Minggu, 20 Januari 2013

Surat Untuk Jodohku

Diposting oleh Unknown di 00.43

dear you, entahlah siapa saja. surat ini sengaja akan ku tulis dengan huruf kecil semua, tanpa harus menggunakan huruf besar karena aku sendiri merasa bahwa aku hanyalah orang kecil yang tidak punya apa-apa, tapi aku hanya punya rasa cinta, cinta yang teramat besar jika dibandingkan dengan hal-hal picisan lainnya.

surat ini, hanya akan ku tunjukan kepada seseorang yang kelak bisa menerima cintaku secara tulus dan apa adanya, kepada orang yang tidak begitu sempurna, tapi bisa aku cintai secara sempurna. kepada orang yang setiap siang dan malamnya akan menyandarkan kepalanya dipundakku ketika merasa lemah, kepada seseorang yang akan selalu berbagi cerita bahagianya.

siapa dia, untuk saat ini itu masih rahasia. bukan rahasiaku tapi rahasia-NYA sang maha kuasa. suatu ketika, aku percaya akan menemukannya, entah disekitarku atau malah jauh dari tempatku. itu tidak jadi masalah. apalah arti sebuah cinta jika jarak yang dipermasalahkan. selama ada komitmen untuk saling menjalin hubungan bersama, kenapa tidak harus berlandaskan pada rasa saling pengertian dan tentunya saling mencintai juga.

dear you, tahu enggak, beberapa waktu silam, aku pernah mencintai seseorang yang begitu teramat berharga. saking berharganya dia, aku menjadi egois, bahkan aku lebih mementingkan egoku sendiri dibandingkan emosi dan logika sendiri, hingga akhirnya aku terjebak dalam sebuah lingkaran dan merasa aku sangatlah bodoh.

sebulan, hingga akhirnya setahun kemudian, aku benar-benar tegas, dan inilah pilihanku, bahwa aku harus benar-benar ikhlas melupakannya. ku coba untuk mencari cinta lain, cinta yang apa adanya, cinta yang tulus. semakin aku mencari, aku tidak pernah menemukan. tapi aku terus mencari dan terus mencari. akhirnya, aku hanya menemukan sebuah kehampaan, sebuah kesepian akan kesendirian benar-benar aku rasakan. tapi aku tidak pernah menyerah.

aku tahu, begitu banyak kekuranganku, terutama dalam hal mencari cinta. tidak begitu banyak yang bisa aku andalkan. aku hanyalah seorang wanita yang biasa saja. tapi aku punya mimpi yang aku yakini bisa aku kabulkan dengan semangat kerja kerasku. aku percaya hal tersebut.

dear you, ketika aku menentukan pilihan mencintaimu, itu karena aku mencintaimu, tanpa alasan yang harus aku jelaskan, karena aku sendiri takkan pernah bisa menjawabnya. mungkin, kedengarannya hanyalah sebuah omong kosong belaka jika aku mencintaimu karena ini dan itu atau sebab lainya, tapi inilah aku, orang yang berani menentuka pilihan meskipun sering tersakiti. semakin aku tersakiti karena cinta, maka semakin  pula aku merasa bahwa disakiti itu tidaklah menyakitkan lagi.

dear you, ketika aku memilih untuk mencintaimu saat ini, bukannya aku tidak berharap dan atau berharap lebih. tapi, aku yakin kamu bisa menentukan pilihan, apa siap tidak untuk memberikan kesempatan padaku untuk saling berbagi cinta, saling berbagi pengertian dan kasih saying. persoalan belakangan kita berasal dari mana, rasa mana, golongan mana. tapi kalau kita sudah dipersatukan atas nama cinta, kenapa tidak kita bisa menyatukan atau menyeragamkan berbagai karakter kita yang berbeda-beda?kenapa tidak?.

jika permasalahan jarak jadi kendala, ada solusi yang bisa kita pecahkan bersama-sama. ada berbagai macam saran dan fasilitas yang kita pergunakan. kita akan tetap saling dipersatukan jika kita percaya bahwa kita siap untuk hidup bersama.

dear you, surat untuk jodohku ini aku tulis dengan penuh rasa cinta dengan suasana dingin disaat hujan sementara membasahi bumi pada seperempat malam, disaat semua orang sementara bergerilya dengan mimpi-mimpinya, disaat orang-orang sudah melupakan apa yang telah mereka kerjakan kemarin dan hendak apa mereka keesokan harinya.

jika kamu berkenan, kita akan jalani hubungan ini, hingga suatu ketika aku dengan bangganya menerimamu sebagai imam untuk ku, untuk menunaikan sunnah Rasul, untuk meneruskan keturunan hingga kita bisa bermain bersama anak-anak kita.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos