Seperti berjalan ditengah tumpukan
batu kerikil, sakit. Tertatih aku menyusuri jalanan yang aku tidak tahu sampai
kapan aku berjuang dan bertahan. ketika aku lelah, aku bisa bernafas dengan
lega. Saat itu juga aku menemukan kebahagiaan ku. Tapi perjalanan ku masih jauh
atau mungkin masih sangat jauh. Dan untuk memulai lagi perjalananku, aku
merasakan hal yang sama, sakit. Hanya sebuah harapan yang membuat aku bisa
sampai keujung jalan. Tapi bodohnya aku, aku baru menyadari bahwa aku menyusuri
jalan ini seorang diri. Aku berjuang sendiri, menahan sakit. Aku bodoh. Terlalu
berharap pada harapan yang sangat besar. Harapan yang membuat aku selalu
bermimpi jika diujung jalan nanti aku menemukan jalan yang tidak berkerikil. Aku
terjatuh, tersungkur diantara batu-batu kerikil. Aku lelah, aku menyerah,dan
aku ingin ada seseorang yang menjemputku, disini. Harusnya aku tahu bahwa tidak
akan ada ujung jalan yang tidak berkerikil. Jalan ini akan seperti ini,
berkerikil entah dimana ujungnya. Aku menunggu, memberi waktu siapa tahu akan ada yang menjemputku disini. Ketika jam berubah menjadi hari akhirnya ada yang
mengulurkan tangannya untuk membantuku tegap berdiri, membersihkan luka
disekujur tubuh ku, dan mengantarku pulang ketempat yang seharusnya aku berada.
Aku masih tidak percaya pada diriku sendiri, aku terlalu bodoh berharap pada
kenyataan yang tidak pernah ada. Menggantungkan semuanya ditumpukan
harapan-harapan indah tapi ternyata
tidak pernah ada.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar