Jumat, 11 April 2014

The Past will become My Future

Diposting oleh Unknown di 14.46
Apa yang akan kamu lakukan jika suatu saat nanti seseorang dari masa lalu mu hadir kembali dan menginginkan kamu untuk mendampingi hidupnya? Aku yakin kamu akan merasa terdiam sejenak untuk berpikir ulang apa yang sudah dia lakukan didalam hidupmu. Kamu akan menarik nafas yang panjang dan menghembuskan secara perlahan lalu menjawab “hah?” dengan wajah yang innocent. Berharap tidak terjadi apa-apa pada detik itu dan kamu berharap itu adalah lelucon yang paling tidak masuk akal. Karena itu yang aku lakukan saat dia mengucapkan “gue mau ngelamar lo taun ini”. . And Yes. He’s the same man who would merry me. The same man who I saw when I pray at mosque fifteen years ago. The same man who have the feeling same with me that you and me is a  first love. No matter how far the distance separating us at the time, and finally we meet here again, in Bandung.

Aku pernah menulis tentang dia. Aku pernah menulis seberapa rindunya aku saat aku ditinggal pergi keluar kota bahkan laut pun memisahkan jarak antara aku dan dia. Aku pernah menulis seberapa sakitnya mencintai seseorang yang tak kunjung hadir dalam hidupku saat aku membutuhkannya. Dan Aku pun pernah menulis tentang cerita saat aku dilamar dimakan boscha. Hampir semua tulisanku dengan inspirasi yang sama, dia. Kita pernah merasa kehilangan, bahkan aku merasakan yang kesekian kalinya hingga (untukku) kehilangan sudah menjadi hal yang biasa. Dia yang hobi selalu datang dan pergi dalam hidup ku. Tapi anehnya when I need help he always comes whenever and wherever I need him. Anytime.

Tapi sekali lagi, who knows Allah’s plan? Tuhan yang akhirnya menentukan semuanya. Aku hanya bisa melewati masa lalu ku dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dalam hidupku. Tapi aku belajar, bahwasannya mereka membuatku belajar apa arti dari kesetiaan dan kepercayaan.  Bahwasannya hidup bukan selalu tentang cinta. Bahwasannya hidup merupakan fase dimana kita terus belajar menjadi yang terbaik. Dan pada akhirnya kita akan menemukan orang yang tepat dalam hidup kita. Jika memang Tuhan menghendaki, kenapa tidak?. Percayalah, dalam hidup tidak selalu berisi cerita tentang orang yang membuat hatimu sakit. Belajar mengambil sikap bahwa semua itu proses pembentukan diri menjadi yang lebih baik. Aku tidak tahu apa-apa tentang hidup, tapi ini yang aku jalani; berusaha mengambil arti dari setiap kejadian.
Tidak dipungkiri, aku sering merasakan sakit tentang cinta, tentang merelakan lelaki yang pindah ke lain hati, tentang lelaki yang menjauh hingga pergi dan tidak kembali, tentang lelaki yang merubah diriku sebenarnya dan membuat aku menjadi apa yang dia inginkan, tentang lelaki yang membosannkan hingga aku yang menjauh, tentang lelaki yang terlalu keras dan pada akhirnya kita berpisah, tentang lelaki yang aku tinggalkan tanpa sebab. Dan mereka lah yang membuat aku seperti sekarang. Mungkin, jika aku tidak merelakan mereka, aku tidak akan seperti ini. Terjebak di dalam hubungan dengan orang salah itu menyebalkan. Cobalah berfikir realistis, karena apapun yang lelaki itu punya (wajah, harta, title, atau apapun) tidak akan menjamin hidupmu bahagia jika kamu merasa tidak nyaman dengan hubungan yang kamu jalani. Memutuskan sesuatu didalam hidupmu adalah hak mu. Bahkan memutuskan dengan siapa nantinya kamu akan menghabiskan waktu seumur hidup pun, itu hak mu.

Memang, hidup tidak selalu Happy Ending tapi setidaknya berada disamping orang yang tepat membuat kamu merasa kamulah Happy Ending-nya. Seperti halnya dia yang aku selalu aku tanyakan “kenapa milih gue?” dan dia menjawab “karena cinta”. Jika aku tanyakan lagi mengenai cinta, ini yang dia akan katakan: “ngga tahu”. Aku menyadari satu hal; cinta sejati itu tidak pernah ada alasan. Tidak ada alasan mengapa-aku-mencintainya. Sampai detik inipun jika aku menyinggung “kalau kita ngga jodoh gimana?” dan dia menjawab “ngga mau tau. Gue Cuma mau elo. Titik. Awas aja lo kabur”. Lucu ya… dia tetap bersikeras bagaimanapun caranya, aku harus menjadi cinta terakhirnya. Lelaki yang memperjuangkan aku untuk membuatku bahagia. Lelaki yang menerimaku dengan segala keterbatasan ku. Lelaki yang mencintaiku dengan sederhana.


Sesederhana saat kita menghabiskan waktu bersama sambil menyesapi secangkir kopi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Story From a Silly Life Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos