Sabtu, 13 Oktober 2012

Kanvas dan Pelangi

Diposting oleh Unknown di 19.24
Tuhan telah memberikan ku sebuah kanvas kehidupan, belum tergores apapun tentang hidupku. Masih putih, polos, dan tidak ada goresan tinta. Berhari-hari aku mencoba untuk mencari sesuatu yang bisa mengukir lembar-lembar dikanvas hidupku, tapi tidak ku temukan apa-apa selain sesuatu yang tidak dapat aku gambarkan. Aku masih terdiam, melihat kanvas yang tidak berubah, tanpa warna. Sore itu Tuhan membisikkan ku sesuatu. Sesuatu yang tidak ku mengerti, Tuhan menyuruhku bersabar untuk memberikan warna dalam hidupku. Tuhan berbisik bahwa aku jangan sampai mengulang kesalahan memberi warna, warna yang sudah tergores rapih lalu hancur begitu saja hanya akan menjadi kanvas yang tidak berguna dikemudian hari, hanya memberi luka, kataNYA. Aku tertunduk malu, malu akan kesalahan-kesalahan ku.

Sore itu aku memikirkan seseorang yang mungkin bisa sedikit memberi warna dikanvas ku atau memang dia sudah mulai memberi warna tanpa sepengetahuan ku?. Ah.. aku lupa memberitahu bagaimana caranya memberi warna dikanvasku! kanvas ku cukup rapuh untuk diberi warna oleh orang lain. Lalu aku harus bagaimana? membiarkan dia tetap mewarnai kanvas ku dengan warna yang dia punya? atau aku harus segera bertindak agar aku tidak mengecewakan Tuhan lagi?. Tuhan.. saat ini aku mulai bisa mengukir senyum ku kembali, aku masih tetap bisa berusaha untuk tidak membuat kanvasku rapuh kembali. Saat ini, aku percaya itu. Walaupun aku tidak tahu esok kanvasku akan seperti apa.

Sedikit demi sedikit sepertinya kanvasku mulai berwarna, hey.. coba kamu lihat! kamu memberi warna yang beragam, susunan warna yang kamu pilih cukup unik, seperti.. pelangi. Aku tersenyum setidaknya untuk saat ini, karena warna mu. Warna mu yang ada didalam kanvasku membuat ku berpikir apakah memang kamu? aku ragu. Aku ingin kanvasku ada sedikit warna tetapi disisi lain aku juga tidak ingin kanvasku rapuh kembali, atau bahkan rusak. Bagaimanapun, aku akan tetap menjaganya semampu ku.

Hari-hari yang ku lalui dengan kanvasku dan kamu memang cukup unik, ada bahagia yang sedang mengumpat dibalik kebohongan disana. Mengapa harus warna pelangi yang kamu berikan dikanvasku? aku tidak menginginkannya, satu warna saja sudah cukup untuk ku. Aku takut jika kamu memberikan begitu banyak warna, kamu lupa bagaimana cara menghapusnya dan mengembalikkan kanvasku seperti semula, putih. Dan benar saja, ketakutan ku selama ini akhirnya nyata. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, tanpa kamu sadari kamu telah memberi warna yang tidak aku suka.

Ku biarkan kanvasku terjatuh dan tergeletak begitu saja disana, biar hujan yang menghapusnya. Menghapus warna-warna yang kamu berikan diatas kanvasku, yang dulu ku sebut pelangi. Yaa.. Pelangi, dia selalu datang setelah hujan, membuatku mengerti tentang kebahagiaanku. Tapi bukankah pelangi itu susah dicari? dan berlalu sangat cepat sekali, membuatku mengerti bahwa tidak ada yang abadi. Maaf Tuhan.. ternyata aku tak kuasa untuk tetap menjaga kanvasku, aku tidak mampu. Bahkan aku terlalu lemah karena warna-warna itu. Tetapi Tuhan tetap memelukku dengan erat, membisikkan bahwa akan selalu ada hujan yang turun untuk mengapus warna-warna yang ada didalam kanvasku, biar hujan yang menghapusnya, bukan airmata ku, kataNYA. Dan aku menyadari bahwa kita sepaham dalam satu hal; Cinta itu seperti pelangi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos