Apa
yang akan kamu lakukan jika suatu saat nanti seseorang dari masa lalu mu hadir
kembali dan menginginkan kamu untuk mendampingi hidupnya? Aku yakin kamu akan
merasa terdiam sejenak untuk berpikir ulang apa yang sudah dia lakukan didalam
hidupmu. Kamu akan menarik nafas yang panjang dan menghembuskan secara perlahan
lalu menjawab “hah?” dengan wajah yang innocent.
Berharap tidak terjadi apa-apa pada detik itu dan kamu berharap itu adalah
lelucon yang paling tidak masuk akal. Karena itu yang aku lakukan saat dia
mengucapkan “gue mau ngelamar lo taun ini”. . And Yes. He’s the same man who would merry me. The same man who I saw
when I pray at mosque fifteen years ago. The same man who have the feeling same
with me that you and me is a first love.
No matter how far the distance separating us at the time, and finally we meet
here again, in Bandung.
Aku
pernah menulis tentang dia. Aku pernah menulis seberapa rindunya aku saat aku
ditinggal pergi keluar kota bahkan laut pun memisahkan jarak antara aku dan
dia. Aku pernah menulis seberapa sakitnya mencintai seseorang yang tak kunjung
hadir dalam hidupku saat aku membutuhkannya. Dan Aku pun pernah menulis tentang
cerita saat aku dilamar dimakan boscha. Hampir semua tulisanku dengan inspirasi
yang sama, dia. Kita pernah merasa kehilangan, bahkan aku merasakan yang
kesekian kalinya hingga (untukku) kehilangan sudah menjadi hal yang biasa. Dia yang
hobi selalu datang dan pergi dalam hidup ku. Tapi anehnya when I need help he always comes whenever and wherever I need him. Anytime.
Tapi
sekali lagi, who knows Allah’s plan?
Tuhan yang akhirnya menentukan semuanya. Aku hanya bisa melewati masa lalu ku
dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dalam hidupku. Tapi aku belajar,
bahwasannya mereka membuatku belajar apa arti dari kesetiaan dan kepercayaan. Bahwasannya hidup bukan selalu tentang cinta. Bahwasannya
hidup merupakan fase dimana kita terus belajar menjadi yang terbaik. Dan pada
akhirnya kita akan menemukan orang yang tepat dalam hidup kita. Jika memang
Tuhan menghendaki, kenapa tidak?. Percayalah, dalam hidup tidak selalu berisi
cerita tentang orang yang membuat hatimu sakit. Belajar mengambil sikap bahwa
semua itu proses pembentukan diri menjadi yang lebih baik. Aku tidak tahu
apa-apa tentang hidup, tapi ini yang aku jalani; berusaha mengambil arti dari
setiap kejadian.
Tidak
dipungkiri, aku sering merasakan sakit tentang cinta, tentang merelakan lelaki yang
pindah ke lain hati, tentang lelaki yang menjauh hingga pergi dan tidak
kembali, tentang lelaki yang merubah diriku sebenarnya dan membuat aku menjadi
apa yang dia inginkan, tentang lelaki yang membosannkan hingga aku yang
menjauh, tentang lelaki yang terlalu keras dan pada akhirnya kita berpisah,
tentang lelaki yang aku tinggalkan tanpa sebab. Dan mereka lah yang membuat aku
seperti sekarang. Mungkin, jika aku tidak merelakan mereka, aku tidak akan
seperti ini. Terjebak di dalam hubungan dengan orang salah itu menyebalkan. Cobalah
berfikir realistis, karena apapun yang lelaki itu punya (wajah, harta, title,
atau apapun) tidak akan menjamin hidupmu bahagia jika kamu merasa tidak nyaman
dengan hubungan yang kamu jalani. Memutuskan
sesuatu didalam hidupmu adalah hak mu. Bahkan memutuskan dengan siapa nantinya
kamu akan menghabiskan waktu seumur hidup pun, itu hak mu.
Memang,
hidup tidak selalu Happy Ending tapi
setidaknya berada disamping orang yang tepat membuat kamu merasa kamulah Happy Ending-nya. Seperti halnya dia
yang aku selalu aku tanyakan “kenapa milih gue?” dan dia menjawab “karena cinta”.
Jika aku tanyakan lagi mengenai cinta, ini yang dia akan katakan: “ngga tahu”. Aku
menyadari satu hal; cinta sejati itu tidak pernah ada alasan. Tidak ada alasan
mengapa-aku-mencintainya. Sampai detik inipun jika aku menyinggung “kalau kita
ngga jodoh gimana?” dan dia menjawab “ngga mau tau. Gue Cuma mau elo. Titik. Awas
aja lo kabur”. Lucu ya… dia tetap bersikeras bagaimanapun caranya, aku harus
menjadi cinta terakhirnya. Lelaki yang memperjuangkan aku untuk membuatku
bahagia. Lelaki yang menerimaku dengan segala keterbatasan ku. Lelaki yang
mencintaiku dengan sederhana.
Sesederhana
saat kita menghabiskan waktu bersama sambil menyesapi secangkir kopi.
0 komentar:
Posting Komentar