Selasa, 07 Mei 2013

Entah

Diposting oleh Unknown di 08.31

Seperti berjalan ditengah tumpukan batu kerikil, sakit. Tertatih aku menyusuri jalanan yang aku tidak tahu sampai kapan aku berjuang dan bertahan. ketika aku lelah, aku bisa bernafas dengan lega. Saat itu juga aku menemukan kebahagiaan ku. Tapi perjalanan ku masih jauh atau mungkin masih sangat jauh. Dan untuk memulai lagi perjalananku, aku merasakan hal yang sama, sakit. Hanya sebuah harapan yang membuat aku bisa sampai keujung jalan. Tapi bodohnya aku, aku baru menyadari bahwa aku menyusuri jalan ini seorang diri. Aku berjuang sendiri, menahan sakit. Aku bodoh. Terlalu berharap pada harapan yang sangat besar. Harapan yang membuat aku selalu bermimpi jika diujung jalan nanti aku menemukan jalan yang tidak berkerikil. Aku terjatuh, tersungkur diantara batu-batu kerikil. Aku lelah, aku menyerah,dan aku ingin ada seseorang yang menjemputku, disini. Harusnya aku tahu bahwa tidak akan ada ujung jalan yang tidak berkerikil. Jalan ini akan seperti ini, berkerikil entah dimana ujungnya. Aku menunggu, memberi waktu siapa tahu akan ada yang menjemputku disini. Ketika jam berubah menjadi hari akhirnya ada yang mengulurkan tangannya untuk membantuku tegap berdiri, membersihkan luka disekujur tubuh ku, dan mengantarku pulang ketempat yang seharusnya aku berada. Aku masih tidak percaya pada diriku sendiri, aku terlalu bodoh berharap pada kenyataan yang tidak pernah ada. Menggantungkan semuanya ditumpukan harapan-harapan indah tapi  ternyata tidak pernah ada.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos