Tepat jam dua siang kita bertemu di tempat
yang sudah kita janjikan. Kamu mengenakan kaos putih, celana jeans dan sepatu converse mu. Senyum manis mu sudah bisa
ku lihat dari jauh saat kamu asik membaca buku yang kamu pegang. Ahh..Aku
merindukan mu. Aku memanggil namamu, kamu melihat kearah ku dan lagi-lagi kamu
bersikap konyol. Kamu sama sekali tidak berubah. Aku jalan dibelakangmu, kamu
sibuk mencari angkutan kota yang akan membawa kita ketempat yang mempunyai
cerita tentang kita berdua. Selama diperjalanan kamu tidak ada henti-hentinya
bersikap konyol disampingku, tak jarang kamu selalu memanggilku dengan sebutan
yang aneh itu, tapi lucu.
Akhirnya kita sampai ditempat yang kita
bicarakan. Sejak turun dari angkutan kota, aku dan kamu tidak hentinya tertawa.
Aku hampir lupa dengan apa yang aku rasakan kemarin. Kamu membuatku lupa akan
air mata yang sudah aku keluarkan kemarin. Bahkan didepan kakak cantik yang
duduk dibalik meja tiket bioskop, kamu masih saja bisa membuat orang yang
berada disekitar tertawa. Perdebatan memilih bangku bioskop itu cukup
menyenangkan ya! Apalagi jika yang keluar dari mulutmu itu lelucon konyol
karena alasan aku sering buang air kecil. Hahahaha… kamu konyol.
Lagi.. kejadian saat itu terulang, kita berdua
jalan dibawah hujan dengan payung. Kamu merangkulku dengan erat. Kamu memegangi
tanganku dengan erat. Kita tersenyum memgingat bahwa kejadian lalu terulang
kembali hari ini dan kita tertawa bersama. Ada suatu janji yang belum kamu
penuhi, janji yang masih melekat dipikiranku. Sampai akhirnya kamu memutuskan
untuk menonton bioskop untuk kedua kalinya dengan judul yang berbeda dihari
yang sama, kamu gila! Hahahaa.. keinginan mu untuk memenuhi janji itu
sepertinya begitu antusias, sampai aku yang sudah lelah tiba-tiba tersenyum
melihat tingkahmu yang konyol itu. Ya Tuhan.. aku bisa melihatmu dari jarak
yang dekat bahkan sangat dekat. Nafasku tercekik, jantungku tidak hentinya
berdegup kencang, sangat kencang.. dan sesaat sepertinya waktu berhenti. Aku bisa
merasakan ketika detak jantung kita sama-sama berhenti diwaktu yang sama. Aku
bisa merasakan ketika matamu dan mataku mengartikan satu kata. Aku bisa
merasakan dekapan tanganmu yang hangat merangkulku.
Cinta itu memang sesederhana kamu, ketika
kita berdua makan sate padang dipinggir jalan dan ditemani hujan tapi masih
bisa tertawa bersama disela-sela kita makan. Cinta itu memang sesederhana kamu,
ketika kita berdua tertawa didalam bus kota yang tidak nyaman tapi entah kenapa
disampingmu ada yang berbeda. Cinta itu sesederhana kamu, ketika kita
menghabiskan waktu ditempat itu dari siang hingga malam. Cinta itu sesederhana
kamu, ketika kamu mengajariku tentang rasa bersyukur dalam hidup. Cinta itu
sesederhana kamu, ketika kamu membagi bengbeng mu itu dan kita makan bersama.
Cinta itu sesederhana kamu, ketika kamu tidak pernah pantang menyerah dalam
hidupmu. Cinta itu sesederhana kamu, ketika kita berbagi cerita dan membuat
kita tertawa bersama. Cinta itu memang sesederhana kamu, ketika genggaman
tanganmu menghangatkan jariku. Cinta itu sesederhana kamu, ketika kamu selalu
menjadi kamu yang apa adanya.
Hujan akhirnya reda tepat jam sepuluh
malam. Saatnya kita bergegas untuk pulang. Tapi bukan hujan yang menemani
langkah kita berdua malam itu. Adalah pelangi dimalam hari. Yaa.. aku melihat
pelangi diantara gedung-gedung kuno di jalan Cikini.
0 komentar:
Posting Komentar