Malam ini, ku kumpulkan segenap
kekuatan ku untuk membuka kembali lembaran-lembaran yang sudah ku tutup rapat
dari hidupku. Bukan untuk mengingat
kembali, tapi ada sedikit perasaan yang selalu ku tutupi dari dalam hati,
rindu. Apa kabarmu disana? Bahagiakah hidupmu sekarang? Aku harap kamu berubah,
berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari yang dulu ku kenal. Ku buang rasa
sakitku yang telah ku kubur dalam dihati, ku buang rasa ego ku jauh sebelum
kamu pergi, hanya untuk membuka lembaran kita. Yaa..lembaran usang tentang
kita, tentang rasa yang pernah ada diantara kita,tentang rindu yang sekarang
hinggap dipikiranku. Bisa kamu bayangkan betapa bodohnya aku tetap membuka
lembaran-lembaran ini, menatap satu per satu tentang kita tentang semua yang
kita lalui bersama. Begitu bahagianya kita dulu, sampai lupa bahwa ada sakit
yang tetap setia didalam hati. Ada rasa
saling memiliki yang terlalu, hingga suatu hari kita lupa bahwa kita saling
memiliki.
Tidak.. aku tidak pernah
menyalahkan kamu, bahkan aku tidak pernah menyalahkan takdir yang mempertemukan
kita. Luka ku, luka mu.. aku yakin pasti suatu saat akan mengering dan sembuh.
Dan saat malam ini pun, aku yakin kamu sudah bisa tersenyum disamping wanita
yang kamu sayangi. Jika cinta dan benci itu memang tipis, mungkin benar. Selama
aku disamping mu, aku tidak bisa membedakan cinta dan benci, ketika aku ingin
membenci, ada cinta disana yang menunggu didalam hati. Aku, kamu, itu sama
tidak ada beda. Kita mempunyai perasaan terlalu satu sama lain, tapi perasaan
takut akan kehilangan itu jauh lebih besar. Kita lebih mementingkan ego dari
pada perasaan yang ada didalam hati kita selama bertahun-tahun kita bersama.
Entah mengapa malam ini aku
memang merindukanmu, bodoh memang.. tapi hanya sosok bodoh mu yang selalu aku
inginkan. Melakukan hal-hal lucu bersama, tertawa bersama, bahkan kecupan
dikening itu yang masih aku rindukan, dan panggilan yang hanya kamu berikan
untukku. Berjuta tawa kita lakukan bersama, tapi seribu air mata yang keluar
itu justru yang selalu kita ingat. Bagaimana mungkin satu bibir ini pernah
melemparkan kecupan, mengeluarkan janji kita, tetapi satu bibir ini juga saling
melemparkan cacian dan makian yang lebih menyakitkan..
Kamu yang mengajariku bahwa tidak
ada yang lebih kuat selain cinta yang memahami, kamu yang mengajariku bahwa
cinta itu memang selalu memaafkan, kamu yang mengajariku bahwa kesetiaan itu
memang banyak pengorbanan. Kita saling berkorban untuk kita. Hingga suatu saat
kita menyerah pada keadaan, keadaan dimana kita harus melepaskan ego dan
perasaan masing-masing. Untukmu yang pernah dihatiku, terima kasih.. cinta mu
dulu pernah menjadi lentera yang menerangkan jalanku, membangkitkan jiwaku
ketika langit kelabu…
0 komentar:
Posting Komentar