Kamis, 13 September 2012

Kata

Diposting oleh Unknown di 19.54
Mungkin dunia pernah masih sedemikian sepinya. Adam belum ada. Sunyi mengisi kosong dalam hampa; huruf-huruf masih menjadi milik Tuhan.
Lalu, dihembuskan ruh pada sang ayah manusia-manusia. Aksara per aksara dibisikkan padanya, menjadi untai kata, mengurai apa maknanya, menarik berbaris-baris kalimat purba, mengisi hati dan akalnya dengan pengetahuan tentang semesta yang terbentang menjadi ujung-ujung dunia. Apa yang mengisi di antaranya. Tentang surga dan neraka. Tentang kaum-kaum yang tidak kasat mata. Tentang atom dan molekul. Tentang Ia yang mencipta semua. Tentang ia yang diciptakan-Nya dari tanah dan bangga.
Setelah langit dibuka lebar, dan Ayah serta Ibu tinggal di bumi, lebih banyak aksara ditumpahkan dari singgasana ia sang Maha Kata. Seperti hujan, namun bukan air yang tumpah ruah, tapi huruf-huruf tiada habis. Berjatuhan dengan gemuruh riuh rendah. Bersemayam dalam benda-benda, menjadi nama-nama. Mengakar urat dari rumput hingga pepohonan di empat penjuru. Menjadi gunung dan tanah, menjadi cahaya dan api, menjadi sungai dan air, menjadi badai dan angin. Menjadi singa, rusa, dan elang. Menjadi terang dan gelap. Menjadi warna. Menjadi rasa. Menjadi hari. Menjadi semua yang ada pada Ayah dan Ibu, menjadi cinta mereka, menjadi hasrat mereka, menjadi sedih dan gembira mereka. Menjadi manifestasi keberadaan mereka yang pertama kali melisankan dunia.
Hingga kini kata penuh menyeruak di sana sini. Penuh sesaki dunia dengan suara membeludak membahana kemana telinga mendengar. Tidak berhenti turun sebagai hujan, melainkan menderu badai, menenggelamkan dunia dalam gelimang makna yang bahkan beberapa tidak sempat terdefinisi dan lahir sempurna.
Sedemikian ramainya. Hingga lama setelah Ayah dan Ibu tiada, manusia tidak lagi membaca. Mereka lupa, menghambarkan segala. Mereka menerka rasa-rasa yang dulu pernah diucapkan sangat kental dan penuh, namun seperti oase yang mengalah pada teriknya matahari sahara, mengering hingga tidak bersisa.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos