahh..seperti apa ya Magelang sekarang?apa masih seperti dulu ketika gue berumur..ahh pokoknya pas TK deh gw terakhir kesana" pikiran saya pun sudah membayangi kota Magelang, padahal saya masih berada ditol cikampek. Selama diperjalanan tidak ada yang bisa saya lakukan selain tidur, ya memang itu yang lebih baik dari pada saya membuka mata dan melihat kanan-kiri depan-belakang mobil semua, membosankan. Jadi seperti ini yang namanya pulang kampung?berjam-jam menunggu jalanan lancar, panas ketika siang hari dan dingin didalam mobil ketika malam. dan suasana masih seperti tadi siang, tidak bergerak.

Pagi bertemu pagi dan saya masih berada diSubang, tidak ada perubahan. Bahkan untuk menuju Cirebon saja harus membutuhkan waktu berapa jam lagi? saya dan keluarga sudah lelah dimobil, yaa maklum saja, kami memang tidak pernah merasakan pulang kampung. Ketika saya terbangun, ternyata keluarga sedang bergegas pergi meninggalkan subang setelah ditelfon oleh nenek saya yang tinggal didepok. Saya hanya diam, saya tidak mengerti apa-apa karena sehari kemarin saya tertidur didalam mobil. Setelah saya perhatikan, ternyata kami memutar arah menuju.. rumah!. Hahahahaa.. sudah mengibarkan bendera putih ternyata! keluarga saya tidak tahan lagi untuk terus berada dijalanan seperti itu, jika kami tetap bersikeras untuk tetap melanjutkan perjalanan, mungkin kami akan sholat ied dijalan dan bukan dikampung halaman, Magelang. Ada perasaan sedih memang tapi mungkin ini memang jalan-Nya kan? untuk pulang ke Magelang tidak harus ketika lebaran. Ketika sampai dirumah, saya langsung masuk kekamar dan beristirahat, lagi-lagi tidur.. hhahahaa..
Sehabis maghrib saya dan keluarga pergi ke Depok kerumah nenek dan berlebaran disana, setidaknya saya tidak merasakan pulang kampung tetapi saya bisa merasakan pulang kota kan?. Ramai juga malam takbiran disini, kembang api, petasan dan anak-anak kecil.

Jika diingat-ingat.. saya tersenyum dan berfikir "ada apa dengan Ramadhan tahun ini? semua berjalan sepertinya absurd dan tidak sesuai rencana tapi lucu juga" hhahaa.. benar-benar pengalaman yang unik dan semua terjadi dibulan Ramadhan. Ramadhan telah selesai, semoga tahun depan saya bisa merasakan Ramadhan yang penuh dengan kebahagiaan. Ups.. jangan lupa, ketika Ramadhan selesai, daftar sidang akan dimulai dua minggu setelah sidang.. *pingsan* Ternyata perjuangan saya belum berakhir..
Terima kasih Tuhan untuk semua yang Engkau berikan dibulan Ramadhan tahun ini, apapun itu...


0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos