Kamis, 20 September 2012

Kedua

Diposting oleh Unknown di 20.54
Ketika kamu menaruh perasaan terlalu dalam, ketika kamu mengerti perasaan dihati ini, ketika kita sering menghabiskan waktu bersama, ketika kamu selalu memeluk ku disaat aku terjatuh, ketika kamu selalu mencoba mengukir senyuman di bibirku, ketika kamu selalu mengajariku bahwa cinta tidak selalu memiliki. Siapa yang harus disalahkan dari semua ini? aku? kamu? Tuhan? atau bahkan keadaan yang tidak tahu menahu tentang takdir, tentang pertemuan kamu..dan aku. 

Siapa yang menyangka bahwa pada akhirnya kita seperti ini, bodoh rasanya aku yang selalu berpura-pura tidak mengetahui tentang keadaan sebenarnya. Atau karena aku sekuat hati untuk bersikap acuh dan tidak pernah memikirkan yang lain. Dengan kerendahan hati ini, yang aku pikirkan, yang aku rasakan, dan yang aku lihat hanya kamu dan aku, itu saja. 

Aku tahu ada wanita lain yang tetap menjaga hatimu, entah sampai kapan. Aku tahu ada cinta lain yang tetap mengisi hati mu, entah seberapa banyak. Aku tahu kamu tidak akan mungkin bisa memilih, karena kata mu, hati itu bukan untuk memilih tetapi untuk merasakan. Jika memang itu, aku siap mengisi celah yang kosong dihati mu walaupun sedikit, aku siap selalu ada disaat kamu merasa tidak diperdulikan oleh nya, aku siap menemanimu kemana pun kamu pergi saat dia sibuk dengan urusannya, aku siap memberimu pelukan setiap kali kamu merasa kesepian, aku siap menjadi lilin yang memberimu cahaya dalam kegelapan walaupun hanya seberkas, aku siap menjadi sandaran ketika kamu terjatuh. Walau pada akhirnya.. akupun harus siap jika suatu saat nanti kamu pasti akan melupakan ku dan meninggalkan ku.

Tidak kah kamu terlalu sibuk untuk mencintai aku dan dirinya? tidak kah hati mu terlalu penuh mengisi dua cinta sekaligus? tidak kah kamu menyadari ada sesorang yang terluka? tidak kah kamu berfikir bahwasannya aku berpura-pura tidak tahu tentang kamu dengan dia, sedangkan dia tidak pernah tahu menahu tentang kita. Jika suatu saat nanti dia tahu, apa yang akan kamu lakukan? melupakan ku? meninggalkan aku begitu saja?. Jika datang hari itu, aku sudah siapkan berbagai obat yang mungkin akan membungkus luka ini, luka yang sedikit demi sedikit akan mengiris dan melubang kan hati ku.

Hati kita hanya satu. Perasaan kita sama. Cinta sejati lah yang akan memilihnya. Tetapi dengan mencintaimu, separuh kebahagiaan telah ku genapkan. Separuhnya lagi, engkau lebih tahu daripada aku. Hidup itu terlalu ironis. Saat aku mengetahui bahwa kamu mengirimkan ucapan selamat pagi dan panggilan "cantik.." itu bukan hanya untuk ku saja. Cintai aku sebaik engkau mampu, sebab segala kebaikanmu telah lebih dari cukup bagi hidupku. Bahagia ku cukup karena keajaiban, keajaiban mengetahui bahwa pagi telah datang dan kau masih mencintaiku. Terlalu naif rasanya aku harus menuruti semua ego ku dan memaksamu untuk memilih.tidak sayang.. aku tidak akan sanggup melakukan itu, karena apalah arti kehadiran ku yang singkat ini bisa memberi mu kebahagiaan jika dibandingkan dengan dia yang sudah lebih dulu menemanimu.

Kesabaran ku adalah tempat dimana duka berbaring lelah, sedangkan menunggu adalah tempat dimana suka kehilangan kebahagiaannya. Aku tidak butuh kata terucap, kadang jawaban bisa terbaca melalui sikap mu. Cinta, tidak mengajariku sesuatu. Ia hanya memaafkan kebodohanku. Aku bahagia dengan caraku sendiri, sayang.. Tetapi, cepat atau lambat kamu tidak akan bisa menyimpan rahasia, yang telah dijatuhkan air mata. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos