Sebagian besar calon pengantin mungkin akan mengalami fase ini. Begitupun
aku, fase di mana aku akan merasakan keraguan terhadap pasangan, sampai
mengalami “percekcokan” dalam keluarga. Semua yang terjadi dalam fase ini
membuat aku berpikir ulang, “Apakah aku harus meneruskan pernikahan ini?”.
Tidak bisa dipungkiri memang sindrom
pranikah dapat membawa aku pada pikiran-pikiran negatif. Namun semua kejadian
dalam fase menjelang pernikahan ini tentunya akan memberikan pelajaran baru
bagi aku dan di kehidupan yang akan datang.
Is He The Right Man?
Apakah dia pria yang tepat untuk aku? Apakah ia akan setia atau
tidak? Apakah aku siap menghabiskan waktu dengannya seumur hidup? Pertanyaan
ini sering muncul dalam benak para calon pengantin dan tentunya dalam benakku
juga. Belum lagi sekarang banyak sekali pasangan yang bercerai, ditambah
munculnya rasa penasaran, “Mungkin ada lelaki yang jauh lebih baik dan tampan
di luar sana.” Tidak bisa dipungkiri memang, terlintas kalimat-kalimat yang
membuat ragu memang ada.
Bahkan keraguan-keraguan
tersebut mampu membuat aku terjaga semalaman. Tapi jika keraguan itu datang lagi,
aku hanya bisa tetap meneguhkan hatiku untuk tetap bersamanya. Aku yakin dengan
keputusan ku bahwa memang dialah yang tepat untuk menjadi teman hidup ku. Dan bahwasannya
tidak ada yang sempurna di dunia ini, dan walaupun dia tidak seperti yang aku
harapkan, namun siapa tahu ternyata memang dia yang terbaik untukku.
Selamat Tinggal
Kebebasan
Keraguan terkadang muncul akibat diri sendiri,salah satunya
tidak siap menyandang status “telah menikah.” Khawatir setelah menikah maka kebebasan
aku akan hilang, atau tidak bisa menghabiskan gaji untuk kepentingan pribadi. Takut akan kehilangan teman, dan aku
usahakan tidak melupakan teman dan sahabat lama ku, atau memotong waktu aku santai,
ke mall kumpul sama temen, aku cukup memotongnya, jangan menghilangkannya. Juga jangan terlalu membatasi pertemuan pacar dengan
teman-temannya, jadi ya seimbang kan?
Tapi lagi-lagi aku harus buang jauh-jauh semua pikiran itu.
Menikah memang akan merubah kehidupan aku dan dia, hilangnya sebagian kebebasan
karena munculnya tanggungjawab baru. Sudah tidak melihat ke belakang mereka yang pernah ada dihidupku, Karena aku sudah memiliki pasangan yang
akan mengagumi ku seumur hidup, belum lagi anak-anak tercinta yang juga akan
menjadi pengagum setia ku kelak.
Aku hanya bisa melihat sisi positif dari
pernikahan, setidaknya aku tidak sendirian lagi dalam menjalani kehidupan ini.
Aku akan memiliki teman dalam menyelesaikan segala masalah, menemani dalam suka
maupun duka.
Takut Belum Bisa Jadi
Isteri Yang Terbaik
Kalo menurut aku sih
wajar aja merasa ngga percaya sama diri sendiri. Apalagi ini pertama kalinya
menjadi seorang isteri. Tapi aku yakin, selama aku bisa dan ada kemauan untuk belajar itu yang utama dan
terkadang ada pengorbanan disana, dari hal yang simpel. Meskipun memang, dia
menerima aku apa adanya dengan keterbatasan aku yang belum bisa sepenuhnya
menjadi ‘ibu rumah tangga’ tapi aku tetap harus belajar. Aku belum ngerasain menjadi seorang isteri, tapi mengutip
dari perkataan mama ku “gak ada pernikahan yang sempurna”.... just do our best,
right?.
Perjuangan buat ngeyakinin Orang tua aja itu udah berat lho!!!
jadi jangan mundur lagi. Yakin aja sama pilihan ku, sama hati ku, dan sama
cinta aku dan dia.
Menurut ku sindrom
pranikah itu biasa, karena baru pertama merasakan dalam hidup, aku mencoba
untuk tidak panik biarkan berjalan apa adanya karena aku tentunya tidak sendiri.
Biasanya keluarga pihak laki dan perempuan akan banyak ikut campur untuk hari H tersebut. Untuk menghindari mis komunikasi, biasanya aku selalu mengikutsertakan pendapat dari keluarga pacar, terutama ibu. Dan Alhamdulillah.. aku mempunyai dua keluarga yang benar-benar mengerti mau ku seperti apa. Seperti dalam memilih undangan, souvenir, seserahan atau bahkan isi kamar sekalipun ibu mempercayakan semuanya kepada ku. Begitu juga pacar yang memang sudah tau pilihan aku, dia benar-benar menginginkan apa yang aku mau. Jadi semua yaa ‘terserah aku’.
Penyebab syndrome muncul biasanya seperti ini nih:
1.
Belum benar-benar siap untuk menikah.
2.
Takut akan tanggung jawab baru baik sebagai suami / istri
terlebih menjadi bapak / ibu
3.
Belum siap untuk punya anak.
4.
Hilangnya perasaan kepada pasangan
5.
Kejenuhan pada salah satu calon mempelai atau keduanya.
6. Kedua calon mempelai membayangkan indahnya pernikahan, tapi
terkadang tanpa belajar untuk siap menerima kekurangan-kekurangan dari orang
yang kelak menikah dengannya, akibatnya menjelang pernikahan berlangsung muncul
rasa gamang dan ragu terhadap pasangannya.
7.
Takut tidak bisa menafkahi pasangan (biasanya cowok kena syndrom
ini).
8.
Kekahawatiran akan kehilangan kebebasan individual jika menikah
(merasa terkekang)
9.
Merasa tidak biasa dan tidak nyaman berpindah dari comfort zone
ke uncomfort zone
10.
Khawatir pasangan kita bukan yang terbaik, khawatir di luar sana
justru ada true love dan jodoh kita yang menanti
11.
Yang paling BAHAYA adalah jika sempet berpikir, “bagaimana kalau
gagal, kalau sampai nanti ga cocok dan cerai??” (nikahnya belum tapi merencanakan
cerainya sudah).
And so on..so on.. semakin numpuk pikiran yang negative, yaa
semakun runtuh lah dinding keyakinan kita.
Jika ditelusuri dan dicari maka seribu macam alasan dan
kekhawatiran akan bisa ditulis, jika ditulis dalam gulungan tissue toilet
mungkin juga kurang hahaha, tapi intinya adalah bukan mengenai alasan,
kekhawatiran dan ketakutan ku, tapi bagaimana justru ketakutan itu bisa di
antisipasi sehingga berubah menjadi sebuah semangat menyongsong hidup baru
dengan pasangan ku.
0 komentar:
Posting Komentar