Minggu, 14 Oktober 2012

Lembaran Usang

Diposting oleh Unknown di 23.02

Malam ini, ku kumpulkan segenap kekuatan ku untuk membuka kembali lembaran-lembaran yang sudah ku tutup rapat dari hidupku. Bukan untuk mengingat kembali, tapi ada sedikit perasaan yang selalu ku tutupi dari dalam hati, rindu. Apa kabarmu disana? Bahagiakah hidupmu sekarang? Aku harap kamu berubah, berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari yang dulu ku kenal. Ku buang rasa sakitku yang telah ku kubur dalam dihati, ku buang rasa ego ku jauh sebelum kamu pergi, hanya untuk membuka lembaran kita. Yaa..lembaran usang tentang kita, tentang rasa yang pernah ada diantara kita,tentang rindu yang sekarang hinggap dipikiranku. Bisa kamu bayangkan betapa bodohnya aku tetap membuka lembaran-lembaran ini, menatap satu per satu tentang kita tentang semua yang kita lalui bersama. Begitu bahagianya kita dulu, sampai lupa bahwa ada sakit yang tetap setia didalam hati. Ada  rasa saling memiliki yang terlalu, hingga suatu hari kita lupa bahwa kita saling memiliki.

Tidak.. aku tidak pernah menyalahkan kamu, bahkan aku tidak pernah menyalahkan takdir yang mempertemukan kita. Luka ku, luka mu.. aku yakin pasti suatu saat akan mengering dan sembuh. Dan saat malam ini pun, aku yakin kamu sudah bisa tersenyum disamping wanita yang kamu sayangi. Jika cinta dan benci itu memang tipis, mungkin benar. Selama aku disamping mu, aku tidak bisa membedakan cinta dan benci, ketika aku ingin membenci, ada cinta disana yang menunggu didalam hati. Aku, kamu, itu sama tidak ada beda. Kita mempunyai perasaan terlalu satu sama lain, tapi perasaan takut akan kehilangan itu jauh lebih besar. Kita lebih mementingkan ego dari pada perasaan yang ada didalam hati kita selama bertahun-tahun kita bersama.

Entah mengapa malam ini aku memang merindukanmu, bodoh memang.. tapi hanya sosok bodoh mu yang selalu aku inginkan. Melakukan hal-hal lucu bersama, tertawa bersama, bahkan kecupan dikening itu yang masih aku rindukan, dan panggilan yang hanya kamu berikan untukku. Berjuta tawa kita lakukan bersama, tapi seribu air mata yang keluar itu justru yang selalu kita ingat. Bagaimana mungkin satu bibir ini pernah melemparkan kecupan, mengeluarkan janji kita, tetapi satu bibir ini juga saling melemparkan cacian dan makian yang lebih menyakitkan..

Kamu yang mengajariku bahwa tidak ada yang lebih kuat selain cinta yang memahami, kamu yang mengajariku bahwa cinta itu memang selalu memaafkan, kamu yang mengajariku bahwa kesetiaan itu memang banyak pengorbanan. Kita saling berkorban untuk kita. Hingga suatu saat kita menyerah pada keadaan, keadaan dimana kita harus melepaskan ego dan perasaan masing-masing. Untukmu yang pernah dihatiku, terima kasih.. cinta mu dulu pernah menjadi lentera yang menerangkan jalanku, membangkitkan jiwaku ketika langit kelabu…

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos