Sore itu terasa membosankan berada dikantor dengan menatap layar komputer
setiap harinya. Tiba-tiba suara handphone
ku berdering dan ternyata dia yang menelepon.
“Masih dikantor?”
“iya, bete banget” aku menjawab.
“aku jemput kekantor kamu ya entar, kita makan malem"
"dimana tapinya?" tanya ku
"aku lagi pengen makan paper lunch nih! kita ke Plaza Senayan ya”
"dimana tapinya?" tanya ku
"aku lagi pengen makan paper lunch nih! kita ke Plaza Senayan ya”
Fiuhh.. akhirnya ada teman melepas penat. Beruntunglah kantor ku
ditengah pusat kota, jadi kemana-mana yaa deket. Kebetulan juga hari ini hari
jumat hehehee.. Dan tepat jam 5.30 aku merapihkan barang-barang yang ada diatas
meja kerjaku. Aku terburu-buru kelua ruangan menuju lift karena dia sudah menunggu di parkiran
kantorku. Tidak repot mencari mobilnya diparkiran kantor, Cuma ada pajero sport
satu disana diantara innova, xenia dan avanza.
“Kusut banget muka kamu” dia meledek ketika aku membuka pintu mobilnya
“iya! Udah deh.. aku bete..”
Meskipun kejebak macet dulu di bundaran HI tapi akhirnya kita sampai di Plaza Senayan, tadinya sih mau nonton, Cuma
lagi ngga mood banget, nanti yang ada aku malah tidur. Jadi kita Cuma makan di
Paper Lunch aja. Ngobrol ini-itu sampai akhirnya kita muter-muter lagi nyari
tas kerja buat dia. Berhubung ngga ketemu yang dia mau, kita mampir di kedai
kopi Thailand. Seperti biasa, dia memesan kopi hitam dan aku hanya memesan teh
tarik ala Thailand sambil ngemil roti srikaya.
“gimana banker?” celetuknya
“auk ah! Betee..mau resign aja..”
Dan blablabla..dia menasehatiku panjang lebar sambil aku melepaskan
heels 12cm ku.
“kenapa?cape ya pake sepatu itu?lagian ngapain sih kerja pake sepatu
begituan?”
Aku hanya bisa menjawab dengan raut wajah yang datar.
Malam itu aku dan dia berbicara gimana hectic-nya kerja dijakarta. Gimana orang mati-matian buat kerja
dijakarta. Dan gimana susahnya orang mencari uang dijakarta. Tiba-tiba bunyi handphone nya berdering.
“aku mau ketemu orang dulu ya.. kamu ngga apa-apa kan pulang naik
taksi? maaf ya sayang.. penting banget soalnya, proyek baru nih”
“hmmmm iya.. udah jam 9 juga kan..” jawabku lesu
Ternyata nyari taksinya diluar Plaza Senayan, katanya biar dia yang
carikan aku taksi. Tidak jauh dari situ, ada taksi yang lagi mangkal, langsung
aja aku dan dia turun dari mobilnya dan bilang aku mau kearah bekasi sama sopir taksinya. Yaa
ngga lupa dengan ciuman dikening yang mendarat tiba-tiba dari bibirnya.
“Take care honey.. sampe rumah kabarin aku ya!”
Kututup pintu taksi, langsung saja aku melepaskan heels 12cm ku yang membuat kaki ku pegal, dan ku taruh blazer coklat tua diatas tumpukan berkas-berkas kantor. Agak menyebalkan kan sih masuk taksi Bl*e bird yang bau asap rokok
dari si sopir. Beberapa menit aku diam karena menahan bau asap rokok, sampai akhirnya aku menegur sopir taksi. Tapi setelah
itu kami berbincang-bincang dan sopir taksinya meminta maaf atas ketidaknyamanan ku. Seorang sopir taksi yang bernasib kurang beruntung
(kata si sopir). Dia menceritakan tentang menderitanya menjadi sopir taksi jika
tidak dapat uang. Ya intinya sih kita sama: sama-sama bawahan bos. Siapa sih
yang mau begini? Semua orang pasti ingin menjadi bos yang dengan leluasa
memerintah.
“lho.. bukannya kerja di bank enak ya mbak?” si sopir bertanya
“siapa yang bilang? Kalo masih jadi ‘kacung’ sih ngga enak mas..
hahahaa”
Selama perjalanan sampai bekasi, aku dan sopir taksi berbicara
tentang pekerjaan yang susah dikota besar bernama Jakarta, phew!!. sopir itu terus saja bercerita tentang wanita simpanan bos yang sering meminta tolong untuk mengantar atau menjemputnya. Dia cerita panjang lebar dan membuatku tersadar betapa perihnya mencari sucuil uang halal dikota ini. Apa iya sebegini nya ya? pikirku. Aku melihat jam tanganku untuk memastikan jam berapa, pantas saja jalanan jakarta ngga macet, ini sudah larut. Seperti pembicaraan
ku dengan sopir taksi dan dia yang panjang lebar tentang kerjaan. Intinya sih harus banyak-banyak bersyukur aja. Kadang jika aku sedang melamun dikereta (perjalanan ke kantor), aku sering melihat para pedagang kecil yang mungkin lebih pagi berangkat dari rumahnya demi bekerja. Sedangkan aku? hanya berangkat sekitar jam 5 pagi. Beruntunglah aku memiliki dia yang selalu ada untuk mendengarkan keluhanku tentang pekerjaan, dia menyuruhku untuk
tetap jalanin apa yang ada didepan mata. Kalaupun nantinya aku benar-benar udah ngga tahan,
yaudah resign asalkan sudah dipikirkan matang-matang dan sudah ada penggantinya
juga. Malam yang sempit tapi bermakna sekali buat aku yang suntuk sama
pekerjaan. Jumat ini, memberikan banyak arti buat ku..
0 komentar:
Posting Komentar