Senin, 07 April 2014

Syndrom Pranikah

Diposting oleh Unknown di 14.57
Sebagian besar calon pengantin mungkin akan mengalami fase ini. Begitupun aku, fase di mana aku akan merasakan keraguan terhadap pasangan, sampai mengalami “percekcokan” dalam keluarga. Semua yang terjadi dalam fase ini membuat aku berpikir ulang, “Apakah aku harus meneruskan pernikahan ini?”.

Tidak bisa dipungkiri memang sindrom pranikah dapat membawa aku pada pikiran-pikiran negatif. Namun semua kejadian dalam fase menjelang pernikahan ini tentunya akan memberikan pelajaran baru bagi aku dan di kehidupan yang akan datang.
Is He The Right Man?
Apakah dia pria yang tepat untuk aku? Apakah ia akan setia atau tidak? Apakah aku siap menghabiskan waktu dengannya seumur hidup? Pertanyaan ini sering muncul dalam benak para calon pengantin dan tentunya dalam benakku juga. Belum lagi sekarang banyak sekali pasangan yang bercerai, ditambah munculnya rasa penasaran, “Mungkin ada lelaki yang jauh lebih baik dan tampan di luar sana.” Tidak bisa dipungkiri memang, terlintas kalimat-kalimat yang membuat ragu memang ada.
Bahkan keraguan-keraguan tersebut mampu membuat aku terjaga semalaman. Tapi jika keraguan itu datang lagi, aku hanya bisa tetap meneguhkan hatiku untuk tetap bersamanya. Aku yakin dengan keputusan ku bahwa memang dialah yang tepat untuk menjadi teman hidup ku. Dan bahwasannya tidak ada yang sempurna di dunia ini, dan walaupun dia tidak seperti yang aku harapkan, namun siapa tahu ternyata memang dia yang terbaik untukku.

Selamat Tinggal Kebebasan
Keraguan terkadang muncul akibat diri sendiri,salah satunya tidak siap menyandang status “telah menikah.” Khawatir setelah menikah maka kebebasan aku akan hilang, atau tidak bisa menghabiskan gaji untuk kepentingan pribadi. Takut akan kehilangan teman, dan aku usahakan tidak melupakan teman dan sahabat lama ku, atau memotong waktu aku santai, ke mall kumpul sama temen, aku cukup memotongnya, jangan menghilangkannya.  Juga jangan  terlalu membatasi pertemuan pacar dengan teman-temannya,  jadi  ya seimbang kan?
Tapi lagi-lagi aku harus buang jauh-jauh semua pikiran itu. Menikah memang akan merubah kehidupan aku dan dia, hilangnya sebagian kebebasan karena munculnya tanggungjawab baru. Sudah tidak melihat ke belakang mereka yang pernah ada dihidupku, Karena aku sudah memiliki pasangan yang akan mengagumi ku seumur hidup, belum lagi anak-anak tercinta yang juga akan menjadi pengagum setia ku kelak.
Aku hanya bisa melihat sisi positif dari pernikahan, setidaknya aku tidak sendirian lagi dalam menjalani kehidupan ini. Aku akan memiliki teman dalam menyelesaikan segala masalah, menemani dalam suka maupun duka.

Takut Belum Bisa Jadi Isteri Yang Terbaik
Kalo menurut aku sih wajar aja merasa ngga percaya sama diri sendiri. Apalagi ini pertama kalinya menjadi seorang isteri. Tapi aku yakin, selama aku bisa dan ada kemauan untuk belajar itu yang utama dan terkadang ada pengorbanan disana, dari hal yang simpel. Meskipun memang, dia menerima aku apa adanya dengan keterbatasan aku yang belum bisa sepenuhnya menjadi ‘ibu rumah tangga’ tapi aku tetap harus belajar. Aku belum ngerasain menjadi seorang isteri, tapi mengutip dari perkataan mama ku “gak ada pernikahan yang sempurna”.... just do our best, right?.
Perjuangan buat ngeyakinin Orang tua aja itu udah berat lho!!! jadi jangan mundur lagi. Yakin aja sama pilihan ku, sama hati ku, dan sama cinta aku dan dia.

Menurut ku sindrom pranikah itu biasa, karena baru pertama merasakan dalam hidup, aku mencoba untuk tidak panik biarkan berjalan apa adanya karena aku tentunya tidak sendiri.

Biasanya keluarga pihak laki dan perempuan akan banyak ikut campur untuk hari H tersebut. Untuk menghindari mis komunikasi, biasanya aku selalu mengikutsertakan pendapat dari keluarga pacar, terutama ibu. Dan Alhamdulillah.. aku mempunyai dua keluarga yang benar-benar mengerti mau ku seperti apa. Seperti dalam memilih undangan, souvenir, seserahan atau bahkan isi kamar sekalipun ibu mempercayakan semuanya kepada ku. Begitu juga pacar yang memang sudah tau pilihan aku, dia benar-benar menginginkan apa yang aku mau. Jadi semua yaa ‘terserah aku’.

Penyebab syndrome muncul biasanya seperti ini nih:
1.       Belum benar-benar siap untuk menikah.
2.       Takut akan tanggung jawab baru baik sebagai suami / istri terlebih menjadi bapak / ibu
3.      Belum siap untuk punya anak.
4.      Hilangnya perasaan kepada pasangan
5.      Kejenuhan pada salah satu calon mempelai atau keduanya.
6.     Kedua calon mempelai membayangkan indahnya pernikahan, tapi terkadang tanpa belajar untuk siap menerima kekurangan-kekurangan dari orang yang kelak menikah dengannya, akibatnya menjelang pernikahan berlangsung muncul rasa gamang dan ragu terhadap pasangannya.
7.      Takut tidak bisa menafkahi pasangan (biasanya cowok kena syndrom ini).
8.      Kekahawatiran akan kehilangan kebebasan individual jika menikah (merasa terkekang)
9.      Merasa tidak biasa dan tidak nyaman berpindah dari comfort zone ke uncomfort zone
10.   Khawatir pasangan kita bukan yang terbaik, khawatir di luar sana justru ada true love dan jodoh kita yang menanti
11.    Yang paling BAHAYA adalah jika sempet berpikir, “bagaimana kalau gagal, kalau sampai nanti ga cocok dan cerai??” (nikahnya belum tapi merencanakan cerainya sudah).
And so on..so on.. semakin numpuk pikiran yang negative, yaa semakun runtuh lah dinding keyakinan kita.
Jika ditelusuri dan dicari maka seribu macam alasan dan kekhawatiran akan bisa ditulis, jika ditulis dalam gulungan tissue toilet mungkin juga kurang hahaha, tapi intinya adalah bukan mengenai alasan, kekhawatiran dan ketakutan ku, tapi bagaimana justru ketakutan itu bisa di antisipasi sehingga berubah menjadi sebuah semangat menyongsong hidup baru dengan pasangan ku.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos